MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Pilihan Para Istri


__ADS_3

Setelah menikmati makan malamnya, Jiwo beranjak menuju ruang tamu. Tak lupa dia masuk sejenak ke dalam kamarnya mengambil tas yang berisi rokok serta buku catatan barang yang baru saja dia beli. Di ruang tamu, beberapa istrinya juga sudah berada disana memilah sisa barang yang masih berada dalam karung.


"Belum selesai semua, Dek?" tanya Jiwo sembari duduk di atas karpet bersama para istri di antara tumpukan barang dagangannya.


"Tinggal dua karung, Mister. Perasaan belanja kali ini sangat banyak ya?" tanya Alena sambil merapikan benang jahitan yang terlihat menjuntai di beberapa celana kolor.


"Iya, karena banyak model yang baru."


"Ini daftar nama dan harganya mana, Mister?" tanya Arin.


Jiwo lantas membuka tas slempangnya dan mengeluarkan setumpuk nota. "Nih sesuaikan aja dengan namanya, lalu jumlahnya ada berapa terus dibagi dengan harga pokok pembelian, baru menentukan harga jual."


Arin menerima tumpukan nota tersebut, lalu para istri mengambil selembar demi selembar dari masing masing jenis barang.


"Ini daster kasandra setengah kodi harganya empat ratus delapan puluh ribu, berarti harga pokok satuannya empat puluh delapan ribu, harga jualnya berapa, Mister? Lima puluh lima ribu atau enam puluh?" tanya Andin.


"Jangan. Kita kasih harga jual enam puluh tiga ribu, pasti nanti pembeli minta potongan harga tuh, nah kita kasih potongan tiga ribu."


"Terus kalau yang beli untuk dijual lagi, kasih harga berapa?"


"Nah kalau itu kita kasih harga lima puluh lima ribu."


Bukan hanya Arin yang nampak mengerti dengan apa yang dijelaskan Jiwo, begitu juga dengan istri yang lain. Biar bagaimanapun semua istri Jiwo harus tahu semua harga yang dicantumkan setiap barang. Agar tidak lupa, Jiwo juga meminta salah satu istrinya untuk membuat cacatan.


Mereka terlihat sangat serius dalam menangani barang dagangan yang saat ini menjadi sumber rejeki mereka. Berkat kerja sama yang baik, semua pekerjaan pun selesai dengan cepat. Semua baranga yang sudah dikasih harga jualnya, kembali dirapikan dan dimasukkan ke dalam karung.

__ADS_1


"Bagaimana? Apa kalian sudah mengambil keputusan tentang apa yang kita bicarakan tadi siang?" tanya Jiwo setelah menyeruput kopinya yang sudah dingin dan tinggal seperempat gelas.


"Sudah, Mister. Kami memutuskan, nama Aisyab saja yang mewakili kami untuk peresmian pernikahan, Mister."


"Aisyah? Alasannya?"


"Ya bagi kami, sebelum mengenal Mister, Aisyahlah yang menjadi pelindung kami saat kami sama sama diculik. Aisyah juga yang selalu membimbing kami. Selain keahliannya dalam mengolah masakan yang enak."


Jiwo nampak manggut manggut mendengar penjelasan salah satu istrinya. "Baiklah, jika memang itu keputusan kalian. Tapi ingat, di dalam hatiku, posisi kalian sama. Istimewa!"


"Baik, Mister."


Dan semuanya saling melempar senyum. Ada kelegaan dalam hati Jiwo saat ini. Setidaknya sampai detik ini, Jiwo masih bisa menjaga perasaan para istrinya. Setelah semuanya benar benar selesai, satu persatu istri Jiwo memasuki kamarnya. Tinggalah di ruang tamu, Jiwo dan dua istrinya, Aziza dan Andin. Ketiganya sekarang duduk berdampingan dengan posisi Jiwo berada ditengah.


"Berarti besok, kita belum bisa jualan ya, Mister?" tanya Andin sambil memainkan jari tangan suaminya.


"Emang Rizal siapa sih? Saudara Mister juga?" tanya Aziza.


"Rizal masih sepupu aku, sepupu jauh sih sebenarnya. Nikah sama janda kaya raya dari ibu kota. Dulunya dia supir pribadi, eh malah nikah sama majikanya."


"Hah! Berarti Rizal perebut istri orang dong?"


"Ya bisa dibilang begitu. Tapi dibalik itu semua pastinya ada cerita yang mendasari terjadinya perselingkuhan itu. Dengar dengar sih katanya, karena suami dari majikannya itu penyuka sesama, jadi sang istri selingkuh. Di tambah lagi katanya sejak nikah, istrinya itu belum pernah disentuh, makanya makin mudah jalan perselingkuhan mereka."


"Wow! Ceritannya unik amat? Cocok tuh dibikin cerita novel atau film."

__ADS_1


"Ngeri juga ya? Semoga saja, Mister nggak ada niat untuk selingkuh."


"Loh, kok jadi aku yang kena?" ucap Jiwo agak kaget. Andin sontak tersenyum lebar. "Punya istri kalian aja susah lebih dari cukup. Ngapaian harus selingkuh. Justru aku yang seharusnya takut."


"Mister takut? Takut kenapa?"


"Ya takut aja kalau kalian yang bakal selingkuh nantinya. Secara kalian cantik cantik, Di sentuh suami jarang banget, sampe nunggu giliran, itu yang aku takutkan."


"Apa mungkin aku bisa selingkuh? Kalau suami aku aja hebatnya bukan main."


"Benar, mana mungkin kita mau selingkuh jika di rumah ada yang halal, perkasa dan memuaskan."


"Hahaha ... kalian bisa aja."


"Mister pindah ke kamar yuk? Udah kangen sama bau ketiak Mister," rengek Andin.


"iya, Mister, aku juga kangen," sambung Aziza.


"Cuma kangen bau ketiak aja nih? Isi celananya enggak kangen?"


"Ya kangen juga. Ayo, Mister cepet masuk kamar. Udah gatal banget ini."


"Iya, Sayang, Iya."


Dan ketiganya langsung beranjak untuk melakukan perang yang penuh rasa nikmat.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2