
Siapa orangnya yang tidak terkejut jika pagi pagi mendapat hadiah sebanyak seratus juta? Pasti dia bakalan sangat terkejut dan bahagia. Begitu juga dengan apa yang Jiwo rasakan saat ini setelah dia mendapat kabar dari Pak Rt. Sejumlah uang seratus juta akan dihadiahkan kepada Jiwo beserta istrinya sebagai bentuk apresiasi pemerintah atas apa yang Jiwo lakukan kepada nasib pengungsi dari negara tetangga.
Uang seratus juta akan diserahkan oleh Bapak Gubernur melalui perwakilan desa karena Gubernur sendiri tidak bisa datang. Tentu saja Jiwo sangat senang dan memaklumi alasan Pak gubernur tidak menemuinya secara langsung langsung karena beliau orang sibuk. Para istri Jiwo pun tak kalah bahagianya mendapat kabar seperti itu.
"Waah! Selamat ya, Mister? Udah jadi orang kaya!" seru Andin dengan wajah nampak ceria.
"Orang kaya aapan sih, Sayang. Ini kan uang kalian juga. Kalian yang simpen ya? Buat kebutuhan kalian nanti,"balas Jiwo.
"Nggak perlu, Mister. Pegang Mister aja," tolak Aisyah.
"Loh, kenapa, Sayang? Kalian itu nggak pernah pegang uang loh," balas Jiwo dengan memasang wajah heran.
"Kita pegang uang kok, dan uang kita cukup," kini Alifa yang bersuara.
"Ya tapi kan kalian juga butuh lebih, itu kan cuma uang jajan?"
"Ya nanti kalau kita butuh sesuatu ya tinggal minta sama Mister. Udah nanti pegang Mister aja," Aziza ikut juga berkata.
"Baiklah," ucap Jiwo akhirnya pasrah. "Udah siang, yang mau ke pasar, kita berangkat sekarang."
"Siap!"
__ADS_1
Perdebatan kecil pun berakhir. Jiwo dan dua istrinya yaitu Anum dan Aziza segera meluncur ke pasar dengan mengendarai motor roda tiga yang biasa Jiwo gunakan untuk jualan keliling. Sebelum berangkat, seperti biasa, Jiwo memberi beberapa nasehat untuk para istrinya yang ada di rumah.
Sama seperti apa yang Jiwo perkirakan. Begitu sampai pasar, orang orang banyak yang menyambut kedatangan Jiwo dengan sangat antusias. Mereka langsung saja berkerumun hingga Jiwo dan dua istrinya kekusahan untuk berjalan maju menuju lapaknya.
"Tunggu bentar napa, Wo? Aku kan cuma pengin foto bareng," ucap salah satu pedagang yang tempat jualannya bersebelahan dengan tempat jualan Emak.
"Ya ampun, ibu. Kita kan tiap hari juga ketemu," balas Jiwo dengan penuh kesabaran.
"Tapi kan sekarang beda, kamu sudah menjadi artis, Wo."
"Hahaha ... beda apanya? Aku tetap sama, Bu. Jiwo si pedagang kolor keliling."
Jiwo hanya menimpalinya dengan senyuman. Meski lambat, akhirnya Jiwo dan dua istrinya sampai juga di lapak jualannya, dan mereka sangat kaget. Ternyata di sana juga sudah banyak orang yang menunggu. Dengan dalih ingin membeli barang yang dijual, mereka datang ke lapak karena penasaran dan pengin lihat lebih dekat, Jiwo dan para istrinya. Kebanyakan mereka datang dari desa yang berbeda jadi mereka sangat antusias.
Begitu lapak di buka, dan Jiwo beserta istri beres beres sebentar, para calon pembeli langsung saja menyerbu dan memilih barang yang mereka inginkan. Bahkan tempatnya begitu penuh sampai ada yang rela menunggu nunggu giliran. Dengan gesit, Jiwo, Anum dan Aziza melayani pembeli secara bergantian. Jiwo juga segera menelpon rumah memanggil istrinya yang lain untuk datang membantu.
"Ini serius? Dasternya harganya segini? Kok murah banget? Padahal bahannya adem loh," ungkap seorang ibu dengan wajah berbinar tak percaya saat mengetahui harga yang disebutkan.
"Benar, Bu, harganya segitu," balas Aziza dengan ramahnya.
"Waah! Barangnya bagus, harganya murah, penjualnya cantik lagi. Ya udah, aku beli tiga ya yang coraknya beda."
__ADS_1
"Baik, Bu. Nanti saya ambilkan dulu stoknya sebentar ya?" si Ibu mengangguk.
Satu persatu barang dagangan Jiwo mulai berkurang banyak. Jiwo bahkan menyuruh ojek pasar untuk mengambil barang dagangan hang ada di rumah. Mumpung lagi rame, barang yang biasa di jual keliling, Jiwo ambil buat tambahan barang yang di lapak. Tiga istri Jiwo yang lain juga datang. Mereka langsung saja membantu melayani pembeli dengan ramah.
"Ya ampun, Mas Jiwo. Istrinya beneran cantik cantik euy? Boleh minta satu nggak, Mas?" celetuk salah satu laki laki yang sambil memilih kolor.
"Jangan dong, Mas. Barang langka ini, nggak ada tandingannya," balas Jiwo sambil cengengesan.
"Jiah nggak ada tandingannya, tapi Mas Jiwo hebat loh, istrinya mau diajak hidup susah, aku salut loh," ucap pria itu.
"Benar, jaman sekarang dapat yang cantik terus mau diajak hidup susah," sambung pria yang lain dan sepertinya teman dari pria itu.
Jiwo hanya tersenyum lebar sambil terus melayani dua pria itu. Dia juga sangat bersyukur dipertemukan dengan istri istrinya.
Sementara itu di sisi pasar yang lain tidak jauh dari lapak Jiwo, seseorang yang memandang ke arah lapak Jiwo dengan penuh kebencian.
"Sialan! Malah makin rame aja si belagu!"
"Iya,
...@@@@@...
__ADS_1