
Waktu terus semakin maju tanpa ada yang bisa menghentikan lajunya. Tanpa terasa tiga bulan sudah perjalanan pernikahan seorang pria dengan tiga belas wanita di sebuah desa. Namun diusia pernikahan mereka yang menginjak bulan ketiga dan berjalan menuju empat bulan, belum ada satupun tanda tanda kalau salah satu dari tiga belas wanita itu berbadan dua.
Sebagai orang yang sudah berkeluarga, tentu saja hal itu menjadi pemikiran tersendiri. Apalagi jika ada yang bertanya tentang anak, lidah mereka seakan kelu untuk menjawabnya. Seakan pertanyaan itu adalah pukulan berat yang dilontarkan sehingga mereka merasa susah untuk menjawabnya. Tanda tanya besar pun hadir dalam benak pria itu dan ketiga belas istrinya. Bahkan segala pemikiran buruk mulai bermunculan sebagai akibat belum hadirnya keturuan.
Meski banyak juga yang memberi semangat agar pria itu dan ketiga belas istrinya tetap bersabar dan berusaha. Karena tidak semua pernikahan akan selalu cepat memiliki keturunan setelah menikah, tapi seakan akan kata penyemangat itu tidak ada gunanya sama sekali. Apa lagi Jika melihat melihat sosok anak kecil, perasaan mereka semakin tidak menentu.
"Semua baik baik saja kok, Pak. Bapak dan istri Bapak semuanya sehat. Tidak ada kendala penyakit atau apapun. Mungkin memang belum waktunya saja Bapak mendapat keturunan," ucap seorang dokter ahli.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Jiwo dan ketiga belas istrinya pergi kerumah sakit untuk menjalani pemeriksaan. Ada perasaan lega saat mengetahui kalau semuanya sehat dan baik baik saja. Jadi memang tidak ada yang salah dalam diri mereka.
"Tapi, saya sudah tidak sabar, Dok, ingin memiliki keturunan," jawab Jiwo begitu lantang.
Sang dokter lagsung terkekeh. "Ya usahanya lebih keras lagi dong, Pak," sarannya.
"Tiap malam juga selalu usaha, Dok," jawab Jiwo dengan cueknya. Para istri malah melotot ke arahnya dan wajah mereka bersemu.
Sang dokter mengulas senyum. "Bisa jadi ada faktor lain yang menyebabkan Bapak belum memiliki keturunan."
__ADS_1
Kening Jiwo tentu saja langsung berkerut. "Faktor lain? Apa itu, Dok?"
"Bisa saja karena Bapak atau istri istri Bapak terlalu capek menjalani aktiviras sehari hari. Hal itu juga berpengaruh pada kesuburan dan kesehatan benih loh, Pak. Mungkin juga Bapak terlalu stres dan banyak pikiran. Itu juga sangat berpengaruh, Pak."
Jiwo terdiam sembari mencerna kata kata dokter wanita di hadapannya. Apa yang dikatakan sang dokter mungkin ada benarnya. Selama ini, Jiwo dan istrinya memang disibukan dengan mencari nafkah bersama sama. Jiwo yang keliling kampung, para istri yang menjalankan tiga usaha yaitu usaha emak, lapak dan juga jajanan. Mungkin itu yang menjadi pemicunya.
"Terus saya harus bagaimana, Dok?"
"Saran saya, coba anda dan istri anda kurangi kegiatan. Atur waktu untuk santai bersama tanpa memikirkan hal lain yang membuat anda stres. Makan makanan bergizi, kurangi rokok, olahraga. Jangan terlalu dipikirkan soal anak, itu juga bisa jadi pemicu stres. Apa lagi usia pernikahan Bapak baru mau empat bulan. Dibikin santai aja dan tetap berusaha. Itu yang harus Bapak lakukan."
Jiwo nampak manggut manggut. Jiwo pun meminta saran dan dengan senang hati sang doker memberi banyak masukan yang berguna bagi Jiwo dan tiga belas istrinya.
"Sama sama."
Jiwo akhirnya pamit undur diri. Dia dan para istri merasa lega atas hasil dari pemeriksaannya yang baru saja mereka lakukan. Mereka pun pulang dengan hati senang.
Sekarang, Jiwo sudah memiliki mobil pick up sendiri. Meskipun bekas tapi mobil itu berfungsi dengan baik. Biar bagaimanapun Jiwo sangat membutuhkan mobil saat ini untuk keperluan usaha dan yang lainnya.
__ADS_1
Jiwo merasakan, sejak dirinya menikah, rejeki yang dia dapat mengalir lebih deras daripada saat dia masih sendiri. Dulu Jiwo Paling belanja celana kolor setiap sebulan sekali. Tapi sejak dirinya viral, hampir dua minggu sekali Jiwo berbelanja. Makanya Jiwo membeli mobil pick up agar tidak perlu menyewa lagi.
Para istri Jiwo juga tidak malu menaiki mobil tersebut. Bagi mereka nyaman nyaman saja setiap bepergian naik mobil itu. Apalagi Jiwo menambah kerangka untuk menutupi dari hawa panas dan hujan yang bisa dibongkar pasang di atas mobil, jadi mobil itu makin nyaman digunakan.
Tak butuh waktu lama, kini mobil yang dikendarai Jiwo sudah sampai di halaman rumahnya. Begitu turun dari mobil, Jiwo menghampiri tukang yang sedang membangun rumah di tanah sebelah. Dalam waktu satu bulan, rumah itu sudah hampir jadi.
Mungkin karena bukan rumah mewah jadi rumah itu begitu cepat berdiri. Apalagi rumah itu memang dijadikan satu dengan rumah lama Jiwo jadi pembangunannya terasa begitu cepat. Di dalam bangunan tersebut hanya ada satu kamar utama, lima kamar tambahan, ruang serbaguna, dapur dan tiga kamar mandi. Kamar utama sengaja dibangun lebih luas agar bisa digunakan Jiwo berkumpul satu kamar bersama ketiga belas istrinya.
"Gimana hasil pemeriksaanya, Wo?" suara Emak terdengar saat Jiwo sedang fokus melihat rumah barunya.
"Ya baik baik saja, Mak. Semua sehat. Mungkin belum dipercaya saja sama Tuhan untuk memliki anak."
"Syukurlah kalau semua sehat. Tinggal usahanya saja bagaimana."
"Iya, Mak. Setiap malam harus semakin rajin lembur aku. Duh aduh."
"Dih!"
__ADS_1
...@@@@@...