MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Viral


__ADS_3

Plok! Plok! Plok!


Suara seperti seseorang sedang bertepuk tangan menggema di seluruh ruang kamar dalam sebuah rumah. Di saat penghuni rumah lainnya sudah terlelap dan terbuai mimpi, tapi di dalam kamar itu, justru suara rintihan nikmat keluar dari dua mulut yang sedang saling tindih. Badan keduanya penuh keringat, kadang mereka meracau dan meluapkan semua rasa nikmat yang sedang merasuki dua tubuh tanpa busana.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas lebih lima belas menit, tapi permainan dua orang yang berstatus suami istri itu nampak belum ada tanda tanda akan berakhir. Keduanya justru nampak semakin bergelora saat dua benda di bawah perut mereka menyatu.


Ini adalah ronde kedua yang mereka lakukan setelah ronde pertama sukses besar dengan terkoyaknya mahkota sang istri. Meski kadang sang istri merintih kesakitan, tapi sang istri tidak mau suaminya berhenti menghujamkan benda menengang yang besar itu ke dalam lubang merah muda miliknya.


Hingga pada beberapa puluh menit kemudian tubuh keduanya menegang dan mengejang. Mereka memekik kencang bersama keluarnya air kental tanda cinta yang melebur jadi satu di dalam sana. Senyum keduanya terkembang, nafas mereka berpacu. Setelah tetesan nikmat tuntas, sang suami menjatuhkan badannya di samping kanan sang istri menghadap langit langit kamar. Begitu juga dengan apa yang dilakukan sang istri.


"Ternyata seperti ini rasanya malam pertama," gumam sang istri bernama Alina diantara deru nafasnya yang mulai beraturan.


"Kenapa? Udah nggak penasaran lagi kan, Sayang?" tanya Jiwo sekilas menoleh ke arah sang istri lalu kembali menatap langit.


"Belum, masih penasaran," bantah Alina.


"Astaga! Udah dua ronde loh? Masa masih penasaran juga?" tanya Jiwo dengan wajah terkejut.


"Ya kan belum merasakan gaya yang lainnya, Mister. Gaya aku duduk dipangkuan Mister, main sambil berdiri, gaya naik kuda. Masih banyak yang buat aku penasaran."

__ADS_1


"Hahaha ... kamu pasti sering nonton film dewasa ya, Dek? Kok tahu semua gaya yang dipraktekan?"


"Heeheh ... iseng aja, Mister. Dulu pernah nonton sama teman teman."


Jiwo tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya beberapa saat. "Ya udah, besok besok kita coba gaya kamu inginkan ya?"


"Yah, masih lama dong? Nunggu tiga belas malam lagi?"


"Enggak, nggak akan lama. Nanti kalau semua sudah merasakan malam pertama, jadwalnya aku ganti."


"Emang tinggal berapa yang belum merasakan sentuhan Mister?"


"Tinggal satu. Nanti kalau sudah semuanya, aku bakalan umumin kok. Sabar ya, Sayang?"


Alina mengiyakan serta kepalanya mengangguk tiga kali, lalu dia mendekat dan memeluk tubuh suaminya. "Ya udah aku tungguin."


"Baiklah, berhubung ini sudah sangat malam. Mending kita tidur aja, yuk?" Lagi lagi Alina hanya mampu menuruti suaminya. Keduanya terdiam dalam tubuh yang saling berpelukan. Satu selimut mentupi tubuh polos mereka. Hingga rasa kantuk tiba, keduanya terlelap dalam rasa bahagia.


Hari berganti lagi dan kesibukan yang sama terulang kembali. Emak jualan bersama tiga menantunya. Jiwo berkeliling bersama satu istrinya dan dua istri yang lain berjualan di lapak pada pukul delapan. Sisanya berada di rumah.

__ADS_1


Berita tentang postingan Jiwo dan istri istrinya sudah menyebar luas. Bahkan di saat Jiwo singgah di beberapa sudut kampung, banyak yang bertanya mengenai kabar tersebut. Jiwo begitu terkejut, saat dia ditunjukan postingan lainnya. Disana tertulis kalau Jiwo sengaja menikahi wanita pengungsi agar bisa memanfaatkan tenaganya.


Mungkin Jiwo bisa membantah pertanyaan para pembeli karena bertemu secara langsung dengan orang yang bersangkutan. Tapi Jiwo juga tidak dapat membendung komentar publik yang membludag dan banyak mengandung nyinyiran karena tidak mengetahui fakta yang sebenarnya.


"Kamu nggak balas hinaan mereka, Mas?" tanya salah satu ibu muda yang juga membaca berita itu.


"Percuma, Mbak. Dibalas juga mereka nggak bakalan percaya. Jadi biarin saja," jawab Jiwo dengan santainya.


"Bener, Mas. Yang penting Masnya tidak melakukan sesuatu seperti apa yang mereka katakan," ucap Ibu yang lain.


Kalau yang sudah tahu ceritanya memang seperti tidak ada yang peduli dengan berita itu. Bahkan di pasar, Emak dan istri Jiwo yang lainnya masih tenang dan menikmati jualan mereka. Meski ada juga orang pasar yang berbisik satu sama lain, tapi itu tidak mempengaruhi apa apa pada kegiatan Emak dan istri Jiwo di pasar.


Berbeda dengan seseorang yang berada di suatu gedung yang letaknya di pusat kota. Pimpinan dari orang orang yang ada di gedung tersebut terlihat murka dengan adanya kabar tentang Jiwo dan istri istrinya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Saya tidak mau warga negara saya diperbudak oleh warga negara ini! Kita harus usut tuntas kebenaran berita ini, mengerti?"


"Baik, Pak."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2