MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Amarah Yang Meluap


__ADS_3

"Hei, Malik! Keluar kau, pengecut!" suara lantang seorang pria yang diliputi rasa penuh amarah, menggelegar di depan sebuah ruko sembako. Sontak saja suara teriakan pria yang namanya viral itu mengundang perhatian bagi seluruh orang yang ada disana.


"Malik!" teriaknya lagi. Amarahnya kepada pemilik kios yang ada di hadapannya benar benar sudah tidak bisa terbendung lagi. Dia terlalu murka karena hidupnya selalu di usik oleh seseorang yang masih tidak terima dengan keputusan masa lalu yang terjadi diantara mereka.


"Malik! Keluar!" teriaknya lagi. Pria itu menatap pelayan yang mematung dengan wajah takut sedang berada di dalam ruko itu. " Panggil bosmu! suruh dia keluar! Kalau nggak mau, akan aku hancurkan kios ini!"


Sang pelayan pun gelagapan. Dia segera saja naik ke lantai atas untuk memanggil sang Bos. Betapa kagetnya pelayan toko itu saat melihat Malik. Ternyata dia dan istrinya sedang duduk dengan wajah panik.


"Pak, itu dibawah ada yang mencari Bapak," ucap si Pelayan agak terbata.


"Biarin aja, nggak usah diladenin," ucap Malik mencoba acuh. Padahal hatinya ketar ketir bukan main.


"Tapi, Pak ..."


"Udah, laksanakan aja, nggak usah banyak omong!" bentak Malik hingga sang pelayan dibuat terkejut. Namun ketika sang pelayan belum memberi jawaban, sebuah suara keras sangat mengejutkan Malik, Titin dan pelayan itu serta orang orang sekitar.


Prank!


"Mas!" pekik Titin.


"Sial!"


Sementara di depan ruko.

__ADS_1


"Mas tenang, Mas! Tenang ..." ucap para warga yang menyaksikan amarah Jiwo semakin menjadi. Karena sudah sangat kesal, Jiwo sampai menghancurkan etalase dengan timbangan yang ada di atasnya.


"Iya, Mas, tenang. Jangan anarkis kayak gini," timpal yang lainnya.


"Gimana saya bisa tenang, Pak. Malik itu sudah sangat keterlaluan terhadap saya. Dia dan istrinya selalu mengusik hidup saya," balas Jiwo meledak ledak. "Malik! Jangan jadi pengecut kamu!"


Sedangkan tak jauh dari keberadaan Jiwo, istri istri Jiwo malah terdiam menyaksikan kemarahan sang suami. Mereka malah berdebat dan saling dorong agar mau mendekat ke tempat Jiwo dan menenangkan amarah suami mereka.


"Ayo dong, Nis, kamu yang maju, tenangin Mister," pinta Arin sambil mendorong tubuh Anisa.


"Gila! aku takut ah, Mister terlihat mengerikan banget tuh!" tolak Anisa.


"Kalau bukan kita yang menghentikanya, lalu siapa lagi, Nis?" ucap Adiba.


"Nah ide bagus tuh," balas Arin. "Udah ayok maju!"


Ke empat istri Jiwo serentak mendekat ke arah suaminya. Di depan kios, Jiwo juga sedang ditenangin agar tidak semakin emosi dan berbuat di luar kendali. Sementara itu di lantai dua, Malik dan Titin benar benar tidak berani menampakan batang hidungnya. Sudah dipastikan mereka terlalu malu dan takut karena ketahuan perbuatannya.


"Masnya coba tenang dulu dan ceritakan pada kami ada masalah apa? Kenapa tiba tiba datang dan marah marah," tanya seorang bapak.


"Iya, ceritakan pada kita, Mas. Apa yang sebenarnya terjadi? Biar kita cari jalan keluarnya bareng bareng," timpal Bapak yang lain.


Dengan amarah yang masih meninggi, Jiwo menceritakan apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri pemilik ruko itu. Sontak yang mendengarnya begitu kaget dan hampir tak percaya dengan apa yang Jiwo ceritakan.

__ADS_1


"Yakin, Mas? Itu perbuatan mereka?"


"Kalau Bapak kurang percaya, bapak tanya aja ke toko melati, disana istrinya Malik mengakui sendiri perbuatan mereka."


"Astaga! Termyata Pak Malik orangnya," ucap beberapa warga dengan raut sangat terkejut. Hingga akhirnya para warga pun langsung ikut meneriaki Malik agar cepat turun dan bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Aduh gimana ini, Mas? Kenapa orang orang jadi ikut teriak teriak?" tanya Titin semakin khawatir.


"Kamu sih! Pake acara keceplosan segala!" hardik Malik nampak sangat emosi. Sedangkan karyawan toko memilih duduk di anak tangga. Mereka tidak mau menjadi pelampiasan dua orang yang sedang berseteru.


Saat Jiwo dan yang lain sedang berusaha memanggil Malik, Pak lurah yang mendengar berita tentang perbuatan anaknya dari sang istri langsung saja turun tangan. Jiwo sangat terkejut melihat kedatangan Pak lurah yang mungkin sedang berada dalam emosi yang sama.


"Pak lurah?"


"Maaf, Wo, saya benar benar tidak tahu kalau Malik bisa berbuat sejauh itu, dia benar benar sukses melempar kotoran ke wajah saya," uap Pak Lurah penuh dengan kekecewaan. Setelah itu, Pak Lurah langsung saja masuk ke dalam kios dan naik ke lantai dua.


"Bapak!" pekik Malik terkejut melihat kedatangan orang tuanya. "Bapak mau ..." belum selesai Malik meneruskan ucapannya, Pak Lurah lansung mencengkram kerah baju anaknya dan menyerat Malik agar mau keluar.


"Pak, aduh!"


"Jangan jadi pengecut! Pertanggung jawabkan semua perbuatanmu!"


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2