
"Tapi Pak Jiwo, apa yang akan anda lakukan? Jika orang tua mereka meminta istri istri anda agar ikut mereka?"
Sontak saja Jiwo langsung terdiam. Dia hanya melayangkan senyum yang terasa hambar, lalu memandangi istri istrinya yang nampak bahagia bertemu keluarga mereka.
Jiwo sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan jika salah satu tujuan kedatangan keluarga istrinya adalah untuk membawa mereka kembali. Sungguh, Jiwo belum siap lahir batin berpisah dengan tiga belas istrinya.
Tapi saat melihat wajah wajah ceria para istri saat ini, apa Jiwo harus egois mempertahankan mereka? Jiwo benar benar dibuat dilema hanya karena satu pertanyaan saja.
"Kalau saya pribadi sih, tergantung dari istri saya maunya bagaimana, Pak," balas Jiwo mencoba memberi jawaban yang terbaik.
"Kenapa begitu?"
Jiwo sejenak mengulas senyum. "Mungkin diantara bapak bapak ini pernah mendengar ucapan istri saya tempo hari saat pihak kedutaan datang kemari. Nah dari sana lah, saya tahu kalau istri saya juga berhak mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya selama itu untuk kebaikan istri istri saya, Pak."
Ke empat orang dari kedutaan nampak manggut manggut, hingga salah satu dari mereka bersuara cukup keras. "Ah iya, aku ingat. Istri istri Jiwo saat itu menentukan pilihannya dengan tegas. Apa lagi saat dari tim humas angkat bicara, mereka langsung di skakmat oleh istri Pak Jiwo."
__ADS_1
"Nah ..." timpal Jiwo. "Begitu juga kali ini, saya juga akan menyerahkannya pada mereka."
Di saat bersamaan, salah satu istri mendekati Jiwo dan ke empat tamunya. Istri Jiwo itu mengajak Jiwo untuk berkenalan dengan keluarganya. Betapa kagetnya Jiwo pada saat istrinya memberi tahu tentang dirinya. Dengan dada yang berdegup kencang, Jiwo memberanikan diri menemui keluarga istrinya.
Bukan hanya satu istri yang mengenalkan Jiwo kepada keluarganya, istri istri yang lain juga mengenalkan Jiwo ke anggota keluarga mereka. Entah apa yang mereka ceritakan tentang Jiwo, tapi dilihat dari sikapnya, mereka menyambut hangat uluran tangan Jiwo. Tak lupa juga, para istri Jiwo mengenalkan Emak ke anggota keluarganya juga.
Meski terkendala bahasa, kehangatan tetap terlihat disetiap Jiwo berinteraksi dengan anggota keluarga istrinya. Namun, dari sekian banyak percakapan, keluarga istrinya belum ada satupun yang membahas tentang tujuan mereka datang kemari. Karena tidak mau menganggu orang yang sedang melepas rindu dan juga tidak ada bahan pembicaraan, Jiwo memilih kembali bergabung dengan orang orang dari kedutaan.
Hingga beberapa puluh menit setelah masing masing selesai berbicara pribadi antar keluarga, satu persatu istri Jiwo meminta Jiwo untuk berbicara serius dengan mereka. Awalnya Jiwo tertegun, tapi memang itulah yang harus terjadi. Karena terkendala bahasa, orang orang kedutaan juga diminta turun tangan dalam acara musyawarah dadakan itu. Selain menjadi penerjemah, orang orang kedutaan juga bertindak sebagai penengah diantara kedua belah pihak.
"Iya, itu juga yang sangat saya sayangkan. Apa lagi mereka harus berbagi suami, jujur saya pribadi juga merasa kecewa," ungkap Ayah yang lainnya.
Setelah mendengar orang kedutaan mengartikan apa yang diucapkan, Jiwo tersenyum tipis. Untuk kesekian kalinya dia kembali menjelaskan alasan kenapa Jiwo menikahi mereka semua. Dengan tenang dan sangat hati hati, Jiwo menjelaskan sebaik baiknya tujuan awal dia menikahi tiga belas wanita itu.
Dari sanalah perdebatan pun terjadi. Bahkan para istri Jiwo juga ikut angkat suara memberi pengertian kepada anggota keluarga mereka. Ada yang pasrah dan menerima alasan Jiwo, tapi ada juga yang tetap teguh pada pendirian, tidak terima dengan jalan yang di ambil oleh Jiwo.
__ADS_1
"Lalu, apa anda lebih suka jika anak anda dijual dan menjadi wanita penghibur banyak pria, begitu?" tanya salah orang kedutaan dengan pelan namun sedikit geram.
"Bukan begitu, tapi apa tidak ada cara lain selain pernikahan?" kekeh salah satu ayah sang istri
"Cara lain seperti apa? Tunjukan? Jangan hanya bisa protes tanpa memberi solusi yang tepat," tegas pihak kedutaan.
"Ya kan bisa membiarkan anak saya tetap tinggal disini tanpa harus menikah?"
Sontak pihak kedutaan langsung pada tertawa. "Setiap negara punya aturan berbeda beda, Pak. Jika anak anda disini tanpa terikat pernikahan, siapa yang akan menjamin hidup anak anda aman, Pak? Harusnya anda bercermin dengan apa yang anda alami di pengungsian. Susah mencari makan, susah mencari pekerjaan. Lihat! Anak anda disini hidupnya terjamin. Bisa makan enak dan tidur nyenyak, dan pastinya ada perlindungan."
"Sebenarnya, yang anda inginkan itu apa, Pak? Katakan saja? Tidak perlu memutar mutar seperti itu?" tanya pihak kedutaan yang lain.
"Saya ingin anak saya ikut dengan saya."
...@@@@@...
__ADS_1
Sebelumnya terima kasih yang sudah mengoreksi tulisan saya. Dan lewat ini saya jawab. Cerita ini bukan sepenuhnya berlatar belakang islam. Saya hanya memakai sedikit untuk sedikit bumbu dalam cerita. Bukan inti dari cerita saya. Saya tahu berhubungan suami istri itu tidak boleh lebih dari satu pasangan. Tetapi saya menegaskan, saya menulis cerita ini hanya sebagai sarana hiburan. Bukan untuk berbagi ilmu atau memberi pesan dibalik cerita saya. Saya tidak pernah menulis untuk tujuan lain selain memberi hiburan yang berbeda. Sekali terima kasih atas koreksinya.