
"Bodoh! Kerja kayak gitu aja, nggak becus!".
"Ya sorry, Bos, kan tadi lihat sendiri keadaannya gimana?"
"Kurang sat set! Coba kalau tadi kamu langsung gerak begitu penjaga toilet pergi, pasti bakalan berhasil. Keadaan sangat mendukung kayak gitu malah gagal!"
Wito memilih diam daripada mendebat sang bos untuk membela diri. Bagi Wito percuma membela diri, ujung ujungnya dirinya akan tetap disalahkan. Padahal kegagalan rencana juga karena keteledoran Hendrik dan Kamso. Di saat Jiwo datang ke toilet, Hendrik dan Kamso sedang pergi sebentar membeli rokok di lapak sebelahnya, sehingga kejadian di toilet lepas dari pantauan. Mereka kembali ke tempat pemantauan dalam keadan Wito sudah tersudut.
Saat ini ketiganya memutuskan duduk di warung kopi yang ada di pinggiran jalan dekat pasar. Hendrik dan anak buahnya harus mencari kesempatan lain serta rencana agar mendapatkan wanita wanita itu lebih cepat. Entah kenapa dua kali rencananya gagal, bahkan sedang di proses polisi, tidak menimbulkan efek jera bagi Hendrik. Dia malah semakin tertantang untuk terus mengejar wanita wanita itu.
Jiwo dan Arum memutuskan segera pulang ke rumah. Tapi sebelum dia pulang, Jiwo menghampiri Emak dan ketiga istri yang lain untuk memastikan keselamatan mereka. Kejadian di toilet membuat Jiwo kali ini harus bersikap waspada. Apa lagi orang yang tadi ketangkap basah bisa kabur dengan mudah, makanya Jiwo mengawasi istri istrinya dulu dan memastikan tidak ada yang mengikuti mereka. Setelah memastikan Emak dan para istri berada di angkot, Jiwo langsung menjalankan motornya.
Sebelum sampai rumah, Jiwo mampir terlebih dahulu ke sebuah counter hp. Jiwo memilih dua ponsel yang harganya tidak terlalu mahal. Bagi Jiwo yang penting bisa untuk komunikasi. Untuk urusan sosial media atau yang lainnya, menggunakan yang dibutuhkan saja. Setelah urusan ponsel selesai, Jiwo langsunh melajukan motornya menuju arah pulang.
Saat Jiwo sampai di halaman rumahnya, dia dibuat kaget dengan adanya anak anak kecil berada di sana. Entah apa yang sedang dilakukan anak anak itu, yang jelas di sana juga ada beberapa ibu ibu tetangga dan juga istri istri Jiwo.
"Ini ada apa? Kok tumben pada berkumpul di sini? Apa pada nggak sekolah?" tanya Jiwo bertubi tubi setelah memarkirkan motornya dan menghampiri kerumunan di teras rumahnya.
__ADS_1
"Ini, Wo, anak anak pengin di ajarin bela diri sama istrimu," jawab salah satu ibu yang sontak membuat Jiwo terkejut. Tatapannya langsung tertuju kepada dua wanita yang sedang cecengesan dan duduk di atas tembok tepi teras.
"Bela diri?"
"Iya, ini juga anak anak yang minta, katanya istrimu nunggu ijin dulu dari kamu."
"Ijinkan aja, Wo, biar sekalian istrimu bisa mengembangkan bakatnya," sambung tetangga yang lain.
"Emang kalian tahu istri saya ada yang bisa bela diri darimana?"
"Ya kan tiap hari istrimu berlatih, kan? Apa lagi saat mengalahkan penjahat, keren pokoknya."
Jiwo terlihat sedang berpikir, hingga beberapa saat kemudian dia berkata, "Baiklah, nanti aku bicarakan dulu sama istri istriku."
Beberapa Ibu yang ada disana tampak tersenyum senang. Mereka setuju dengan ucapan Jiwo barusan. Dengan sendirinya, mereka memilih pulang ke rumahnya masing masing. Jiwo duduk di kursi teras dan meletakkan godie bag di atas meja di sebelah kanannya.
"Itu apa, Mister?" tanya Anisa sambil berpindah tempat duduk dari tembok ke kursi. Anisa meraih godie bag dan membuka isinya. "Wah, ponsel!"
__ADS_1
Andin langsung mendekat dan mengambil salah satu ponsel di tangan Anisa. "Berapaan ini, Mister?" tanya Andin langsung membuka kemasan ponsel dan mengambil isinya.
"Murah, yang penting bisa buat komunikasi," balas Jiwo. Istri istri Jiwo yang lain pun nampak bergabung di teras.
"Kok beli dua, Mister? Kami kan mintanya satu?" ucap Aisyah.
"Nggak apa apa, siapa tahu nanti juga dibutuhkan," balas Jiwo, dan para istri langsung terdiam serta mengangguk.
"Oh iya, Mister, tadi di pasar ada apa sih? Kata Adiba ada kejadian buruk di toilet?" tanya Anisa.
"Iya, ada pria mesum tadi. Entah mau ngapain, tiba tiba mau masuk ke toilet cewek."
"Kok bisa, Mister? Gimana ceritanya?" tanya Anisa lagi. Jiwo lantas menceritakan semuanya dari awal hingga orang yang dicurigai mau mesum kabur.
"Kok aneh ya, Mister. Apa beneran, orang itu mau mesum?" ucap Andin.
"Anehnya gimana?"
__ADS_1
"Apa mungkin Adiba sebenarnya sudah diikuti sejak menuju toilet? Buktinya tadi Mister cerita, penjaga toilet mengira pria itu suami Adiba, otomatis pria itu datang bersama Adiba, kan? bukankah itu aneh?"
...@@@@@...