
"Satu lagi perhatian untuk, Mister."
"apa itu?"
"Kurangi rokok, kalau bisa berhenti total!"
"Waduh! Masa rokok sih, Dek? Kayaknya rokok nggak ngaruh deh."
"Mister inget nggak apa kata dokter kemarin?" Jiwo sontak tersenyum lebar. "Kalau kita saja yang usaha, tapi Mister nggak usaha, ya sama saja bohong."
Jiwo langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Selama ini memang pria yang usianya sudah menginjak di angka tiga puluh dua itu, satu hari bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Sekarang dia diminta untuk berhenti atau mengurangi, apakah Jiwo mampu?
"Tapi kalau nggak ngorok, bibirku rasanya asam, Dek? Apa lagi kalau habis makan?" Jiwo masih berusaha bernegosiasi dengan istrinya.
"Jangan khawatir, aku udah punya solusinya."
"Apa?"
"Agar mulut Mister tidak terasa asam, Mister kenyot bukit kami."
"Astaga!" Jiwo memekik dan langsung melongo mendengarnya. Darimana istrinya bisa memiliki solusi seperti itu? Jiwo tidak menyangka, istrinya yang sudah terbiasa dipanggil Aisyah sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang.
"Benar itu kata Aisyah, Mister! Mister juga harus bisa di ajak kerja sama dong? Kan ini progam hamil bersama?" Alena menimpali.
__ADS_1
"Lebih enak dan lebih sehat mana coba? Menghisap rokok atau menghisap bukit kembar tiga belas istri Mister yang cantik luar dalam?" Arum ikutan bersuara.
"Lebih enak dan sehat hisap punya istri," jawab Jiwo pelan.
"Nah tuh, tahu, udah sehat, enak, irit lagi. Nggak perlu keluar uang," sambung Arum lagi.
Mau tidak mau, Jiwo pun menuruti permintaan para istri daripada dikeroyok. Bahkan sekarang Jiwo pasrah saat rokoknya sudah disita oleh istrinya. Hanya menyisakan satu batang sebagai tanda salam perpisahan. Wajah Jiwo terlihat sangat frustasi.
Beberapa jam kemudian, acara piknik pun berakhir dan semuanya berjalan dengan lancar meski sang suami masih merasa tak senang karena insiden pemberhentian rokok yang tiba tiba. Pukul tiga sore, mereka telah sampai di rumahnya. Jiwo langsung saja beranjak menuju kamarnya hingga dia tertidur.
Hingga siang berganti malam, mata Jiwo terbuka saat jam di dinding menunjukkan pukul tujuh. Jiwo langsung bangkit dan duduk sebentar sambil melakukan peregangan, lalu beranjak keluar kamar.
Begitu keluar kamar, Jiwo sedikit terkejut melihat para istrinya. Dengan kompaknya mereka hanya memakai kain penutup dada dan penutup lubang saja. Keterkejutan Jiwo tidak berlangsung lama, karena tingkah istrinya yang seperti itu, pernah terjadi di saat Emak tidak ada di rumah.
Tak butuh waktu lama, Jiwo sudah merasa kenyang setelah menghabiskan makannya. Dia langsung celingukan seperti orang bingung. Biasanya setelah makan, Jiwo akan keluar sambil menenteng bungkus rokok. Tapi tidak untuk saat ini.
Istri yang sedang menemani jiwo di meja makan sontak tersenyum. Dia tahu kalau Mister sedang ingin merokok. Sang istri langsung berdiri mendekati sang suami, lalu melepaskan penutup bukit kembarnya dan menyodorkanya kepada Jiwo. Sang suami tersenyum, lalu mulutnya maju meraih pucuk bukit kembar dan menyesapnya seperti bayi yang sedang kehausan.
Ide aisyah lumayan ampuh juga. Mulut Jiwo terasa lebih nyaman saat menikmati dada istrinya ketika dia ingin merokok. Apalagi bukan hanya dada satu wanita yang bisa Jiwo nikmati. Ada tiga belas wanita yang siaga penuh saat Jiwo membutuhkan dada mereka.
Hingga tak terasa, delapan bulan sudah usia pernikah Jiwo dengan ketiga belas istrinya. Semuanya masih nampak harmonis. Setiap perdebatan yang terjadi selalu berakhir dengan cepat. Rumah sebelahpun sudah digunakan. Kini ada lima kamar yang bisa digunakan. Satu kamar di isi dua orang secara bergantian, karena mereka juga masih harus tidur begilir bersama Jiwo. Maka itu satu orang istri yang tidak mendapat pasangan juga bisa gantian. Ada juga kamar utama yang ukurannya lebih besar.
Aktifitas yang dilakukan mereka pun masih sama. Mereka masih jualan dan semakin hari pelanggannya bertambah. Usaha jajanan Aisyah bahkan makin rame. Kini Aisyah sudah tidak jualan keliling lagi. Sejak sebulan yang lalu, Aisyah hanya bertugas membuat jajanan dan nantinya akan ada beberapa orang yang datang ke rumah untuk mengambil dagangan Aisyah dan mereka yang berkeliling menjualnya.
__ADS_1
Karena kesibukan usahanya semakin bertambah, Jadwal Jiwo jualan keliling juga akhirnya dikurangi. Sekarang Jiwo hanya keliling empat hari saja, tiga hari yang lain digunakan untuk membantu usaha yang di pasar. Hingga pada suatu pagi saat hari masih gelap dan jam di dinding menunjukkan pukul empat pagi.
"Mister, Mister! Bangun! Mister!"
Jiwo yang masih terlelap sontak saja matanya terbuka karena terlalu kaget. "Ada apa?"
"Alana, Arin dan Anisa muntah muntah, cepat bangun, kita harus segera membawa mereka ke rumah sakit."
Jiwo langsung bangkit dan duduk. "Mereka sakit?"
"Nggak tahu, tapi kata Emak, kemungkinan mereka hamil."
"Apa! Hamil!"
"Iya, cepat! Kita bawa mereka ke rumah sakit! Mereka sangat lemas!"
"Iya, iya, iya."
Jiwo langsung bergerak dengan perasaan yang tak menentu.
"Semoga ini adalah kabar baik, Tuhan!"
...@@@@@@...
__ADS_1