
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu? Mau menyerahkan apa yang kamu miliki untuk saya nikmati?"
"Lakukanlah, Mister! Nikmatilah apa yang saya miliki. Saya ikhlas memberikannya pada suami saya."
Mata mereka saling beradu, bibirnya tersenyum kaku. Dengan segenap keberanian yang dikumpulkan, Jiwo perlahan mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibir merah kehitamanan diatas bibir merah merona Alana. Dada keduanya berpacu saat bibir yang awalnnya saling diam, kini perlahan bergerak secara alamiah.
Tangan kanan Jiwo memegangi pipi Alana, sedangkan tangan kirinya digunakan Jiwo untuk menahan tubuhnya. Alana sendiri hanya terkulai pasrah saat bibir Jiwo mulai memainkan bibirnya dengan lembut. Bagi wanita itu, ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal seperti ini.
Sejenak Jiwo menghentikan pagutan bibirnya. Ditatapnya mata Alana dekat dan lekat. Hanya ada bibir tersenyum dan wajah pasrah tanpa paksaan yang Alana tunjukkan.
"Kenapa berhenti?" tanya Alana dengan suara sedikit berat. "Masih meragukan kesungguhanku?"
Tanpa menjawab, Jiwo kembali melayangkan bibirnya. Hasrat Jiwo sudah mulai merangkak naik ke ubun ubun, membuat dia tidak lagi kuasa menolak tantangan dari istrinya. Bukan hanya bibir Alana saja yang menjadi sasaran, tapi kini Jiwo juga sudah berani menyerang leher istrinya dengan lembut tapi beringas.
Hasrat Alana juga sudah mulai berkobar. Suara kenikmatan sudah mulai meracau dari mulutnya. Bahkan secara naluri juga, tangan Alana mulai bergerak mencengkram rambut sang suami.
Sejenak permaianan mereka terjeda. Mata mereka kembali saling tatap. Alana tiba tiba perlahan bangkit dan duduk. Dengan menggunakan gerakan tangan, Jiwo mengerti dan dia duduk lalu melepas kaos yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Tubuh Mister bagus sekali," puji Alana yang tadi sempat terpana manatap tubuh kekar suaminya. Jiwo hanya tersenyum bangga dan canggung. Dengan naluri liar yang dimiliki seorang wanita, Alana mendekat dan minta duduk dipangkuan Jiwo.
Kini diatas pangkuannya, Jiwo dengan sangat leluasa kembali menyerang bibir dan leher Alana. Bahkan bibir Jiwo sudah berani menyentuh area benda kembar masih tertutup rapat oleh kain penutupnya dan juga daster.
Jiwo semakin agresif, tangannya mulai berani mengangkat sedikit demi sedikit daster Alana hingga daster itu terlepas dari si pemilik tubuh. Sejenak Jiwo tertegun menatap benda kembar yang masih terjerat satu kain lagi. Tapi tiba tiba, kepala Jiwo didorong dan ditekan hingga bibir dan hidungnya tepat berada di tengah benda kembar.
"Akhh ... ahh ..." rintihan kenikmatan yang keluar dari mulut Alana menambah semangat Jiwo mengeksplor benda yang ada dihadapan wajahnya. Kedua tangan Jiwo melingkar ke arah punggung dan melepas pengait dan terlepaslah kain menjerat benda kembar.
Kedua tangan Jiwo bergerak, meraih dan menggenggam dua benda kenyal dan memijatnya pelan dengan penuh perasaan.
"Apa Mister suka?" tanya Alana.
Alana kembali menekan kepala suaminya, tentu saja Jiwo menyambut dengan senang. Kini mulutnya ikut menikmati satu persatu pucuk benda kenyal dengan beringasnya.
Cukup lama Jiwo memainkan dada istrinya, hingga Alana tiba tiba berdiri dan hendak melepas segitiga bermuda namun di cegah oleh Jiwo. Pria itu langsung memberi ciuman bertubi tubi pada benda di bawah perut istrinya tersebut sambil melepas sisa kain yang tersisa.
Gundukan daging terbelah yang tertutup rumpu hitam yang rimbun, tidak menghilangkan keindahan alami milik wanita tersebut. Tanpa rasa jijik, bibir Jiwo terus menyerang semua bagian daging tersebut. Meski belahan itu sudah sangat basah, Jiwo tidak peduli. Justru aromanya semakin membuat Jiwo merasa ketagihan.
__ADS_1
Alana merasa sudah tidak tahan lagi. Dia beranjak dan membaringkan tubuhnya dengan kedua kaki membentang menghadap sang suami. Jiwo menyeringai, kini saatnya permaianan inti di mulai. Jiwo melepas celana pendeknya dan membiarkan underwearnya masih menempel. Jiwo merangkak dan mengungkung tubuh mungil istrinya dan kembali menciuminya bertubi tubi.
Jiwo juga perlahan melepas sisa celana yang dia pakai dan kini tidak ada sehealai kainpun yang menempel di tubuh mereka.
"Mister, nanti saat punya Mister mau masuk, pelan pelan saja ya? Katanya kalau pertama sangat sakit," pinta Alana dengan hasrat yang sudah mengalir diseluruh tubuhnya.
"Baik, Sayang. Aku akan melakukanya dengan pelan, karena ini juga pertama kalinya bagi saya."
"Masukan sekarang aja, Mister. Nunggu apa lagi?"
Jiwo mengulum senyum, dia kembali menciuami istrinya. Namun sejenak kemudian dia bangkit dan bersimpuh diantara dua kaki Alana yang membentang. Tangan kiri Jiwo mengusap lembah yang masih sangat rapat milik istrinya, sedangkan tangan kanannya mengusap benda menegang miliknya sendiri.
"Saya masukin ya?" pamit Jiwo dan Alana mengangguk pasrah.
Jiwo mulai mengarahkan ujung benda menegang miliknya di depan pintu lembah dan memggeseknya beberapa saat sebagai tanda perkenalan. Setelah puas menggesek ujungnya, Jiwo mulai mencoba memasukan benda itu secara perlahan.
Awalnya Jiwo merasa sangat kesulitan karena lembah milik Alana sangat sempit. Tapi instingnya sebagai lelaki membuat Jiwo tidak menyerah. Jiwo terus memasukkan benda miliknya Hingga beberapa saat kemudian, ditengah jalan, Jiwo merasa ada yang menghalangi miliknya di dalam lubang sana. Jiwo melakukan ancang ancang dan langsung menghentakan pinggangya beberapa saat hingga Alana Menjerit agak kencang dan ditahan.
__ADS_1
Jiwo memandang wajah istrinya dengan perasaan campur aduk. Ditariknya benda menegang miliknya dan bibir Jiwo tersenyum saat matanya menangkap tetesan darah di ujung benda menegang miliknya.
...@@@@@@...