
Waktu terus melangkah maju dan hidup juga harus terus berjalan. Setelah melewati masalah demi masalah yang cukup menyita banyak waktu, Jiwo beserta ketiga belas istrinya kembali dihadapkan pada rutinitas yang sudah terbiasa mereka jalani.
Seperti hari ini, Jiwo sedang dalam perjalanan pulang bersama dua istrinya setelah berbelanja barang dagangan. Kali ini barang belanjaan yang dibeli bertambah banyak dan makin beragam. Sedangkan di rumah, seperti biasanya mereka berbagi tugas.
Hari ini juga, Emak sendiri sudah mulai berjualan kembali. Sama seperti sebelumnya, Emak berjualan dengan ditemani tiga menantunya. Sebenarnya Jiwo dan para istri sudah menyuruh Emak untuk istirahat di rumah dan yang untuk jualan biarkan para istri Jiwo yang turun tangan. Tapi Emak menolaknya karena Emak tidak mau bengong di rumah.
Ada yang berbeda dari jualan Emak kali ini. Dalam waktu kurang dari tiga jam, barang dagangan Emak sudah nyaris habis. Sedari tadi mereka sampai di pasar, ketiga istri Jiwo hampir tidak punya jeda untuk istirahat karena selalu saja melayani. Mungkin karena faktor mereka pernah viral, mejadikan jajanan yang dijual Emak ikut laku keras.
Tepat pukul sembilan Emak dan tiga menantunya sudah bisa pulang dengan barang dagangn yang bersih tanpa sisa. Bubur sumsum, klepon, lupis, cenil, semua benar benar ludes diserbu pembeli.
"Mak, bikin dagangannya di perbanyak aja, Mak. Mumpung lagi rame," usul Alena begitu mereka turun dari angkot dan berjalan kaki menuju rumahnya.
"Nggak usah," tolak Emak.
"Kenapa, Mak?"
"Kita tidak tahu apa yang terjadi dengan hari esok. Bisa jadi hari ini begitu rame jualannya, tapi esok hari malah sepi. Siapa yang rugi?"
"Tapi kan kalau dagangan sepi, kita bisa bantu jualan keliling, Mak?"
"Iya, Mak. Atau gini aja Mak, kita bagi tugas. Dua orang jualan keliling dan dua orang jualan di tempat. Nggak perlu nunggu sepi terus baru jualan keliling, gimana, Mak?"
"Ide bagus tuh, Dib. Bener tuh, Mak. Nanti yang jualan di tempat, Emak sama menantu yang menamani Emak, dan dua menantu yang lain jualan keliling pasar."
__ADS_1
"Apa kalian tidak malu?"
"Astaga! Ngapain harus malu, Mak. Suami kita aja yang wajahnya tampan nggak malu jualan keliling, masa kita sebagai istrinya harus malu sih?"
Emak sontak mengulas senyum, lalu diapun menyetujui usulan ketiga menantunya dengan cacatan harus ada ijin dulu dari suami mereka. Tentu saja ketiga istri Jiwo sangat senang. Hingga tanpa terasa Emak dan ketiga menantunya sampai di rumah.
Selang beberapa jam kemudian, mobil yang dikendari Jiwo juga nampak memasuki halaman rumahnya. Seperti biasanya juga, para istri langsung menyambut suami mereka dengan berbaur keluar rumah.
"Biar aku aja yang menurunkan, Sayang. Itu berat berat loh," larang Jiwo saat melihat istri istrinya menggeser karung dan bersama sama menurunkannya dari atas mobil dan hendak membawanya ke dalam.
"Nggak apa apa, Mister. Kan kita rame rame ngerjainnya. Nggak berat kok."
Jiwo hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dia tahu, pasti istrinya bakalan menolak. Akhirnya dia juga turun tangan membantu mereka.
"Kamu kok pinter banget bikin makanan seperti ini sih, Dek? Ini namanya apa, Dek?" tanya Jiwo sambil sepotong cemilan dari tepung beras, gula dan santan kental tersebut. Tanpa menyebut nama, para istri Jiwo tahu siapa istri yang dilempar pertanyaan oleh suaminya.
"Itu namanya kue talam, Mister. Itukan jajanan khas negeri ini," jawab Aisyah.
"Enak kan, Mister? Aisyah memang jago bikin makanan enak," puji istri yang lain.
"Hebat apaan, tanpa kalian juga belum tentu aku bisa bikin makanan kayak gitu," balas Aisyah.
"Ya kan kita cuma ngebantu campur adonan doang, urusan rasa, kamu jagonya."
__ADS_1
"Huh! Kaliian ini, kalau muji jangan ketinggian, nanti aku nggak bisa turun gimana?"
"Hahaha ... bisa aja kamu, Ais."
Jiwo yang menyaksikan interaksi para istrinya juga ikut tertawa. Betapa hati Jiwo saat ini begitu damai melihat para istri yang selalu kompak dan akur hingga detik ini.
"Berarti besok kamu udah mulai jualan?"
"Iya, Mister, doain ya? Biar semuanya lancar?"
"Tentu, Sayang. Aku selalu mendoakan setiap niat baik kalian. Dan aku juga minta maaf, karena kalian jadi ikut turun tangan mencari nafkah."
"Apaan sih, Mister? Pake minta maaf segala? Sudah sewajarnya kan? Kita bantuin suami? Jangan sedikit sedikit minta maaf. Kayak sama siapa aja."
Jiwo sontak kembali tersenyum lebar. "Iya iya," balas Jiwo mengalah.
"Mister."
"Iya, Sayang? Ada apa?"
"Katanya mau membahas soal pernikahan secara negara? Bahas sekarang aja sekalian?"
"Pernikahan secara negara? Mister mau menikah lagi?"
__ADS_1
...@@@@@@@...