
"Jangan jangan, mendengar mantan kekasihnya sudah jadi janda, Mister bakalan mendekatinya. Secara hubungan tujuh tahun pasti membekas banget kenangannya."
"Iya benar, nanti kalau Mister balikan sama mantannya yang sudah menjadi janda, aku bakalan cincang cincang isi celana Mister."
"Astaga!"
"Nah, panjang umur tuh! Ada mantan pacar Mister! Wah, jangan jangan sudah janjian yah?"
"Aduh!"
Semua mata lima istri Jiwo dan juga Jiwo langsung beralih arah, memandang dua perempuan yang sedang menikmati udara pagi di tempat yang sama dengan mereka. Salah satu dari dua perempuan itu, sangat mereka kenali wajahnya karena wanita itu beberapa kali terlibat masalah dengan suami mereka.
Dua wanita itu juga tanpa sengaja memandang ke arah Jiwo dan lima istrinya. Mata Jiwo dan mata salah satu wanita itu sempat beradu pandang, tapi Jiwo langsung berpaling dan menatap para istrinya. Sedangkan wanita yang beradu pandang itu malah tersenyum.
"Kamu kenapa senyum senyum, Tin?" tanya salah satu wanita yang memergoki wanita bernama Titin sedang tersenyum ke arah Jiwo berada. "Lagi lihatin Jiwo dan istrinya?"
Titin lantas menoleh ke temannya. "Bukan aku yang lihatin Jiwo, Lis, tapi Jiwo yang lihatin aku," balas Titin dengan penuh percaya diri.
"Hillih, mana ada? Yang ada Jiwo pasti lagi ketawa itu sama istri istrinya," jawab Lilis tak percaya.
"Ya ampun, Lis, serius! Tadi Jiwo lihatin kesini terus melempar senyum sama aku," balas Titin sambil duduk di tepi jalan yang beraspal.
__ADS_1
Lilis mendengus tak percaya. "Emang apa ngaruhnya kalau dia senyum sama kamu? Paling juga nggak sengaja?"
"Nggak sengaja? Mana mungkin, Lilis!" seru Titin. "Paling juga dia masih ada rasa sama aku."
"Hahaha ..." Lilis tergelak. "Mana ada? Percaya diri kamu ketinggian, Tin. Awas, nanti nggak bisa turun."
"Eh nggak percaya! Orang aku lihat sendiri. Aku sih sangat yakin, kalau aku ngajak balikan, Jiwo pasti bakalan mau. Kayak yang dulu dulu. Dia kan cinta banget sama aku?"
"Astaga! Hahaha ... bangun, Woy! ngimpi mulu! Lihat tuh, Jiwo aja udah bahagia sama istri istrinya. Paling juga kamu yang sekarang nyesel karena Jiwo sekarang sudah sukses. Iyakan?"
Titin sontak menatap tajam temannya. Seandainya bisa jujur, Titin memang menyesal telah membuang Jiwo. Sekarang kehidupan Jiwo memang lebih maju. Jiwo udah punya tanah stretegis yang akan dibangun untuk dua kios dimana satu untuk lapak pakaian dan satu untuk jualan jajanan. Sedangkan Titin, dia kembali jualan ikan asin di lapak orang tuanya.
Sejak cerai dari Malik, otomatis Titin tidak dapat menikmati fasilitas mewah milik orang tuanya Malik. Selama ini memang semua yang digunakan Malik dan Titin adalah milik Pak Rohim termasuk ruko.
"Loh? Mendukung apanya? Mendukung kamu balikan sama Jiwo? Hahaha, parah ... Kamu buta apa bagaimana sih? Lihat! Buka mata kamu lebar lebar! Jiwo sudah bahagia! Lihat! Itu aja baru lima istri, belum yang di rumah."
"Tapi kan hati Jiwo nggak ada yang tahu, Lis. Buktinya setelah aku nikah, dia nggak deket sama cewek lain. Jiwo nikah sama mereka juga karena terpaksa, semua atas nama perlindungan."
"Aduh, Titin, Titin. mana ada nikah terpaksa sampai mereka hamil? Aduh, aku heran sama jalan pikiran kamu. Terus kamu mau apa? Mau dekati Jiwo gitu? Astaga! Kamu mau jadi cewek murah meriah?"
"Loh? Kalau Jiwonya mau ya nggak apa apa, kan?" Titin lalu berdiri. "aku akan bukikan ke kamu kalau Jiwo pasti masih ada rasa sama aku!"
__ADS_1
"Astaga!" pekik Lilis sambil geleng geleng kepala saat Titin melangkah dengan penuh percaya diri ke arah Jiwo.
Sedangkan jiwo sendiri sedari tadi sedang duduk santai sambil memperhatikan ke lima istrinya yang sedang belajar senam hamil lewat video dari ponsel milik suaminya.
"Hati hati loh, Sayang! Gerakannya jangan yang susah susah!" seru Jiwo mempengeringati. Kelima istri Jiwo menyahut secara bersamaan. Jiwo hanya bisa tersenyum menikmati keseruan melewati waktu bersama para istri.
"Eh, eh, perhatikan! Sepertinya janda itu sedang melangkah ke arah sini deh," ucap Arin tiba tiba.
"Ah iya, pasti dia mau nyamperin Mister!" tebak Anisa tiba tiba merasa kesal.
"Sudah pasti itu. Pasti mau deketin suami kita!" seru Aluna.
"Wahh! Nggak bisa dibiarin Nih, kita harus hempaskan wanita itu," Alena ikutan kesal.
"Nanti dulu, kita lihat, apa yang akan dia lakukan," Usul Alana. "Kalau macam macam, baru kita bertindak."
"Cocok! Kita pura pura aja tidak melihatnya."
"Oke!"
Sedangkan Jiwo yang memang tidak tahu kedatangan Titin karena Titin melangkah dari arah punggung Jiwo, langsung terkejut saat suara Titin memanggil namanya.
__ADS_1
"Mas Jiwo!"
Jiwo langsung menoleh ke belakang. Dan seketika wajahnya nampak terkejut. "Titin!"