
"Meskipun kita nikah siri, tapi banyak orang yang menjadi saksi dan kita juga dibimbing oleh pemuka agama. Apakah hal itu akan menjadi pelanggaran dimana pelakunya mendapat hukuman? Padahal kita tidak ada istilah mana istri pertama dan mana istri terakhir. Kita sama sama wanita yang memiliki satu suami. Apakah akan mendapat hukuman?"
Sekarang gantian pihak dari kedutaan yang saling pandang sesama rekannya untuk mencari jawaban dari pertanyaan yang Alifa ajukan dengan penjabaran yang sangat panjang. Entah belajar dari mana dia sehingga bisa memgatakan itu semua dengan lancar. Sedangkan Jiwo tersenyum tipis sembari menatap istri istrinya. Ada rasa bangga dalam hati Jiwo menyaksikan kecerdasan sang istri yang baru saja dia ketahui.
"Apa kalian tidak memikirkan nasib ke depannya bagaimana? Apa kalian tidak tahu kalau menikah siri itu sangat merugikan wanita, dan bisa saja hal itu juga akan merugikan anak yang lahir kelak, apakah kalian sudah memikirkan matang matang kemungkinan yang akan terjadi pada kalian dan keturunan kalian kelak akibat nikah siri?" tanya salah satu dari pihak keduaan kembali setelah terdiam beberapa saat.
Berbagai macam reaksi ditunjukkan oleh istri istri Jiwo lewat wajah mereka. Dari ketiga belas wanita itu rata rata terkejut dengan pertanyaan yang menurut mereka seperti sedang memojokkan. Dari pertanyaan yang diajukan, seakan mengandung pemaksaan kalau mereka sebaiknya menyerah dengan pernikahan tersebut.
Jiwo juga merasakan hal yang dengan para istrinya. Matanya menatap tajam ke arah seorang pria yang sedang tersenyum setelah melempar pertanyaan yang memojokkan para istri Jiwo.
"Anda mengkhawatirkan masa depan kami?" Aziza bertanya sembari menatap pria yang tadi menekan mereka dengan pertanyaan aneh.
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu, kenapa?" balas pria itu masih dengan senyum yang terlihat penuh kemenangan.
"Kenapa anda mengkhawatirkan masa depan kami? Sedangkan di pengungsian, saat kami kelaparan, apa anda khawatir? Saat kami diculik dan hampir saja dijual, apa anda khawatir juga? Saya yakin, saat itu anda sedang tidur nyenyak dan makan enak. Anda memberi pertanyaan seakan anda tahu masa depan kami akan bagaimana. Sekarang anda berada disini mengkhawatirkan masa depan kami, tapi apakah saat ini anda juga khawatir nasib para pengungsi bagaimana?"
Mendengar ucapan Aziza yang lumayan panjang, membuat senyum pria itu lenyap seketika, dan berubah menjadi wajah terkejut dengan hati yang tertohok.
"Benar, Pak. Biarlah masa depan kami menjadi urusan kami. Bukankah anda sekalian datang kesini hanya ingin melihat keadaan kami? Dan kami semua disini baik baik saja, Pak. Tidak seperti yang diberitakan dalam postingan tersebut," sambung Alana.
"Dan satu lagi, aku tambahin," Sela Alena. "Walaupun suami kita pria yang sama, tapi disini kita bisa bahagia. Kita bisa bebas dari trauma yang kami dapat akibat konflik dan tertekannya kami di pengungsian serta peristiwa penculikan yang kami alami. Seharusnya anda sekalian memandang kami dari sisi sebelah itu, bukan seakan menekan kami dengan masa depan pernikahan kami."
Semua nampak terkejut dengan ucapan istri istri Jiwo. Mereka benar benar jujur mengungkapkan semua isi hatinya tanpa rasa gentar atau canggung. Bahkan pria yang tadi menyinggung tentang pernikahan merasa malu dan tidak enak hati. Sedari tadi pria itu yang paling gencar menanyakan soal pernikahan bukan hal penting lainnya. Tapi hikmahnya, mereka jadi bisa menyimpulkan hal baik apa yang diterima istri istri Jiwo selama berada di rumah tersebut.
__ADS_1
Banyak juga yang berdecak kagum kepada suami dari tiga belas wanita. Mereka berpikir, Jiwo berhasil menjadi suami yang baik sehingga para wanita itu mau bertahan bahkan kompak tetap bersama sang suami. Laki laki mana yang tidak iri melihat kenyataan di depan mata mereka. memiliki tiga belas istri yang cantik dan cerdas.
"Berarti kalian akan bertahan disini?" tanya sang ketua rombongan.
"Untuk saat ini, kami memilih bertahan disini, untuk ke depannnya, biarlah nanti kami akan bermusyawarah dengan suami kami. Jika ada berita tentang keluarga kami atau hal yang lainnya, maka kami akan membicarakannya dengan suami kami. Dan jika saat itu tiba pasti kami akan meminta bantuan kedutaan," jawab Aisyah.
Sang ketua rombongan mengangguk beberapa kali tanda mengerti. Akhirnya mereka membiarkan saja apa yang jadi keinginan tiga belas wanita itu. Yang penting bagi pihak kedutaan adalah, mereka mendapati keadaan semua wanita itu sedang baik baik saja, tidak seperti yang diberitakan dalam beberapa postingan yang ada di postingan.
Dan disana, ada satu pria yang tersenyum jumawa sembari menatap ke arah tiga belas wanita. "Istri istriku memang hebat! Aku bangga memiliki kalian! Duhh, gemasnya," gumamnya.
...@@@@@...
__ADS_1