MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Mencari Informasi


__ADS_3

"Kira kira dari tiga belas wanita itu, siapa yang akan kamu resmikan pernikahannya secara negara, Wo?"


Jiwo yang sedang sibuk mengunyah makanan, seketika menghentikan gerakan mulutnya. Pertama dia melempar tatapannya ke arah sang kakak, lalu beralih ke kakak ipar dan selanjutnya ke arah dua istrinya dan kembali ke kakaknya. Sedangkan keponakan kembarnya Jiwo abaikan.


"Belum tahu, Mas," jawab Jiwo tenang.


"Segera dipikirkan, Wo, sebelum kamu punya anak. Nggak mungkin, kamu selamanya berada dalam pernikahan secara agama. Paling tidak, ada yang harus di sah kan secara negara juga. Agar kedepannya tidak ada masalah lagi," ucap Kakak Jiwo menasehati.


"Iya, Wo, apa lagi selama ini, istri istri kamu enak diajak musyawarah. Mbak sih yakin mereka juga akan mengerti jika semuanya di musyawarahkan dulu," sambung kakak ipar.


"Baik, Mbak. Besok kalau pulang. aku akan membicarakan dengan mereka."


Kakak dan istrinya saling mengangguk, sedangkan Jiwo dan kedua istrinya saling tatap. Jiwo melempar senyum tipis seakan memberi tanda kalau semuanya bakalan baik baik saja.


"Biar bagaimanapun, semua harus dipikirkan, Wo. Tidak bisa seenaknya," sambung sang kakak kembali. "Terus masalah kependudukan mereka gimana? Itu juga harus kamu pikirkan, agar istri istri kamu tidak selamanya dikatakan penduduk ilegal. Meski jadi warga negara sini sangat sulit, setidaknya mereka juga butuh alat identitas mereka.".


"Kemarin sih, aku sudah tanya tanya sama pihak kedutaan dari negara mereka, Mas. Dan pihak kedutaan siap bantuin kok, Mas."


"Ya bagus kalau gitu, tinggal turuti aja apa yang kira kira disuruh mereka. Selama itu baik ya lakukan," balas sang kakak. Saran dan nasehatnya memang perlu menjadi bahan pertimbangan.


"Mas Bayu kok bisa tahu segalanya ya?" tanya Alifa merasa takjub.


"Iya, bisa cerdas gitu. Anak anak Mas Bayu pasti cerdas cerdas juga, ya?" Alana menimpali.


"Pasti dong, Bibi," jawab si kembar hampir bersamaan.

__ADS_1


"Cih! Cerdas dari mana?" tanya Jiwo dengan nada mengejek.


"Ada deh, rahasia anak muda."


"Dih!"


Semua serentak tersenyum lebar melihat tingkah Jiwo dan keponakannya yang memang suka saling meledek.


Acara makan bersama pun usai tapi obrolan masih berlanjut hingga tanpa terasa malam terus menuju larut. Bersama dua istrinya, Jiwo kini berada di dalam kamar salah satu keponakan kembarnya. Seperti biasa, jika Jiwo berkunjung pasti salah satu keponakan harus merelakan kamarnya di pinjam sang paman.


"Emang dinegara ini, syarat berpoligami apa aja, Mister?" Alifa membuka percakapan saat mereka sudah membaringkan badannya.


"Aku sih kurang tahu banyak. Tapi dengar dengar nggak boleh melebihi dari empat wanita," jawab Jiwo dengan tangan yang membekap dua wanita di sisinya. Sejak jadwal bergilir diganti, Jiwo selalu mengambil posisi di tengah tiap menjelang tidur.


"Coba cari di internet, Mister. Kali aja ada," usul Alana.


Alana bangkit meraih tas yang tergeletak di atas di atas lantai. Kamar keponakan Jiwo memang sama seperti kamar anak muda pria pada umumnya. Kasurnya dibiarkan saja tergeletak di lantai. Karena Jiwo menginap bersama istrinya, jadi sang kakak menambahkan kasur lagi yang biasa digunakan buat cadangan.


Jiwo dan Alifa pun ikut bangkit begitu Alana menyerahkan ponsel kepada suaminya. Jiwo langung. Begitu ponsel sudah berada dalam genggaman, Jiwo langsung menuju ke laman pencarian untuk mencari info tentang syarat dan poligami yang berlaku di negara ini.


"Bagaimana, Mister?" tanya Alifa yang sudah penasaran.


"Yah, seperti pada umumnya sih. Harus adil, herus atas ijin istri pertama. Tapi kan aku nggak tahu istri pertama aku siapa, Dek."


"Iya, yah. Mister nikahin kita juga waktunya bersama gitu, jadi kita nggak tahu siapa istri pertama," Alana menimpali.

__ADS_1


"Apa jangan jangan Aisyah yang pertama? Kan, waktu akad, Aisyah yang duluan kan?" ucap Alifa mengingatkan.


"Bisa saja tuh."


"Tapi kalau menurutku, kalian semua itu yang pertama. Nggak ada yang kedua, ketiga atau yang terakhir, Dek. Dan semoga saja kalian juga yang terakhir untuk hidupku."


"Ceilah ... Mister manis banget sih? Aku jadi tambah sayang deh," ucap Alifa, lalu dia memajukan wajahnya ke arah Jiwo dan mendaratkan bibirnya di pipi sang suami.


"Aku juga, aku semakin sayang sama suamiku ini," Alana pun melakukan hal yang sama pada pipi Jiwo.


"Aku juga sayang sama kalian, semoga istri istriku, selalu saling menyayangi satu sama lain. Nggak ada pertengkaran yang bisa merusak kedamaian rumah tangga kita."


"Aamiin."


"Ya sudah, untuk masalah ini, kita bahas saja nanti di rumah. Lebih baik sekarang kita tidur."


"Yuk!"


"Tapi jangan lupa, Sayang!"


"Apa, Mister?"


"Tidurnya sambil pegangin isi celana aku."


"Oke!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2