
Waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit. Siang yang cerah, kini sudah berganti malam penuh bintang. Di saat itu juga Jiwo baru saja membuka matanya setelah sekitar tiga jam terlelap melepas penat.
Sejak masih remaja, entah kenapa Jiwo sangat malas mandi pada sore hari. Jika tidak ada keperluan atau kemarahan orang tuanya, Jiwo akan melewati mandi sore begitu saja. Tak peduli berkeringat seharian atau tidak, Jiwo memilih mengabaikan mandi sore.
Ceramah orang tua kerap sekali meluncur jika Jiwo melewatkan mandi sore. Jika orang tua sudah murka baru dia melakukan mandi sore dengan sangat terpaksa. Tapi saat Jiwo sedang rajin sekali melaksanakan mandi sore, orang tuanya justru merasa heran. Bahkan juga kadang keluar kata ledekan jika anak kedua itu rajin mandi sore.
Dan sekarang, kebiasaan tidak mandi sore, dia bawa hingga memiliki istri. Beruntungnya, meski istri Jiwo banyak, mereka semua menyukai bau badan Jiwo. Bahkan bau badan Jiwo yang asamnya bukan main, menjadi bau favorit yang nikmatnya tidak ada tandingannya menurut para istri.
Sore tadi, Jiwo memilih istirahat di kamar lamanya. Mungkin karena jaraknya lebih dekat dari pintu masuk daripada ke kamar utama yang ada di rumah baru. Jiwo segera bangkit, meregangkan otot sejenak lalu beranjak keluar kamar. Di luar kamar, beberapa istrinya terlihat sedang mempersiapkan bahan bahan dagangan Emak dan Aisyah. Sedangkan istri yang lain kemungkinan lagi istirahat di rumah sebelah.
"Mister mau langsung makan?" tawar Anum dan Jiwo mengangguk. Istirahat siang ternyata mampu melepaskan beban yang sedang Jiwo pikirkan. Dia saat ini terlihat lebih tenang, tidak sama seperti tadi siang sebelum tidur.
Dengan ditemani oleh Anum, Jiwo melahap hidangan yang tersaji dengan semangat. Mungkin perutnya benar benar merasa lapar, jadi Jiwo terlihat sangat menikmati hidangannya tanpa adanya percakapan. Anum hanya bisa senyum senyum memperhatikan sang suami yang sedang menikmati makan malamnya.
"Kenapa senyum senyum gitu dek? Ada yang salah dengan suami kamu ini?" tanya Jiwo sesaat setelah dia merasa sang istri sedang memperhatikannya.
"Enggak ada, lagi menikmati ketampanan suamiku saja, makin kesini kok tampannya makin kesana," puji Anum tanpa mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Sontak saja, Jiwo langsung salah tingkah mendengar pujian sang istri. "Bisa aja kamu, Dek. Pasti muji muji kayak gitu lagi ada maunya ya? Hayo ngaku?"
Anum sontak tergelak. "Hahaha ... ya enggaklah, Sayang. Mister itu memang makin kesini makin tampan. Apa yang Mister lakukan dan dalam keadaan apapun, Mister terlihat sangat tampan. Lagi makan, bangun tidur, nggak mandi, saat senyum, saat marah, saat tertawa, selalu terlihat tampan. Apalagi saat berkeringat sambil menyodok nyodokkan isi celana Mister ke dalam lubang nikmatku, Mister terlihat tampan banget."
Hahaha ..." Jiwo sampai tergelak di puji puji istrinya. "Bisa aja kamu, Dek."
"Tapi bener kok kata Anum, saat tubuh Mister berada di atas tubuhku sambil sodok sodok lubangku. Ketampanan Mister naik seribu derajat. Bikin panas," Arum menimpali.
"Nah kan, ucapanku benar, Mister makin kesini malah makin tampan?" ucap Anum dengan bangganya.
Jiwo hanya bisa tersenyum lebar, tidak bisa berkata kata lagi. Emak yang mendengar ucapan menantunya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tapi Emak senang menyaksikan semua menantunya sangat menyayangi anaknya.
Begitu mereka duduk, Anum langsung membuka kancing daster dan mengeluarkan bukit kembarnya. Jiwo pun tahu apa yang harus dia lakukan. Wajah Jiwo maju dan mulutnya langsung melahap pucuk bukit kembar istrinya sebagai ganti rokok.
Tak lama kemudian istri istri yang lain pun bertanganan di tempat yang sama. Kening Jiwo berkerut, merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya. Jiwo sontak melepaskan pucuk benda kenyal milik Anum.
"Kalian kenapa? Kok lihatinnya begitu banget? Ada masalah?" tanya Jiwo.
__ADS_1
"Harusnya kami yang bertanya, Mister kenapa? Apa yang terjadi pada Mister tadi siang?" tanya Alifa.
Kening Jiwo kembali berkerut. "Apa yang terjadi tadi siang? Emang apa yang terjadi?"
"Loh? Masa Mister lupa?" tanya Andin.
"Serius, aku lupa. Memang apa yang terjadi, Sayang?"
"Tadi pas Mister pulang dari pasar burung bersama teman teman, tiba tiba Mister diam terus. Bukan hanya pas di lapak, di rumah juga. Habis makan siang saja, Mister nampak lesu. Mister seperi memkikirkan sesuatu yang sangat berat. Sampai aku nyodorin dada, Mister nolak. Kita kan jadi penasaran, apa yang terjadi saat Mister bersama teman Mister tadi," terang Adiba.
Jiwo langsung berpikir sejenak lalu dia ingat semua pembicaraannya dengan dua sahabatnya. Jiwo lantas menatap istrinya satu persatu dengan perasaan yang tidak menentu.Entah kenapa hatinya jadi terasa berat kembali saat mengingat apa yang akan dia ceritakan.
"Ada apa, Mister? Mister bertengkar dengan teman Mister?" tanya Arin.
"Bukan, udah tua, ngapain bertengkar," balas Jiwo.
"Terus apa yang terjadi? Coba ceritakan?" desak Alana.
__ADS_1
Jiwo menghembus kasar nafasnya. "Baiklah, aku akan ceritakan apa yang sedang aku pikirkan."
...@@@@@...