MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Akhir Yang Bahagia


__ADS_3

Dung tang tang dung tang! Dung tang tang dung tang!


Gema suara dari grup hadroh menyeruak sepanjang jalan mengiringi perjalanan beberapa kuda yang membawa anak laki laki berbeda usia, berbusana ala orang arab menuju rumah mereka dari tempat praktek dokter hitan. Anak laki laki beragam usia dari enam tahun hingga delapan tahun itu merupakan anak dari seroang pria yang memiliki tiga belas istri.


Dialah Jiwo. Tanpa terasa sudah sepuluh tahun usia pernikahannya dengan tiga belas wanita. Meski pada awal pernikahan mereka tanpa adanya rasa cinta, tapi berkat ketulusan saling menerima dan memahami satu sama lain, Jiwo beserta ketiga belas istrinya mampu bertahan hingga detik ini.


Kini, Jiwo sudah memiliki dua puluh tiga anak dari tiga belas istrinya. Dari tujuh istrinya masing masing dua anak, tiga istrinya melahirkan anak kembar dan tiga istri yang lain baru memberi masing masing satu anak.


Rumah Jiwo pun kini semakin besar dan luas. Usahanya juga kian bertambah maju. Sekarang, Jiwo sudah memilili tiga toko baju dan dan dua toko makanan. Karena harga yang murah, toko baju milik Jiwo selalu terlihat ramai. Toko baju Jiwo tersebar di tiga pasar yang berbeda. Toko bajunya juga menjadi tempat belanja buat orang orang yang ingin menjualnya kembali.


Begitu juga dengan toko jajanannya. Kue kue bikinan istri istri Jiwo juga selalu diserbu penikmatnya. Sekarang bukan hanya aisyah yang pandai membuat berbagai jenis kue dan jajanan lainnnya, istri istri Jiwo yang lain juga sudah jago membuat jajanan yang enak. Mungkin karena terbiasa kerja sama, jadi tanpa terasa istri istri Jiwo mempelajari cara membuat kue dan jajanan yang enak.


Saat ini Jiwo sedang merayakan pesta khitan anak anaknya. Sudah tiga hari pesta itu berlangsung, tapi tamu yang berdatangan masih aja terlihat ramai. Mungkin karena nama Jiwo sudah terkenal maka yang datang begitu membludak tiap harinya. Padahal Jiwo menyebar undangan kurang dari dua ribu orang saja.


"Mak," panggil Jiwo pada wanita yang semakin terlihat tua seiring waktu berjalan. "Emak duduk aja, jangan ikutan sibuk."


"Emak langsung mengulas senyum. "Tidak apa apa. Orang Emak masih sehat."


"Justru itu, agar Emak semakin sehat, Emak duduk saja. Aku nggak mau Emak sakit. Aku ingin Emak terus sehat sampai cucu Emak pada nikah nanti. Jadi Emak nurut aja deh."


Emak akhirnya pasrah. Harapan dia juga sama seperti anaknya. Bisa melihat cucu cucunya tumbuh dewasa. Emak kembali duduk di kursi sedangkan Jiwo kembali menyapa tamu bersama istri istrinya.


"Eh, Mas Jaka, Mbak Melati, udah lama?" sapa Aisyah. dia kenal kedua orang itu karena aisyah sudah menjadi langganan di toko mereka.


"Baru saja datang, Mbak Ais," jawab Melati.

__ADS_1


"Silakan dinikmati hidangannya, Mbak."


"Iya, tenang aja. Pasti ini bikinan sendiri ya?" tanya Melati sambil mencomot kue kering dalam toples.


"Iya, Mbak."


"Wah! pantes enak. Istri istri Mas Jiwo memang jago bikin makanan enak," puji Melati.


"Hehehe bisa aja, Mbak. Ya alhamdulillah, mereka punya bakat dan kemauan, jadi sebagai suami, aku hanya bisa mendukung," ucap Jiwo.


"Benar, Mas, asal tujuannya baik, kita sebagai suami wajib mendukung keinginan istri kita," Jaka menimpali dan Jiwo langsung membenarkan ucapan Jaka.


"Eh, Mbak Melati, boleh tanya?" ucap Alifa.


"Silakan, Mbak, tanya apa?"


"Ibu!" pekik Jiwo pelan pada istrinya.


"Hehehe ... Maaf, Ayah. Bukannya Ibu naksir sama suaminya Mbak Melati, tapi lihat, padahal Mbak Melati dan Mas Jaka sudah memilki empat anak, tapi Mas Jaka, tampannya nggak ilang ilang, malah makin menjadi."


"Ibu! Emang ayah nggak tampan apa gimana? Bisa bisanya muji suami orang di depan suami sendiri," sungut Jiwo tak terima.


"Dih! Gitu aja, Ayah cemburu," cibir Anisa dan semuanya tertawa termasuk pasangan Jaka dan Melati.


"Ya ketar ketir pasti ada, Mbak. Tapi untungnya Mas Jaka setianya nggak kaleng kaleng, jadi aku bisa tenang," jawab Melati.

__ADS_1


"Eh, Ayah," panggil Alina. "Bagaimana kalau kita jodohkan saja anak anak kita dengan anak anak Mbak Melati."


"Ya ampun, Bu. Mereka masih kecil, ada ada aja, Ibu ih. Anak anak Mas Jaka juga masih kecil kecil, paling gede baru masuk SMP ya, Mas?"


"Iya, baru tahun ini masuk," jawab Jaka.


"Nah tuh denger. Pada masih kecil." Semua kembali tertawa hingga mereka mendengar suara grup hadroh yang menenami anak anak Jiwo kembali.


"Eh, anak anak udah pulang itu, Mas Jaka tinggal bentar yah?"


"Silakan, Mas Jiwo."


Jiwo dan para istri segera menyambut anak anak mereka yang baru saja dikhitan. Wajah wajah mereka tampak begitu bahagia. Terutama wajah sang kepala rumah tangga.


Sujiwo Bagaskoro, pria yang pernah mengalami hinaan dan ketepurukan, akhirnya menemukan kebahagiaan saat memutuskan menikahi tiga belas wanita yang dia tolong.


Selamat berbahagia Jiwo, semoga kisahmu abadi di hati pembacamu


...》》》》》》 T A M A T 《《《《《《...


Tidak terasa, tiga bulan kisah ini barlangsung, akhirnya telah sampai pada ujungnya. Terima kasih buat semua mengikuti dan mendukung kisah ini dari awal. Terima kasih juga yang sudah memberi saran dan masukkan.


Jika ada yang bertanya, kisah ini sebenarnya dapat ide dari mana? Kisah ini terinspirasi dari pria yang memiliki tiga puluh sembilan istri dari negara India. Kisah yang tersiar tahun 90'an.


Sebagai gantinya, jangan lupa kunjungi karya othor yang berjudul NEGERI SEJUTA PERAWAN dan satu karya baru yang akan meluncur esok hari, satu desember 2022 dengan judul DALAM SARANG JANDA JANDA MUDA. Terima kasih.

__ADS_1




__ADS_2