
Setelah puas memilhat rumah yang di bangun dan juga bercengkrama dengan Emak, Jiwo masuk ke dalam buat ganti baju. Terlihat disana beberapa istrinya sedang tiduran di karpet ruang tamu dan sebagian ada yang di dapur mempersiapkan hidangan untuk para tukang.
"Kenapa malah pada tiduran di situ sih, Dek? Di kamar sekalian sana loh," ucap Jiwo yang saat ini langkahnya terhenti di ruang tamu.
"Di kamar panas, Mister. Enakan disini, seger," jawab salah satu istrinya mewakili istri yang lainnya. Jiwo hanya menghembus kasar nafasnya lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Seperti yang terlihat disana, sampai detik ini, semua istri Jiwo masih akur dan kompak. Mereka selalu berbagi tugas dengan baik. Walaupun begitu, bukan berarti berarti mereka tidak pernah bertengkar. Perselisihan kecil kadang terjadi diantara mereka, tapi setiap terjadi pertengkaran, mereka akan cepat baikan lagi dengan bantuan para istri yang tidak terlibat perdebatan. Dan juga mereka tidak ingin membuat suami mereka marah.
Selama ini, Jiwo memang tidak pernah marah atau emosi kepada semua istrinya. Justru Jiwo selalu memilih bersabar menghadapi istri yang berbeda sifatnya. Dari dulu jiwo memang seperti tidak bisa marah dengan orang yang dia sayang. Jika sedang emosi, Jiwo memilih diam. Tak lama setelahnya, emosinya bakalan hilang. Tapi Jiwo tidak bisa dianggap remeh. Sekali emosinya keluar, Jiwo akan terlihat sangat mengerikan. Malik saja sampai dikurung dalam penjara karena berani mengusik Jiwo dan membuatnya sangat murka.
Begitu sampai di dalam kamar, bukannya berganti pakaian, Jiwo hanya berganti celana kolor tanpa celana lagi di dalamnya dan bertelanjang dada. Setelah itu, Jiwo kembali keluar kamar menuju meja makan.
"Masak apa sih, Dek? Aku laper," ucap Jiwo sedikit mengeraskan suaranya.
"Bentar, Mister," balas Adiba dan wanita itu tak lama kemudian keluar dengan membawa semangkok sayur lodeh dan satu piring berisi tempe goreng tanpa tepung dan juga ikan pindang.
"Sambalnya mana?"
"Iya bentar."
Tidak perlu menunggu lama, Jiwo langsung mengambil nasi beserta lauknya. Dengan lahap, dia menyantap masakan istrinya yang sangat lezat. Tanpa ada pembicaraan yang berarti, Jiwo malahap makanan sampai habis.
"Mister," Adiba membuka suara begitu sang suami telah selesia makan.
__ADS_1
"Apa?"
"Apa rencana Mister selanjutnya?"
Kening Jiwo berkerut. "Rencana? Rencana apa?"
"Tadi kan kita pulang dari dokter dan dokter banyak memberi saran dan masukan. Apa Mister tidak punya rencana gitu sesuai dengan yang dokter sarankan?"
Jiwo manggut manggut. Dia masih ingat semua saran yang dokter katakan. Namun dia bingung kemana arah pembicaraan Adiba, mengingat saran dokter begitu banyak, jadi saran yang mana yang akan Adiba bicarakan.
"Ngomong yang jelas dong, Dek, aku bingung nih, maksud kamu tuh gimana?" balas Jiwo gemas.
Adiba malah tersenyum lebar, memamerkan deratan gigi putihnya. "Dokter kan tadi bilang, kita sesekali harus santai jangan terlalu fokus cari uang. Sejak Aisyah mulai jualan, kita belum pernah libur seharipun loh. Besok kan Emak berangkat lagi ke rumah Mas Bayu, gimana kalau kita bikin acara spesial?"
"Bukan!" bantah Adiba. "Kita rencanain liburan gitu."
"Maksud Adiba, kita libur jualan dulu gitu, Mister," Alifa ikut menimpali. "Kita bikin acara kecil kecilan untuk kita, agar pikiran kita fresh nggak stres. Kita benar benar menikmati waktu bersama gitu. Ya misalnya kita main ke pantai atau melakukan aktifitas yang santai buat menjernihkan pikiran."
Jiwo nampak manggut manggut. Dia paham dengan apa yang dikatakan istrinya. "Tapi kan di rumah lagi ada tukang bangunan. Emak besok pergi. Terus yang ngawasi tukang siapa?"
"Besok kan hari minggu, bukankah kalau hari minggu, tukang bangunan pada libur? Lagian rumah hampir selesai ini, apa salahnya meliburkan tukang sebentar selama satu minggu?"
"Iya, Mister. Anggap aja ini program kita untuk mendapatkan keturunan. Siapa tahu setelah ini, kita semua atau diantara kita ada yang hamil."
__ADS_1
Jiwo kembali manggut manggut. "Baiklah, besok kita libur. Nanti aku akan bilang ke tukang juga."
Para istripun nampak senang. Jiwo segera bangkit menuju teras rumah dan kembali melihat cara kerja para tukang yang tinggal tiga orang. Jiwo akan memberi tahu tentang liburnya para tukang nanti saat mereka istirat.
Tak lama kemudian waktu istirahat tiba. Para tukang duduk bersama sambil menyantap hidangan yang disediakan istri istri Jiwo.
"Masakan istri kamu, benar benar mantap, Wo! Enak banget," puji tukang satu.
"Benar, meski menu sederhana tapi mantap rasanya. Padahal bukan asli orang sini ya?"
"Ya Alhamdulillah Mas," balas Jiwo. "Oh iya, Mas. Sebelumnya aku minta maaf, mungkin untuk satu minggu ke depan kalian saya liburkan dulu untuk sementara."
"Libur? Kenapa, Wo?"
"Aku sama istri istriku, akan menjalani program hamil, Mas. Jadi terpaksa kalian saya libur kan satu minggu. maaf ya?"
Oke, oke, oke, nggak papa, Wo."
"Wah, keren! Semoga secepatnya semua istri kamu, hamil, Wo."
"Aamiin."
...@@@@@...
__ADS_1