
Siang itu panas yang sedari tadi terasa menyengat, kini berubah menjadi agak mendung dengan semilir angin yang sangat sejuk. Namun keadaan itu berbanding terbalik dengan keadaan di sebuah rumah pria yang memiliki tiga belas istri. Di dalam rumah itu masih terasa panas dan mencekam.
Di salah satu ruangan yang cukup luas, satu satunya pria di rumah itu sedang terdiam tak berkutik diantara sepuluh istrinya yang sedang menatap tajam ke arahnya. Pria itu seperti sedang ditodong dua puluh mata anak panah yang siap meluncur dari busurnya dan menembus tubuh sang pria.
Satu satunya harapan yang bisa menyelamatkan pria itu dari amarah sepuluh istrinya adalah istri lainnya yang sekarang sedang pergi ke rumah mantan pacar si pria. Pria bernama Jiwo itu juga sedang memikirkan apa yang dilakukan tiga istrinya di rumah mantan pacanrnya yang sudah menjadi janda. Semoga tidak ada kekerasan yang terjadi. Ketegangan di salah satu ruang itu sedikit mencair tatkala sebuah suara menggema.
"Kalian berada disini?" ucap suara wanita yang membuat Jiwo lega. satu dari tiga wanita yang diharapkan kedatangannya akhirnya pulang juga.
"Gimana? Kalian sudah mengatasi urusan dengan mantan terindah suami kita?" tanya salah satu istri Jiwo yang bernama Anisa dengan penuh penekanan saat menyebut kata mantan terindah.
"Apanya yang mantan terindah? enak aja," sungut Jiwo tak terima.
"Diam! Saat ini Mister dilarang protes!" hardik Anisa dengan sengitnya hingga Jiwo langsung terbungkam.
"Janda itu sedang disidang oleh orang tuanya, mampus dia!" umpat Andin dengan senangnya.
"Disidang gimana? Cerita yang jelas dong? Jangan bikin penasaran," protes Alina.
Setelah duduk, Andin, Aziza dan Anum menceritkan semua kejadian di rumah mantan pacar suami mereka. Ketiganya juga tak lupa menceritakan awal kejadiannya yang menyebabkan Jiwo berubah kesal dan meninggalkan lima istrinya yang hamil besar.
"Loh, kalau kesal ke mantan pacar, ya kami jangan dijadikan pelampiasan dong? Pukul dia apa gimana? Bukan malah marah sama kita terus kita di tinggalin," Omel Alana.
__ADS_1
"Iya, mentang mentang sama mantan terindah, nggak tega marahnya langsung ke itu janda, tapi kita yang dijadikan pelampiasan," sambung Alena bersungut sungut.
"Ya ampun, aku kan sudah minta maaf, apa masih kurang?" ucap Jiwo. "Lagian mana ada mantan terindah, kalau memang indah, nggak bakalan jadi mantan."
"Tapi kan rasanya masih ada," tuduh Arin.
"Nggak ada, Sayang. astaga! Aku tuh cintanya sama kalian!"
Ketiga belas wanita yang ada disana serentak terkejut dan langsung menatap ke arah suami mereka dengan tatapan seperti menuntut penjelasan.
"Kenapa? Kalian nggak percaya kalau aku mencintai kalian semua?" tanya Jiwo yang merasa heran dengan tatapan semua istrinya.
"Mister lagi tidak berusaha menyelamatkan diri, kan?" tuduh Arum.
"Sejak kapan Mister cinta kami semua?" Aluna ikut bersuara.
"Sejak kapan sih aku nggak tahu pasti, tapi kalian ingat nggak saat kalian memilih Aisyah untuk dijadikan istri secara negara?" semua istri nampak manggut manggut. "Nah, saat itu kan aku bilang kalau kalian itu istimewa, aku tidak mau memilih diantara kalian. Makanya aku menyuruh kalian untuk memilih. Dari sana, kan, harusnya kalian tahu, sudah ada cinta dihatiku untuk kalian."
"Ya kita mana tahu. Yang kita tahu, kan, Mister pernah bilang nggak bisa membalas cinta salah satu dari kami, takut ada hati yang tersakiti," ucap Adiba.
"Itukan dulu, waktu beberapa hari setelah kita menikah. Namun seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu tumbuh. Oke lah mungkin aku bisa dikatakan pria yang serakah, tapi kan aku nggak salah, toh yang aku cintai istri aku sendiri, bukan istri orang."
__ADS_1
Semua istri nampak manggut manggut mendengar penjelasan suami mereka. Hati mereka tentu saja sangat senang mendengar pengakuan suaminya. Kemarahan mereka pun berangsur angsur sirna berubah menjadi bunga bunga cinta.
"Maka itu, aku mohon, jangan pernah kalian berpikir aku akan membuang kalian. Kalian semua berharga buat aku. Apa lagi kalian sedang mengandung anak anakku, aku nggak mau terjadi sesuatu pada kalian," ucap Jiwo dengan wajah sendu. Para istri pun merasa terharu mendengarnya. Bahkan ada yang sempat mengeluarkan air mata walau setetes.
"Ya aku pribadi juga minta maaf, Mister. Sudah berpikiran buruk," ucap Aisyah.
"Aku juga minta maaf, Mister."
"Aku juga," ucap para istri saling bergantian meminta maaf.
"Aku sudah memaafkan kalian kok, dan aku juga minta maaf dengan kejadian tadi pagi."
"Iya, Mister, kami juga sudah memaafkan Mister," ucap Alana. Dan ketegangan pun kini mencair dan berubah menjadi kehangatan. Namun itu tidak berlangsung lama. Ketegangan kembali terjadi saat mereka mendengar suara.
"Aduh, perutku, sakit."
"Anisa! Kamu kenapa?"
"Perutku, sakit banget." rintih Anisa.
"Jangan jangan mau melahirkan! Mister, cepat! Siapkan mobil, bawa Anisa ke rumah sakit."
__ADS_1
"Iya, iya, iya!"
...@@@@@@...