
"Bau badan suami kita itu idaman banget. Kayaknya nggak ada laki laki yang bau badannya seenak suami kita."
"Benarkah?" tanya Arin dan Anisa mengangguk. "Kalau begitu kita buktikan ucapan Anisa dan Arum sekarang? Mumpung Mister lagi nggak mandi."
"Siapa takut!"
Mata Jiwo sontak membelalak mendengar ajakan Arin. "Astaga! Kalian jangan gila!" pekik Jiwo merasa takjub dengan ide konyol para istrinya.
Gemas dan heran, itulah yang Jiwo rasakan saat ini. Bagaimana bisa istri istrinya sekompak itu. Yang membuat Jiwo makin tercengang adalah, dua orang istrinya berterus terang kalau mereka sangat menyukai bau badannya. bisa bisanya Arum dan Anisa sangat memuji bau badan Jiwo yang tidak mandi.
Apakah semua wanita menyukai badan suaminya? Atau hanya Anisa dan Arum saja? Jiwo bertanya tanya dalam hatinya. Bagi Jiwo ini adalah pengalaman baru dalam hidupnya yang berhubungan dengan wanita. Tapi Jiwo senang, karena, hanya dengan bau badan saja, dia bisa membahagiakan istrinya.
Melihat keterkejutan suaminya, para istri Jiwo sontak tertawa. Mereka hanya menggertak tapi Jiwo terlihat sangat panik. Meski diantara mereka ada yang penasaran juga dengan bau badan Jiwo selain Arum dan Anisa.
"Mister, emang nggak merasa risih gitu nggak mandi sore?" tanya Aisyah.
"Kalau hujan begini ya enggak, Sayang. Kalau panas baru terasa nggak nyaman," jawab Jiwo lalu menyesap batang rokok yang baru saja dia nyalakan.
"Tapi kan dari pagi Mister sudah ngeluarin keringat banyak? Masa nggak risih sama sekali?" kini giliran Arin yang bersuara.
Jiwo tersenyum lebar. "Enggak, Sayang. Buktinya sampai detik ini, aku merasa baik baik saja."
"Aneh," ucap Arin lagi.
__ADS_1
Jiwo malah terkekeh dan para istri tidak mempertanyakan soal kebiasan suaminya itu. Biar bagaimanapun, itulah sifat suaminya yang sebenarnya. Mereka sadar, manusia itu tidak sempurna termasuk juga dengan Jiwo dan diri mereka sendiri.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukan pukul delapan malam. Satu persatu para istri Jiwo pamit masuk ke dalam kamar. Sedangkan Emak, sudah masuk ke dalam kamar sejak pukul tujuh lebih. Emak sedari tadi memang duduk di depan televisi. Dia lebih memilih nonton sinetron daripada berkumpul dengan istri istri Jiwo.
Tinggalah Jiwo dan Anum yang tersisa di ruang tamu. Jiwo masih duduk di kursi ruang dan Anum berada dipojokan ruangan. Diluar, hujan belum reda juga, meski tak sederas tadi sore. Padahal tadi hujan sempat reda, tapi cuma sebentar dan hujan kembali turun.
"Duduk sini sih, Dek, ngapain duduk disitu," pinta Jiwo pada istrinya.
"Nantilah kalau rokok Mister sudah habis. Nggak suka dengan asap rokoknya, bikin sesak," balas Anum.
Jiwo tersenyum simpul, lalu dia mematikan rokok yang memang tinggal sedikit. Padahal tadi sudah menghabiskan satu batang rokok. Setelah rokok benar benar mati, Jiwo kembali meminta istrinya duduk disebelahnya, dan kali ini Anum menurutinya.
Sejak dirinya mulai berani menyentuh istri istrinya, Jiwo sekarang juga sudah tidak ragu lagi untuk memeluk istrinya ataupun sekedar mengucapkan kata sayang. Seperti saat ini, dia duduk disatu kursi dengan posisi Jiwo dibelakang dan Anum didepannya. Sudah pasti, tangan kekar Jiwo melingkar dengan erat di perut sang istri.
"Apa, Sayang?"
"Kenapa Mister ingin merubah jadwal bergilir kita? Bukankah itu sudah adil?"
Jiwo menghela nafasnya dengan pelan lalu menaruh dagu dipundak kanan sang istri. "Aku hanya ingin semakin adil aja dalam memberi nafkah batin, Dek."
"Semakin adil? Bukankah Mister selama ini sudah adil?" tanya Anum dengan kening berkerut.
"Aku rasa belum, Dek. Aku sih yakin, beberapa diantara mereka pasti ada yang ingin disentuh lagi malam ini atau setiap malamnya," balas Jiwo dan Anum nampak manggut manggut. Sepertinya sekarang Anum paham alasan suaminya.
__ADS_1
"Jadi Mister akan mencoba berhubungan dengan dua istri gitu?"
"Ya bukan begitu maksudku, Dek, tapi kalau kalian mau bermain satu lawan dua ya, aku sih oke oke aja,Dek."
Anum kembali manggut manggut, tapi dia bingung mau bertanya apa lagi. Jadi untuk sementara Anum memilih diam sembari menikmati pelukan sang suami.
"Dek, ke kamar, Yuk? Katanya kamu ingin mencium bau badan aku," ajak Jiwo beberapa menit kemudian.
"Ya udah, ayok."
"Tapi aku boleh nggak? masuk ke dalam lubang kamu?"
Anum sontak terkejut, dadanya langsung bergemuruh. Bahkan suaranya pun mendadak terbata saat berbicara. "Apa Mister nggak capek, tiap malam berhubungan?"
Jiwo tersenyum. "Enggak, Sayang. Kan rasanya enak, bikin ketagihan."
"Astaga! Ada ada aja Mister ih."
"Kalau nggak percaya, kita coba sekarang, yuk! Aku jamin, nanti kamu juga bakal keenakan, Sayang."
Anum tersenyum malu malu dan dia pun menjawab, "Yuk, Mister kita ke kamar."
"Ayuk, Sayang," balas Jiwo girang.
__ADS_1
...@@@@@...