MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Mereka Belum Jera


__ADS_3

Malu, itulah yang dirasakan Pak Lurah saat ini. Bagaimana tidak malu kalau kalau orang yang jelas jelas menjadi bagian keluarganya tidak pernah menyadari kesalahan, tapi malah membuat masalah semakin besar. Entah apa yang ada dipikiran anak, menantu dan besannya. Kenapa mereka lebih senang menyimpan dan menumbuhkan kebencian pada orang yang sebenarnya tidak pernah membenci mereka, meski pernah disakiti di masa lalu. Dengan perasaan yang tidak enak hati, Pak Lurah memilih pamit dan memohon maaf berkali kali kepada si pemilik rumah.


Rasa heran juga hadir dalam diri Jiwo. Selain heran, dia juga terkejut dengan sikap Darmi, Titin dan Malik. Bisa bisanya di hadapan Pak Lurah yang jelas jelas orang yang sangat dihormati, ketiga orang itu malah hendak memancing keributan. Rasa hormat dan menghargai sepertinya memang telah musnah dari hati nurani mereka.


Entah ulah apa lagi yang akan mereka lakukan nantinya, Jiwo sudah tidak peduli. Bagi Jiwo, banyak sesuatu yang lebih penting untuk diprioritaskan daripada menanggapi manusia yang hatinya sudah dipenuhi rasa benci.


"Kok bisa sih? Darmi sama besannya kayak gitu ya, Wo? Nggak ada rasa hormat sama sekali," ucap Emak begitu dia keluar dan menghampiri Jiwo yang masih duduk di ruang tamu. Para istrinya pun ikut bergabung bersama suami dan mertuanya disana.


"Aku juga heran, Mak. Kok ada ya orang kayak gitu? Benar benar nguji kesabaran banget," balas Jiwo. Tangannya bergerak mengambil gethuk yang tersaji di meja.


"Yah, namanya juga hidup, ada yang nguji kesabaran dan ada juga yang di uji kesabarannya," balas Emak.


Jiwo nampak manggut manggut. Dia setuju dengan apa yang Emak ucapkan. Jiwo memandang istri istrinya satu persatu. "Kalian udah pada mandi?"


"Udah dong, Mister, tinggal Mister itu yang belum," jawab Alina.


"Hahaha ... nanti lah, kan abis ada tamu," balas Jiwo sembari terkekeh. "Oh iya, besok aku mau belanja. Sekalian belanja buat dagangan kalian. Tapi aku ada ide, kalian bukan hanya jualan celana kolor saja, tapi juga daster dan pakaian khusus wanita, mau?"

__ADS_1


Sejenak para istrinya saling pandang. Mereka seperti bermusyawarah dengan tatapan mereka dalam waktu singkat. Kembali mata mereka tertuju ke arah sang suami.


"Terserah Mister aja baiknya gimana. Kalau menurut Mister itu bagus ya kami setuju," balas Adiba mewakili istri istri yang lain.


"Oke deh, terus besok yang mau ikut siapa?"


"Kalau menurut aku sih Anisa, Mister. Soalnya besok jatahnya dia nemenin Mister jualan, tapi hari ini harusnya jatah Arin, tapi Mister malah libur, jadi kasian Arinnya kalau cuma nemenin Mister tidur aja nanti malam," jawab Aisyah.


"Loh, ya nggak apa apa. Aku nemenin tidur aja nggak masalah kok," Arin membuka suara.


"Beneran. Lagian masih ada hari lain, kan?" balas Arin lagi.


Jiwo hanya bisa tersenyum menyaksikan ketulusan hati istri istirnya. Mereka benar benar saling mengalah dan saling mengerti satu sama lain. Hati Jiwo menghangat melihat istri istrinya nampak begitu akur dan saling menahan ego masing masing. Jiwo tahu itu tidak mudah, tapi mereka mampu melakukannya hingga detik ini.


"Ya sudah kalau keputusan kalian seperti itu, sekarang aku mau mandi dulu," ucap Jiwo lalu dia beranjak meninggalkan istri istrinya.


Sementara itu di kota lain, Suryo nampak terkejut denngan kabar yang dia dengar dari Hendrik dan Bejo.

__ADS_1


"Nggak mungkinlah, aku nggak percaya kalau ketiga belas wanita itu mau melepas mahkota mereka dengan mudahnya pada orang asing hanya karena status. Lagian kan mereka nikah bukan karena cinta dan ada keterpaksaan. Jadi mana mungkij mereka dengan mudah menyerahkan diri mereka sendiri," terang Suryo setelah mendengar cerita dari Bejo.


"Tapi aku mendengarnya dari orangnya langsung, Tuan. Orang menikahi mereka," balas Bejo dengan sangat yakin. Dia tidak mau terus terusan dianggap bodoh oleh dua orang yang memegang kekuasaan atas dirinya dan anak buah yang lain.


"Hahaha ... Kamu itu bodoh atau gimana sih, Jo? Mana ada orang yang berterus terang kepada penjahat yang sedang mengincar mereka? Mana ada, Bejo! Dia pasti ngomong kayak gitu agar kamu nggak ngincer istri istrinya lagi. Aduh, payah kamu."


Bejo sontak terkesiap. Apa yang dikatakan Suryo memang ada benarnya. Dan untuk kesekian kalinya, Bejo dianggap bodoh oleh Suryo dan Hendrik.


"Ah, sial! Kenapa aku nggak kepikiran kesana?" umpat Bejo.


"Hen, apa yang akan kamu lakukan untuk merebut mereka kembali?"


"Tenang aja, Tuan. Aku sudah mempersiapkan segalanya."


Baguslah."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2