
Jiwo dan Aziza pergi dari kantor polisi dengan perasaan gundah. Mereka sedikit terusik dengan ancaman dari pria itu. Meski pria yang menjadi tahanan sempat dibuat tidak berkutik saat berdebat dengan Jiwo, tapi tetap saja, ada ucapan yang membuat hati Jiwo tidak tenang.
Setelah penjahat memberi peringatan dari balik jerujo besi, Jiwo dan Aziza serta Andika memang tidak segera pergi. Mumpung penjahat itu sedang membuka suaranya, mereka menggunakan kesempatan itu untuk mengorek informasi lebih. Meski pada akhirnya mereka tidak mendapatkan informasi yang penting, Jiwo akhirnya memutuskan pergi dari sana.
Tempat selanjutnya yang Jiwo tuju adalah, tempat tukang dimana Jiwo memesan barang tambahan untuk lapaknya. Seperti biasa si tukang menyambutnya dengan ramah, dan yang lebih memuaskan, barang pesanan Jiwo akan siap dipasang di lapak pada esok hari. Jiwo senang mendengarnya karena barang pesanan selesai dengan cepat. Setelah bercengkrama selama hampir satu jam, Jiwo dan Aziza lantas pamit.
"Kita kemana lagi, Mister?" tanya Aziza yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Kamu maunya kemana, Dek?" bukannya menjawab, Jiwo malah melempar pertanyaan balik.
"Loh kok malah tanya sama aku? Ya aku nggak tahu lah."
Jiwo terkekeh lalu dia melajukan motornya ke suatu tempat. Aziza sempat tertegun karena seingat dia, jalan yang dilalui bukanlah jalan menuju arah pulang. Tapi Aziza memilih diam dan membiarkan Jiwo melajukan motornya sesuai keinginan.
Cukup menghabiskan waktu perjalanan lima belas menit, kini mereka berdua telah sampai di tempat tujuan. Aziza begitu takjub melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Sebuah sungai yang lumayan lebar, serta perbukitan yang ditumbuhi ratusan pohon pinus, sungguh sangat menyejukan bagi siapa saja yang melihatnya.
__ADS_1
Jiwo memang sengaja memilih tempat itu, karena memang sejak dulu tempat itu banyak dikunjungi anak muda termasuk Jiwo. Tapi yang membuat beda adalah, pinggiran sungai itu sekarang lebih tertata rapi. Ada beberapa bangku dari bambu serta meja kayu yang disediakan pengelola. Ada juga beberapa warung cemilan sebagai pelengkap menikmati suasana disana.
"Apa ini tempat wisata, Mister?" tanya Aziza begitu mereka duduk berdampingan di salah satu bangku panjang.
"Bisa dibilang begitu, wisata lokal, murah meriah," jawab Jiwo sembari mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya. Tak lupa dia juga memesan cemilan dan juga minumannya di warung terdekat.
"Tempatnya lumayan bagus, udaranya sejuk," ungkap Aziza terlihat ceria. Jiwo hanya bisa mengulas senyum sembari menyesap batang rokoknya. "Mister, bagaimana tanggapan Mister soal penjahat tadi?"
"Tanggapan gimana maksud kamu, Dek?"
"Bisa jadi, terus dengan hilangnya kalian, mereka pecah dan saling berebut."
"Duh, kok makin mengerikan ya, Mister."
"Udah, jangan terlalu dipikirkan. Nanti kita bahas saja sama yang lain saat di rumah, oke?"
__ADS_1
Aziza lantas mengiyakan. Mereka saling melempar senyum lalu kembali membuka obrolan yang lainnya sambil menikmati cemilan yang sudah datang. Hingga tanpa terasa, dua jam sudah mereka berada di sana menikmati suasana berdua. Akhirnya mereka memutuskan pulang karena waktu yang sudah beranjak semakin sore.
Sementara itu di tempat lain, Suryo sedang merasakan kegelisahan saat ini. Wakil wali kota itu gelisah lantaran dari semalam orang suruhannya sama sekali tidak memberi kabar. Padahal kabar terakhir yang dia terima, orang suruhannya sedang bergerak menuju lokasi target. Tapi hingga detik ini, Suryo tidak menerima kabar tentang hasil dari tindakan tersebut.
Kegelisahan Suryo semakin menjadi saat dia mendapat tekanan dari Hendrik. Suryo benar benar didesak untuk mencari cara yang halus agar target bisa secepatnya ditangkap kembali. Namun untuk saat ini, harapan Suryo hanya kepada orang suruhannya. Tanpa Suryo ketahui kalau orang suruhannya juga sebenarnya sudah tertangkap.
Berbeda dengan Suryo, Hendrik justru terlihat masih tenang meski dia sendiri sekarang sedang kabur dan tersembunyi. Di tempat persembunyiannya, Hendrik juga sedang menyusun rencana. Bahkan Hendrik berencana akan mendatangi kampung dimana ketiga belas wanita itu berada.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Hendrik pada anak buahnya yang baru saja sampai menjalankan tugas mereka.
Sudah, Bos, tinggal menunggu waktu berangkat saja," jawab salah satu anak buahnya.
"Baiklah, suruh semuanya istirahat dulu, besok pagi aku akan berangkat," titah Hendrik lalu pergi meninggalkan anak buahnya.
...@@@@@...
__ADS_1