MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Pilihan Sulit Bagi Malik


__ADS_3

"Sekarang giliran Malik yang menjelaskan, Pak Lurah. Ada hubungan apa Malik dengan orang ini?" tanya Jiwo agak mendesak. Senyum sinisnya tersungging saat mata Jiwo beradu dengan tatapan Malik yang tajam.


"Iya, Pak. Kita penasaran, ada hubungan apa Malik dengan para penjahat ini?" salah satu warga ikut menimpali.


Kini semua mata menatap ke arah Malik. Mereka menuntut penjelasan dari pria beranak satu tersebut. Awalnya Malik bingung hendak menjawab pertanyaan orang orang termasuk ayahnya dengan jawaban seperi apa. Tapi ketika matanya menatap Jiwo, Malik sepertinya menemukan jawaban yang tepat.


"Pak, Bapak butuh bukti, kan? Kalau istri istri Jiwo itu bukan wanita baik baik?" tanya Malik kepada Ayahnya.


"Iya, terus?" balas Pak Lurah.


"Ya dia orangnya, Pak. Yang tahu kebenaran istri istri Jiwo, dia buktinya," ucap Malik sambil menunjuk ke arah Bejo.


"Terus dengan bodohnya kamu percaya?" ejek Pak Lurah pada anaknya. "Sekarang kamu lihat dengan mata kepalamu sendiri mereka itu siapa? Kriminal! Kamu mau dituduh kerja sama dengan penjahat itu dan masuk penjara?"


Malik dan Titin sontak membuka matanya lebar lebar mendengar pertanyaan Pak Lurah. Sudah pasti mereka tidak mau berakhir dipenjara.

__ADS_1


"Ya nggak mau lah, Pak," tolak Malik lantang.


"Kalau nggak mau, terus kenapa kamu bikin keributan di rumah Jiwo?" tanya Pak Lurah nampak sekali emosi. Dia sangat malu dengan perbuatan anak dan menantunya itu hingga dia lepas kendali dan memarahi mereka di depan Jiwo dan yang lainnya.


Malik terdiam. Pertanyaan Sang Ayah tidak mampu dia jawab karena dia sendiri terbukti telah salah tuduh. Sama seperti Malik, Titin juga terdiam sembari menunduk. Wanita itu memang paling takut jika mertua laki lakinya sudah murka. Apa lagi kejadian di depan rumah Jiwo kemarin adalah murni fitnahan dia yang memutar balikkan fakta.


"Sekarang kalian lihat dengan mata kepala kalian sendiri, kan? Telinga kalian juga pasti sudah mendengar siapa pria itu dan apa tujuannya mengejar istri istri Jiwo?"


"Iya, Pak," jawab sepasang suami istri itu sambil menunduk. Mereka sangat malu dimarahi Bapak dihadapan para tamu. Apa lagi diantara tamu itu ada pria yang mereka benci. Makin terasa malu lah mereka dibuatnya.


"Besok, kalian ajak Darmi untuk minta maaf kepada keluarga Jiwo. Kalau nggak mau, Bapak sendiri yang akan memberi hukuman pada kalian, mengerti?"


Jika boleh jujur, sebenarnya Jiwo dan yang lain merasa tidak enak hati melihat Malik dan Titin dimarahi dihadapan mereka. Apa lagi Jiwo yang menjadi pangkal dari permasalahan yang ada. Namun memang inilah yang Jiwo inginkan. Membungkam mulut Malik dan Titin dengan bukti yang dia bawa.


"Ya sudah Pak Lurah, hanya ini yang mau kami tunjukkan, maaf telah membuat rumah Pak Lurah gaduh," ucap Jiwo. Dia tidak ingin berlama lama dalam keadaan yang menegangkan seperti saat ini. Ditambah lagi dua sudah cukup puas membungkam mulut Malik dan Titin, jadi dia tidak mau memperpanjang masalah.

__ADS_1


"Baiklah, saya juga minta maaf atas kelakuan anak saya ya, Wo? Entah apa yang salah dengan jalan pikiran dia, bisa percaya begitu saja dengan orang yang baru dia kenal. Benar benar mirip anak kecil," balas Pak Lurah.


Jiwo mengulas senyum, lalu dia juga berterima kasih pada Pak Lurah. Setelah saling meminta maaf dan berterimakasih, Jiwo dan yang lainnya pamit undur diri untuk menindak Bejo dan kawan kawan. Entah mereka akan dipolisikan atau tidak, yang jelas Jiwo harus bisa menentukan jalan terbaik untuk istri istrinya.


Sementara di dalam kamarnya, Malik terlihat sedang uring uringan. Dia tak habis pikir rencana yang sudah dia susun dengan matang, harus runtuh begitu saja sebelum terlaksana. Yang membuat dia semakin frustasi, Jiwo lah yang menggagalkan rencananya dan dia juga harus minta maaf secara langsung.


"ah, sial! Kenapa malah aku yang harus minta maaf?" keluh Malik terlihat sangat kesal.


"Lah terus? Kalau nggak minta maaf? Nanti bapak malah makin murka sama kita," ucap Titin. Namun ucapan wanita itu malah membuat Malik jadi emosi.


"Semua itu gara gara kamu!" hardik Malik tajam. "Coba kamu nggak fitnah Jiwo kemarin, masalahnya nggak akan seperti ini."


"Loh kok aku? Aku kan cuma pengin cerita ke Ibu, eh Ibu malah kepancing emosi," balas Titin membela diri. Dia benar benar tidak mau disalahkan dalam hal ini.


"Harusnya kamu nggak usah cerita! Besok kamu ke rumah, suruh Ibu minta maaf pada Jiwo," perintah Malik sembari keluar dari kamarnya guna meredam emosi.

__ADS_1


"Bener bener sial! Kenapa sih, Jiwo selalu saja beruntung?" umpat Titin.


...@@@@@...


__ADS_2