MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Rasa Syukur Yang Bertambah


__ADS_3

"Oek ... oek ... oek ..."


"Alhamdulillah, hiks ... hiks ... hiks ..."


Tangis Jiwo seketika pecah begitu mendengar suara tangis bayi laki laki untuk pertama kalinya. Setelah menunggu hampir enam jam lamanya, akhirnya salah satu istri Jiwo berhasil melahirkan anak laki laki secara normal. Tentu saja Jiwo sangat bahagia, meski awalnya dia kaget dan ragu karena menurut perhitungan dokter, kehamilan Anisa belum genap sembilan bulan.


Namun, kuasa Tuhan tidak ada yang dapat mencegahnya. Anisa melahirkan lebih cepat daripada yang lainnya. Jiwo langsung memeluk tubuh lemah istrinya yang masih terbaring di atas brangkar persalinan dan berkali kali mengucapkan terima kasih disertai kecupan sayang.


Setelah bayi itu selesai dibersihkan dan dirawat dengan baik, seorang suster membawa bayi itu dan menyerahkan kepada ayahnya untuk dikumandanngi adzan. Dengan tangan sedikit gemetar Jiwo menerima anak laki lakinya dengan air mata yang terus mengalir.


Didekatkannya telinga kanan sang bayi, lalu Jiwo mulai mengumandangkan suara adzan dengan nada yang bergetar. Anisa yang melihatnya pun tak kuasa menahan air mata melihat buah hatinya berada dipelukan pria yang dia cintai. Setelah selesai mengumandangkan suara adzan dan iqomah, Jiwo mendekatkan bayinya kepada sang istri.


"Anak kita sangat tampan, mirip Ayahnya," ucap Jiwo penuh percaya diri.


Anisa hanya tersenyum lalu membelai pipi mungil anaknya. "Semoga jadi anak yang sholeh ya, Nak. Jangan kayak Ayahnya."


"Astaga! Nyindir," protes Jiwo. Anisa hanya tersenyum melihatnya.


"Maaf, Pak. Silakan Bapak keluar dulu, kami akan memindahkan istri dan anak bapak ke ruang perawatan," ucap seorang perawat.


"Baik, Mbak," balas Jiwo dan dia pamit pada Anisa sejenak lalu beranjak dari ruang bersalin.


"Gimana Anisa, Mister?" tanya Andin yang ikut mengantar ke rumah sakit dan menunggunya di luar sekalian menjaga perlengkapan yang mereka bawa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, anak pertamaku udah lahir, Sayang. Mereka mau dipindahkan ke ruang perawatan, nanti kita bisa menemui mereka di sana."


"Alhamdulillah," ucap Andin penuh rasa syukur dan langsung memeluk suaminya. "Selamat ya, Mister. Telah resmi menjadi seorang ayah."


"Terima kasih, Sayang, terima kasih."


"Apa Mister sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" tanya Andin begitu melepas pelukannya.


"Sudah dong, aku sudah menyiapkan nama buat anak anak kita nanti."


"Yang ini namanya siapa?"


"Abizar Bagaskoro. Setiap anak anak yang lahir pertama dari rahim rahim istri istriku, aku kasih nama dengan awalan huruf A juga."


"Apa Emak udah dikasih kabar?"


"Udah, Mister. Katanya Emak besok pulang bareng Marni dan suaminya."


"Oh Marni ikut? ya baguslah."


Tak lama kemudian brangkar yang membawa tubuh Anisa pun keluar dari ruang bersalin menuju ruang perawatan. Jiwo dan Andin segera saja berdiri dan mengikutinya.


Rencana Tuhan memang tak pernah terduga, dan bisa saja rencana itu adalah rencana yang paling indah buat makhluknya. Sama seperti yang Jiwo rasakan. Selang beberapa waktu kemudian, istri istri Jiwo yang sudah hamil besar, satu persatu melahirkan anak mereka.

__ADS_1


Dalam waktu satu bulan kelima istri Jiwo yaitu, Alana, Aluna, Alena, Arin dan Anisa telah resmi menjadi seorang Ibu. Tiga anak laki laki dan dua anak perempuan terlahir dengan sehat. Abizar, Abian, Abas, Afisa dan Amira, menjadi warna baru bagi perjalanan hidup Jiwo.


Jiwo benar benar mencurahkan kasih sayangnya kepada lima anaknya. Tiap malam, Jiwo tidak pernah tidur nyenyak demi membantu para istri untuk menangkan bayi yang menangis. Meski ada Emak da bibi siti serta istri Jiwo yang lain ikut membantu, tapi Jiwo selalu berusaha menanganinya dengan sepenuh hati meski rasa lelah mendera tubuhnya.


Hingga di suatu siang hari, mungkin karena sangat lelah, Jiwo tertidur di dalam kamar lamanya. Kalau siang Jiwo memang terlihat lebih santai karena banyak orang yang turut menjaga anak anaknya. Berbeda kalau malam hari. Untuk urusan dagangan, sementara Jiwo berhenti jualan keliling terlebih dahulu. Dia fokus pada usaha yang ada di lapak pasar dan usaha jajanan yang semakin berkembang pesat.


"Mister masih tidur?" tanya Aisyah yang perutnya juga sudah semakin membesar.


"Masih, tidurnya sangat nyenyak," jawab Andin yang baru saja menengok Jiwo di dalam kamarnya.


"Pasti Mister sangat lelah, tiap malam dia begadang," ucap Alifa yang perutnya juga sudah semakin terlihat besar sama seperti Aisyah.


"Kasihan Mister, tapi mau bagaimana lagi, ini udah jalannya," balas Aziza.


"Ya, benar. Kita doa kan saja suami kita agar selalu sehat dan murah serta mudah dalam mencari rejeki sampai anak anak kita lahir hingga tumbuh dewasa. Kita harus selalu bikin Mister juga bahagia."


"Siap!"


...@@@@@...


Visual Mister Jiwo


__ADS_1



__ADS_2