
Arum benar benar seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Apa yang disuruh suaminya dia nurut saja tanpa banyak protes. Disuruh memijat benda di bawah perut Jiwo, dia mau. Disuruh cium ketiak, dia mau, disuruh sedot salah satu dada Jiwo, dia juga mau. Entah karena Arum juga menikmati atau rasa patuhnya kepada suami, jadi Arum tidak bisa menolak perintah suaminya.
Sedangkan Jiwo, hatinya sedang bersorak riang gembira. Semua khayalan masa pubernya dulu, benar benar bisa dia wujudkan ketika sudah menikah. Saat masih muda, Jiwo memang selalu membayangkan hal hal nakal jika sedang bersama seorang wanita di dalam kamar. Dan semuanya terwujud, bukan hanya dengan satu wanita tapi tiga belas.
"Mister, ini mau sampai kapan?" tanya Arum dengan tangan yang masih melakukan gerakan naik turun sambil menggenggam benda yang sudah menegang milik suaminya. Arum masih tidak menyangka, ternyata milik Jiwo sangat besar ketika sedang menegang. Bahkan Arum sempat bergidig saat membayangkan benda segede itu merobek mahkotanya, pasti tidak butuh waktu lama langsung robek.
"Kamu sudah capek?" bukannya menjawab, Jiwo malah memberi pertanyaan balik.
"Apa Mister tidak lapar? Udah dibeliin pecel malah tidur," balas Arum.
Jiwo kembali tersenyum lebar. "Ya sudah berhenti saja dulu, lanjutkan nanti malam ya mainin punyaku itu."
Arum hanye berdecih, dan tangannya langsung melepaskan benda menegang suaminya. Arum menempelkan jari tangan yang tadi digunakan untuk memegang kejantanan suaminya ke dua lubang hidungnya.
"Kok baunya asem banget," ucap Arum sambil mengendus jari tangannya.
"Hahaha ... meski asem, baunya enak kan?" ucap Jiwo sembari terbahak. Arum bergidig lalu dia langsung keluar untuk cuci tangan. Jiwo hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan suara tawa yang berangsur meredup. Dia memakai kaos yang tadi sempat dibukanya dan sarung yang sudah teronggok di lantai.
Begitu keluar kamar, Jiwo langsung menuju meja makan. "Dek ambilin air buat cuci tangan dong!" teriak Jiwo kepada Arum yang masih di dapur.
"Ngapain sih, Wo, teriak teriak? Tinggal ke dapur aja, malas," sungut Emak yang sempat kaget oleh suara anaknya.
"Emang lagi malas, Mak," balas Jiwo sambil cengengesan.
__ADS_1
Arum datang dengan membawa mangkok berisi air untuk cuci tangan. Jiwo langsung mencuci tangannya sedangkan Arum mengambilkan nasi dan menyiapkan segala lauknya untuk sang suami.
Jiwo menyantap nasi lauk pecel dan rempeyek kacang dengan lahapnya. "Kamu nggak makan, Dek?"
"Nantilah ama yang lain, belum lapar juga," balas Arum sambil mencomot rempeyak buat cemilan.
"Emang nanti makan pake lauk apa?" tanya Jiwo disela sela menikmati makanannya.
"Tadi pas beli pecel, Aisyah sama Aziza lihat pete bagus bagus, jadi mereka beli buat di goreng dengan tahu dan tempe goreng tanpa tepung terus bikin sambal," balas Arum terdengar ceria.
"Astaga! Kenapa kalian jadi doyan makanan seperti itu? Emak yah yang ngajarin?"
Emak yang namanya disebut sontak melengos. "Ngapain Emak disebut sebut, orang kamu aja sering makan seperti itu di depan mereka," sungut Emak tak terima. Jiwo sontak cengengesan mendengarnya, begitu juga Arum.
"Banyak, Mister, ada sepuluh batang tadi."
"Astaga! Banyak benar? Kirain cuma beli beberapa aja."
"Ya kan paling nanti yang dimakan cuma beberapa, aku aja makan tiga butir pete udah cukup."
Jiwo manggut manggut sambil terus memasukan makanan ke mulutnya hingga habis. Setelah cuci tangan kembali, Jiwo beranjak menuju kamarnya sejenak buat mengambil rokok dan keluar kamar lagi menuju ruang tamu dimana istri istri Jiwo berada.
Jiwo duduk di salah satu kursi tamu, mengeluarkan batang rokok dan salah satu ujungnya diletakan diantara bibir lalu menyalakannya.
__ADS_1
"Arum sudah cerita belum kalau besok kita berangkat pasar bareng bareng ke lapak?" tanya Jiwo setelah menghembuskan asap rokok pertamanya.
"Sudah, Mister, tadi, berarti kita lusa sudah mulai jualan ya?" ucap Arin.
"Sudah, kalian sudah ngatur jadwal?"
"Sudah, Mister."
Sementara itu, disaat yang sama dari dalam sebuah rumah kontrakan, Hendrik juga sedang ngorbrol dengan dua anak buahnya. Topik obrolan mereka tidak lepas dari yang namanya tiga belas wanita. Entah rencana apa lagi yang akan Hendrik lakukan, yang pasti wajah mereka terlihat sangat serius.
"Apa Suryo nggak bisa bantuin kita, Bos?" tanya Wito disela sela obrolan mereka.
"Dia juga baru gagal ngirim anak buahnya," balas Hendrik.
"Tapi kan sepertinya dia masih aman. Suryo kan pejabat, Bos. Kenapa kita nggak menyuruh Suryo menggunakan koneksi dan kekuasannya, Bos?"
Kening Hendrik berkerut, "Maksud kamu?"
Wito lantas menceritakan rencananya. Hendrik dan Kamso mendengarnya dengan serius. Tak lama kemudian ketiganya tersenyum dengan lebar.
"Ide yang bagus, Wit, baiklah, aku akan menghubungi Suryo sekarang," ucap Hendrik antusias.
...@@@@@...
__ADS_1