
Mendung kembali menyapa langit. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga sore. Setelah selesai bercengkrama dengan para istrinya, Jiwo memilih tidur siang untuk menghabiskan waktunya. Sedangkan para istri memilih ngobrol satu sama lain atau memainkan ponsel. Ada juga yang duduk bersama Emak di ruang tengah.
Sedangkan di tempat lain, Hendrik dan dua anak buahnya sedang menunggu orang kiriman Suryo yang akan membantu memperlancar segala rencana Hendrik untuk menangkap buruan yang lepas dari cengkramannya.
Hendrik juga sudah mengantongi info kalau ketiga belas gadis incarannya mulai besok akan berjualan di pasar daerah ini. Tentu saja Hendrik mendapat info seperi itu karena dua anak buahnya, Wito dan Kamso pergi ke pasar untuk mencari kesempatan lagi dan mereka mendapat informasi seperti itu.
"Bos, kalau gadis gadis itu ternyata sudah kehilangan mahkotanya gimana? Secara mereka kan sudah menikah? tanya Kamso setelah berhenti nonton video taktok dari ponsel.
"Nggak mungkin, kalian tahu kan alasan mereka nikah karena apa? Jadi nggak mungkin mereka akan melakukannya," ucap Hendrik dengan penuh percaya diri.
"Tapi kan mereka udah cukup lama menikah, Bos? Bisa saja kan mereka sudah kejadian?" ucap Kamso lagi menguatkan keraguannya.
"Belum juga satu bulan mereka menikah, So, mana mungkin mereka nyerahin diri mereka sendiri? Apa lagi suami mereka cuma satu orang dan penjual celana kolor. Wanita manapun juga pasti mikir dulu lah," Wito ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Bener tuh kata Wito, lagian wanita wanita kayak mereka, pasti inginnya menyerahkan diri dan mahkotanya kepada pria yang mereka cintai, logikanya tuh dipakai kalau mau ngomong," timpal Hendrik sambil menunjuk ke arah pelipisnya sendiri.
"Ya kan kali aja, Bos, kita kan nggak tahu selama mereka tinggal bersama, apa saja yang terjadi," balas Kamso.
__ADS_1
"Emang kalau mereka melakukan hubungan suami istri dimana? Rumah sekecil itu dan di isi banyak orang, masa iya mereka main di kamar mandi? Mikir!" ucap Hendrik agak keras. Emosinya terpancing dengan pemikiran anak buahnya itu.
"Mungkin Kamso mau pulang kali, Bos. Jadi dia mikir kayak gitu? Dia nggak butuh uang kali," ucap Wito yang sama kesalnya dengan perkataan Kamso.
"Ya bukan begitu maksud aku, Bos," ucap Kamso agak tergagap begitu merasakan aura kemarahan pada Bosnya.
"Terus maksudnya apa? Kalau kamu takut mending pergi sana! Ngapain aku piara orang macam kamu!"
Kamso memilih diam daripada melawan ucapan bosnya. Dia masih butuh uang untuk menyewa wanita menghangatkan ranjangnya. Bersamaan dengan itu, Hendrik mendapat telefon kalau orang yang disuruh Suryo telah sampai. Hendrik segera memerintahkan Wito untuk menjenguknya.
Waktu terus bergerak maju, hujan deras kini mengguyur kampung. Hingga terdengar suara merdu dari arah masjid, hujan belum ada tanda tanda mau reda. Sementara itu dari dalam kamar, Jiwo baru saja terbangun dari tidurnya. Mata Jiwo menatap Jam yang terpajang di dinding kamarnya. Sudah jam enam lebih sepuluh menit, berarti Jiwo tidur sekitar tiga jam. Jiwo melepas celananya dan menggantinya dengan sarung lalu beranjak keluar kamar menuju kamar mandi.
"Mister kenapa jadi hobby banget nggak mandi sore sih?" tanya Alana. Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tamu setelah selesai makan malam.
"Iya ih, jorok banget. Padahal pas awal nikah, tiap sore selalu wangi," sambung Alena.
"Katanya kalian ingin membuktikan bau badanku bikin nyaman apa enggak? Ya aku cuma ingin mewujudkannya saja," jawab Jiwo beralasan.
__ADS_1
"Loh? Kenapa malah kita yang dijadikan alasan?" protes Andin.
"Tapi emang bau badan Mister bikin nyaman sih, Malah lebih enak bau asem dari pada bau wangi," sontak saja semua nampak terkejut dengan apa yang Arum katakan. Jiwo yang merasa ada yang membela, langsung tersenyum lebar.
"Emang kamu sudah membuktikannya, Rum?" tanya Alifa.
"Lah, semalam kan jatah aku tidur sama Mister. Yang baunya paling enak itu, di ketiak sama di bulu bawah perut Mister, itu baunya bukin melayang layang loh."
Jiwo yang mendengar kejujuran Arum malah terkekeh. Bisa bisanya dia sangat berterus terang saat mengatakannya dan seperti tanpa beban, ringan banget.
"Nah, benar, kan, apa yang aku bilang," kini Anisa ikut bersuara. "Bau badan suami kita itu idaman banget. Kayaknya nggak ada laki laki yang bau badannya seenak suami kita."
"Benarkah?" tanya Arin dan Anisa mengangguk. "Kalau begitu kita buktikan ucapan Anisa dan Arum sekarang? Mumpung Mister lagi nggak mandi, bagaimana?"
"Siapa takut!"
Mata Jiwo sontak membelalak mendengar ajakan Arin. "Astaga! Kalian jangan gila!"
__ADS_1
...@@@@@@...