MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Haru Di Pagi Hari


__ADS_3

Pukul empat pagi, Jiwo kembali terlelap setelah pertempurannya dengan Arin selesai sekitar pukul tiga. Jiwo sengaja bermain satu ronde hanya untuk menuntaskan hasratnya dan memuaskan istrinya. Begitu permainan selesai, Jiwo dan Arin ngobrol sebentar, lalu dia beranjak mandi di kamar utama sedangkan Arin kembali terlelap.


Kamar utama memeng sengaja dibangun Jiwo lebih luas dari kamar yang lain. Kamar itu digunakan Jiwo jika sedang berkumpul bersama ketiga belas istrinya. Di dalam kamar tersebut juga sudah ada televisi dan kamar mandi. Cuma belum ada Ac. Jiwo sengaja tidak memasangnya karen dia lebih suka udara yang alami makanya ada dua jendela di kamar terebut yang langsung berhubungan dengan pemandangan sawah, sungai dan lain sebagainya.


Selain kamar utama, di sana juga ada lima kamar lain yang bisa digunakan para istrinya. Ukurannya sama seperti kamar di rumah lama. Untuk lemari pakaian para istri dan dirinya, Jiwo juga menggunakan kamar khusus yang menyatu dengan meja rias. Tempatnya tak jauh dari tiga kamar mandi yang berjejer. Semua itu hasil rancangan Jiwo sendiri.


Di deretan ruang khusus pakaian dan kamar mandi ada pintu yang menghubungkan rumah baru dan rumah lama. Pintu itu langsung terhubung ke arah dapur yang diperluas dengan memakai tanah yang biasa digunakan untuk kandang ayam. Semua itu Jiwo lakukan untuk mendukung usaha istrinya yang bertambah maju.


Tak lama setelah Jiwo terlelap, para istri Jiwo malah terbangun. Baik yang tidak hamil maupun yang sedang hamil kecuali Arin. Untuk yang masih merasa mual, dia bisa langsung ke kamar mandi yang ada di kamar utama. Sedangkan yang tidak mual bisa membantu yang mual.


"Gimana? Udah mendingan?" tanya Alena.


"Udah, terima kasih," balas Anisa.


"Tidak perlu sungkan."


Anisa lantas tersenyum. "Kenapa nggak bangunin Mister aja?"


"Nggak perlu. Kalau kita masih mampu ya nggak perlu merepotkan suami kita. Mister pasti capek. Dari kemarin subuh ngurusin kita sampai dia kemarin tidak tidur siang."

__ADS_1


"Benar juga," balas Anisa. "Ya udah mending kita ke dapur yuk?"


"Sebaiknya kamu sama Alana istirahat saja. Nanti di dapur malah lemas, gimana?" saran Aluna.


"Aku udah nggak apa apa kok, Lun," balas Alana. "Aku males bermalas malasan terus. Setidaknya kalau disana ada hiburan. "


"Baiklah."


Ke empat wanita itu pun akhirnya beranjak menuju dapur. Semua istri Jiwo yang sedang hamil memang berada disana. Ada yang di dapur, ada yang di ruang tengah menyiapkan dagangan Emak yang sudah siap satu persatu.


Semua istri Jiwo yang sedang hamil memegang pekerjaan yang ringan seperti memarut kelapa, memotong bumbu dan sebagainya. Sebenarnya semua pekerjaan memang sangat ringan. Apalagi semua dikerjakan secara gotong royong jadi cepat selesai. Seperti dagangan Emak. Biasanya Emak bangun jam satu atau jam dua untuk menbuat dagangan. Tapi sekarang, beberapa jenis dagangan Emak dikerjaan istri istri jiwo secara bersama. Seperi klepon dipegang siapa, nanti cenil dibuat siapa lagi, jadi cepat selesai.


"Iya, aku juga kasihan sama Mister. Bahkan kemarin dia sampai tidak tidur siang gara gara jagain kami," Anisa menimpali.


"Tapi Mister terlihat bahagia. Bahkan dia tidak mengeluh sama sekali," Arum juga ikut berbicara.


"Maka itu, kita harus tetap kompak dan saling kerja sama, agar tidak terlalu membebani suami kita. Kita saling bantu satu sama lain," ucap Aisyah.


"Apa kalian sangat menyayangi anak saya?" tanya Emak tiba tiba saat dia keluar dari kamar. Emak mendengar semua obrolan para menantunya.

__ADS_1


"Sudah pasti dong, Mak. Kami sangat menyayangi mister dan juga Emak," alifa yang menjawab sambil memeluk mertuanya dari belakang.


"Apa selamanya kalian akan bertahan dengan satu suami? Emak cuma nggak mau kalian memiliki tekanan batin nantinya, karena berbagi suami itu nggak mudah, nak?"


Para istri Jiwo lantas tersenyum, lalu mereka mendudukan Emak di kursi ruang tengah.


"Kami tahu, berbagi suami itu tidak mudah. Tapi kami yakin keikhlasan kami bisa memudahkan segalanya. Emak tidak perlu meragukan kasih sayang kami pada anak Emak. Kami bahagia menjalani pernikahan seperti ini, Mak," balas Aisyah dan ucapannya mewakili isi hati istri Jiwo yang lain.


"Hati kalian begitu baik," puji Emak dengan mata yang berkaca kaca karena merasa terharu atas sikap para istrinya.


"Bukan hati kami yang baik, tapi hati Mister yang terlalu baik mau menerima kami, apapun keadaan kami, Mak. Itu yang sangat kami syukuri."


"Semoga selamanya kalian akan selalu begini, Nak?"


"Aamiin."


Tanpa mereka sadari, di sana ada sosok laki laki yang matanya juga berkaca mendengarkan percakapan Emak dan istri istrinya.


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2