
Tiga orang berbadan tegap terlihat keluar dari penginapan murah yang ada di kota kecil dimana tempat orang orang yang mereka cari ada di kota kecil tersebut. Sebut saja nama mereka Jarwo, Hadi dan Bahar. Ketiganya adalah orang orang suruhan Hendrik untuk menuntaskan pekerjaan yang berkali kali gagal.
Dengan berbekal tanya tanya pada warga sekitar, mereka akhirnya menemukan alamat rumah orang yang mereka cari. Mencari alamat rumah Jiwo memang sanga mudah. Hanya dengan melempar pertanyaan alamat rumah pria yang menikahi tiga belas wanita, sudah dipastikan para warga sekitar akan langsung tahu siapa orang yang di maksud.
Berdasarkan petunjuk yang mereka dapatkan, kini ketiga orang itu telah memasuki komplek Rw dimana letak rumah Jiwo berada. Mereka menyusuri jalan yang terlihat sepi. Hanya ada beberapa warga yang nampak sedang beraktitas di rumahnya masing masing. Mereka pun tak segan menanyakan alamat rumah Jiwo pada tetangga dengan mengaku sebagi teman Jiwo. Tentu saja tetangga yang ditanya langsung menunjuk ke arah rumah Jiwo, dan mereka langsung menuju ke tempat yang ditunjukan.
"Bukankah itu mobil Bos Hendrik?" ucap Jarwo saat matanya melihat mobil yang dia kenal berada di halaman rumah Jiwo.
"Ah iya, benar," Hadi menimpali.
"Apa kita bergerak sekarang? Mumpung keadaan sepi?" usul Burhan yang bertugas mengemudi mobil yang mereka pakai. Dia menghentikan mobil itu tepat di depan tembok yang ada di halaman rumah Jiwo.
"Tunggu, kita cari tempat persembunyian dulu biar nggak ada yang curiga, baru kita pantau rumah itu," usul Jarwo.
"Baiklah."
Mobil pun melaju ke area persawahan dimana jalan itu hanya bisa di lalui oleh motor sebagai jalan pintas menuju desa tetangga. Terpaksa mobil masuk ke area tanah kosong yang ada di sana.
Tanpa mereka sadari, saat mobil mereka berhenti di depan rumah Jiwo, ada mata yang mengawasi mobil itu. Tentu saja orang yang melihat mobil itu adalah istri istri Jiwo yang sedang berkumpul di ruang tamu.
__ADS_1
"Itu tadi kira kira mobil siapa yah?" tanya Alana dengan mata yang terus menatap ke arah halaman rumah dari jendela kaca yang baru saja di ganti kemarin.
"Mungkin orang yang lagi nyari alamat," balas Adiba.
"Nyari alamat? Tapi kenapa jalannya malah ke arah sawah?" tanya Alana lagi, namun kali ini dia menatap Adiba.
"Atau jangan jangan, itu mobil komplotan orang yang menculik kita?" Anum ikut bertanya.
Mana mungkin?" sanggah Alana.
Namun disaat bersamaan mata beberapa istri Jiwo dikejutkan dengan seorang pria yang berjalan perlahan sambil tengok kanan kiri nampak sedang mengawasi keadaan.
"Lihat! Lihat! Lihat!" seru Aisyah. Sontak saja mata mereka langsung melebar melihat gerak gerik pria itu yang terlihat sangat mencurigakan.
Semua mata langsung tertuju pada pria yang sedang berjalan sambil celingukan itu. Pria itu mendekat ke arah mobil yang terparkir disana. Matanya menelisik setiap sisi mobil itu. Bahkan pria itu menempelkan wajahnya untuk mengecek keadaan dalam dalam mobil.
"Benar, ini mobil Bos Hendrik," gumamnya. Setelah merasa cukup mengecek mobil, langkah kaki pria itu melangkah perlahan menuju teras rumah.
Sontak saja para istri Jiwo langsung terkejut. Mereka segera saja masuk dan bersembunyi di ruang tengah kecuali Anisa dan Alana. Mereka memilih bersembunyi di belakang pintu.
__ADS_1
"Kok sepi? Dimana mereka?" tanya pria itu saat wajahnya menempel pada kaca hitam yang ada di ruang tamu dan matanya mencoba mencari orang orang penghuni rumah. "Apa mereka lagi pada pergi?"
Pria itu akhirnya menyerah dan kembali menjauh dari rumah Jiwo menuju ke tempat persembunyiaannya.
"Tu, kan! Pasti dia salah satu komplotan dari orang orang yang menculik kita," tebak Alana yakin.
"Belum tentu, bisa saja dia temannya Mister," sanggah Aluna.
"Teman bagaimana? Kamu lihat nggak tadi dia kembali ke arah sawah? Kalau emang dia teman, pasti nggak mungkin bertingkah mencurigakan kayak gitu? Lihat! Mobil yang tadi ke arah sawah, nggak terlihat putar arah, kan?" bantah Alana dengan sangat yakin.
"Benar juga, aduh gimana nih, mana Emak biasanya jam segini pulang dari pasar lagi," ucap Anum cemas.
"Coba aku telfon Emak, suruh hati hati kalau pulang," ucap Aisyah sambil beranjak ke ruang tengah mengambil ponsel yang ditaruh di bawah meja televisi.
Di saat bersamaan, tak jauh dari jalan depan rumah Jiwo, nampak Emak dan tiga menantunya sedang melangkah menuju rumah. Mereka baru saja pulang dari pasar dan seperti biasa mereka memilih jalan kaki.
"Mak, ponselnya bunyi apa yah?" tanya Andin yang mendengar nada dering dari dalam tas yang Emak bawa. Emak langsung mengecek ponselnya dan terteta nama istri Jiwo dilayar ponselnya.
Tak jauh dari arah Emak melangkah, dua pasang mata menatap Emak dan menantunya dengan seringai jahatnya.
__ADS_1
"Benar, itu target kita."
...@@@@@...