MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kepastian Menjadi Bintang


__ADS_3

Jiwo masih merebahkan badannya di atas kasur dalam kamarnya. Dengan berbantal kedua telapak tangannya, senyum Jiwo terkembang dengan mata yang menatap langit langit kamar. Pikirannya berkelana membayangkan kejadian kejadian yang dia alami sejak lebih dari satu bulan yang lalu, dia dipertemukan secara mengejutkan dengan tiga belas wanita yang sekarang menjadi istrinya.


Tak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiran Jiwo, perjalanan hidupnya akan menjadi semanis ini. Memiliki istri banyak, tidak pernah ada dalam bayangan masa depan pemuda itu. Dulu impian Jiwo sama seperti pria pada umumnya. Menikahi satu wanita dalam hidupnya. Tapi itu hanya cita cita yang sangat berbeda jauh dari kenyataann saat ini.


"Mister," suara salah satu istrinya membuyarkan segala lamunan yang sedang Jiwo bayangkan. Jiwo menoleh dan seketika matanya sedikit membelalak saat melihat satu persatu istrinya memasuki kamar.


"Kalian pada mau ngapain?" tanya Jiwo sembari bangkit dan duduk di atas kasur.


"Kumpul di kamar Mister," jawab Alifa enteng. Satu persatu istri Jiwo mendudukan dirinya diberbagai sisi yang ada di kamar itu.


"Iya, Mister, sekali kali kita kumpul di kamar. Jangan hanya sedang berhubungan badan saja kita berada di kamar ini," sambung Aisyah.


"Tapi kan kamar aku sempit, Sayang?" balas Jiwo.


"Lubang aku yang sempit aja, bisa dimasukin isi celana Mister yang gede dan panjang. Masa kamar nggak bisa dimasukin tiga belas wanita?" ucap Arum asal.


"Astaga! Apa hubungannya?"


"Nggak ada, hehehe ..."


"Haiss ..."


"Lagian kenapa sih Mister protes? Orang kamar dimasukin istri buat ngumpul aja kayak nggak senang," ucap Anisa mengeluarkan tuduhan mautnya, dan ucapan itu sukses membuat Jiwo mengalah dari pada terjadi perdebatan.

__ADS_1


"Iya, aneh banget, masa kita masuk ke kamar ini saat akan setor lubang aja," ucap Arin ikut menggerutu.


"Iya, iya, maaf," ucap Jiwo akhirnya pasrah. Daripada nanti dia dikeroyok. "Ada apa? Apa ada yang mau dibicarakan?"


"Loh? Masa Mister tanya gitu? Harusnya kan Mister tahu, apa yang harus kita lakukan?" protes Aluna.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jiwo dengan wajah kebingungan. Para istri serentak mengangguk. "Kita bercinta satu lawan tiga belas gitu maskudnya? Astaga!"


"Kok jadi satu lawan tiga belas sih? Emang Mister sanggup?" Adiba juga bersuara.


"Terus apa dong?" tanya Jiwo lagi semakin bingung.


"Ya ampun, Mister. Barang dagangan di pasar kan stoknya tinggal sedikit banget, terus acara televisi bagaimana? Itu kan harus dibicarakan?" terang Anisa.


Para istri hanya bisa geleng geleng kepala. Jiwo yang posisinya diantara para istri agak kebingungan buat bergerak mengambil tas dan buku catatan. Akhirnya dia menyuruh salah satu istrinya untuk mengambil apa yang dia butuhkan.


"Mister, boleh usul?" tanya Andin.


"Usul gimana?" tanya Jiwo.


"Gimana kalau kita rame rame belanjanya, Mister? Kita semua ngikut gitu?" balas Andin.


"Iya, Mister. Kita semua ikut, pasti seru itu," Arin menimpali.

__ADS_1


"Aku sih mau mau saja. Tapi, kalau kita ikut semua, terus yang jagain Emak siapa? Lagian kalau kita ikut semua, kita bakalan nginap dimana? Rumah kakakku kan nggak gede kayak rumah ini?"


"Ah iya, kasihan Emak kalau ditinggal sendirian," ucap Aisyah. "Terus enaknya gimana, Mister?"


"Ya seperti biasanya kayak jadwal bergilir yang kemarin aja. Tapi karena sekarang yang bergilir tiap malam dua orang, berarti yang ikut belanja jadi dua orang juga."


"Kayak gitu juga lebih bagus. Tapi soal undangan televisi bagaimana? Pasti kita sedang ditunggu keputusannya?"


"Untuk soal undangan acara televisi, mending kita kasih kepastian secepatnya deh, Mister. Bukankah yang ngasih jadwal kapan kita tayang itu dari pihak mereka? Jadi kita bisa ambil tindakan dan persiapan yang matang, Mister, gimana?" saran Aziza.


"Nah, iya tuh bener kata Aziza, kita kasih kepastian dulu kalau kita sanggup dan untuk jadwal nanti bisa dibicarakan dengan pihak televisi, ide bagus, Mister," timpal Alena.


"Ya udah, kalau sudah kayak begini, berarti kalian mau ya tampil di televisi?" tanya Jiwo memastikan.


"Siap, Mister."


Senyum Jiwo langsung terkembang, kini mereka tinnggal membahas soal dagangan serta menghitung hasil penjualan hari itu. Hingga tanpa terasa waktu terus melaju dan mereka telah selesai dengan kegiatan di sore itu.


Kini lagi lagi malam telah menyapa. Semua penghuni rumah Jiwo telah masuk ke dalam kamar masing masing. Padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul delapan kurang, Tapi mereka memilih langsung masuk kamar. Begitu juga dengan Emak.


Dan malam ini juga, Jiwo kembali sekamar dengan dua istrinya. Jatah bergilir malam ini adalah Alana dan Anisa, dua istri Jiwo yang cantik tapi bar barnya bukan main. Jiwo meneguk jamu yang sudah disediakan, setelah itu dia menatap dua istrinya yang sudah terbaring pasrah hingga Jiwo menyeringai.


"Saatnya bikin anak di mulai!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2