MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Ini Tentang Hati


__ADS_3

Begitu turun dari mobil setelah pulang dari pemeriksaan rutin ibu hamil, para istri Jiwo langsung masuk ke dalam meninggalkan suami mereka tanpa kata. Entah kenapa, sikap Jiwo tadi pagi yang meninggalkan ke lima istrinya setelah bertemu dengan mantannya yang sudah janda membuat mereka kecewa bersamaan. Dari yang hamil tua sampai yang belum hamil merasa kalau Jiwo kali bertindak sangat keterlaluan.


Ketiga belas wanita itu pun akhirnya berprasangka yang buruk pada suami mereka. Apalagi melihat kenyataan kalau sekarang mantan pacar Jiwo sudah menjadi janda dan Jiwo pernah cinta mati sama janda itu selama tujuh tahun lamanya, membuat para istri Jiwo yakin kalau Jiwo masih ada rasa di hatinya untuk janda itu.


Dan mereka juga pernah dengar dari Emak kalau Jiwo selalu dengan mudah memaafkan mantan pacarnya. Besar kemungkinan kali ini Jiwo mungkin juga akan luluh dengan rasa yang sama.


Para istri Jiwo langsung masuk ke kamar masing masing. Bahkan yang seharusnya berada di kamar utama, mereka malah enggan dan memilih bersama yang lainnnya. Sambil istirahat, mereka pun saling ngobrol satu sama lain. Begitu juga dengan Aisyah, Alana dan Andin. Mereka berada dalam satu kamar dan saling berbagi cerita.


"Apa kalian tidak mendengar sama sekali? Apa yang Mister dan mantannya bicarakan?" tanya Andin kepada Alana yang tadi pagi juga merasakan kecewa karena di tinggal begitu saja.


"Jarak kami lumayan jauh. Lagian, kita juga sengaja pengin lihat reaksi Mister bagaimana. Aku pikir, Mister akan mengusirnya atau marah atau gimana gitu, eh malah Mister terlihat biasa saja. Bahkan keduanya saling melempar senyum," balas Alana dengan wajah sendu.


"Ya wajar sih, dia pernah jadi wanita yang sangat spesial buat Mister, sedangkan kita, wanita yang merusak mimpinya. Yang ada malah jadi beban buat Mister. Jadi wajar saja kalau Mister tidak pernah mencintai kita," ucap Aisyah.

__ADS_1


"Terus? Apa arti sikap dan perhatian Mister selama ini? Padahal kita menikah hampir dua tahun, masa Mister sama sekali tidak pernah bisa mencintai kita? Minimal satu saja dari tiga belas istrinya?" cerca Andin.


"Bener, awalnya aku pikir alasan Mister tidak bisa mencintai salah satu dari kita karena tidak mau menyakiti hati yang lain. Tapi kejadian tadi pagi membuat aku sadar, Mister memang tidak bisa mencintai kita," balas Alana.


"Lalu kita harus bagaimana? Sedangkan diantara kita saja ada yang hamil anaknya? Apa dengan adanya mantan, lalu kita akan dibuang?"


"Siapa yang akan membuang kalian?" sebuah suara yang begitu keras dan lantang menghentikan obrolan ketiga wanita itu secara tiba tiba. Ketiga wanita yang ada di dalam kamarpun begitu terkejut dan langsung menoleh.


"Mister!" pekik Alana, Aisyah dan Andin hampir bersamaan. Dialah Jiwo, suami yang diam diam menguping pembicaraan mereka sedari tadi. Sungguh Jiwo tidak menyangka, sikapnya tadi pagj yang meninggalkan ke lima istrinya malah akan menjadi seperti ini.


Tak butuh waktu lama, kini semuanya sudah berada di ruang serba guna. Dengan berusaha menahan emosinya, kini Jiwo sudah berhadapan dengan ketiga belas istrinya. Suasana nampak begitu tegang.


"Sekarang jelaskan, apa maskud kalian berpikiran seperti itu? Dari mana kalian bisa menyimpulkan kalau aku akan membuang kalian? Katakan!" tanya Jiwo dengan sikap setenang mungkin. Matanya menatap tajam para istri yang sedang saling pandang, berdikusi lewat mata.

__ADS_1


"Dari kejadian tadi pagi di bendungan," jawab Anisa mencoba tenang. Padahal perasaannya takut bukan main.


"Bagaimana bisa kalian menyimpulkan seperti itu hanya gara gara kejadian sepele? Bukankah aku sudah mengajak kalian pulang? Terus dimana salahnya?" cerca Jiwo dan tentu saja ucapan Jiwo barusan membuat para istri Jiwo sangat terkejut.


"Sepele?" tanya Arin. "Mister meninggalkan kami yang sedang dalam hamil besar, dan Mister anggap itu hal sepele?"


"Lah terus?" balas Jiwo.


"Bagi Mister, mungkin jarak ke bendungan sampai rumah dianggap sangat enteng, tapi bagi kami yang hamil besar, kami harus berjalan pelan pelan dengan menahan segala rasa. Lelah, sesak, sebentar sebentar berhenti untuk ngatur nafas, agar bayi dalam kandungan kita baik baik saja, bahkan Mister tahu hal itu. Tapi Mister menganggapnya hanya masalah sepele?" Alana yang bersuara dan ucapannya sukses membuat Jiwo syok bukan main.


"Kami mungkin salah karena ngeledekin Mister dan kami minta maaf untuk itu. Tapi bukan berarti Mister harus berubah sikap setelah bertemu dan ngobrol sama mantan Mister. Kami tahu banget, Mister dua kali ngajak pulang. Tapi sikap Mister sangat mengecewakan tahu nggak?" sambung Aluna dengan bibir yang bergetar. Jiwo semakin terbungkam. Amarah yang tadi berkobar kini telah padam berganti rasa bersalah yang sangat dalam.


"Sekarang saya tanya sama Mister, apa arti keberadaan kami dihati Mister sebenarnya? Apa!"

__ADS_1


Deg!


...@@@@@@...


__ADS_2