
"Kami semua siap, Mister, jika Mister ingin menggilir kami."
"Apa!" pekik Jiwo tercengang. Entah ekspresi apa yang harus Jiwo tunjukan saat ini, tapi dia cukup terkejut dengan jawaban para istrinya.
Menggilir tiga belas wanita, tidak pernah terlintas dalam bayangan Jiwo selama ini. Apa lagi ketiga belas wanita itu sudah sah menjadi istrinya meski hanya secara agama. Jiwo menatap wajah istrinya satu persatu dengan pikiran yang seketika berkelana ke arah dimana dia membayangkan berhubungan badan dengan mereka semua.
Sebaik baiknya Jiwo dalam bertindak, dia tetap laki laki normal yang tentu saja memiliki pikiran nakal dan liar jika sudah berhubungan dengan wanita serta ranjang. Sudah pasti dia mengkhayalkan yang enak enak tiap malam dengan wanita yang berbeda.
"Kalian yakin?" tanya Jiwo memastikan. Biar bagaimanapun, dia tidak ingin nantinya para istri menyesal di masa depan. Karena ini merupakan hal yang sangat serius.
"Kami sudah membicarakannya dan juga memikirannya, Mister. Kami yakin kalau keputusan kami tidak salah," balas Ais.
Jiwo nampak manggut manggut pelan dengan pikiran yang terus berkelana dan bertanya serta mencerna jawaban para istri yang diwakili Aisyah.
"Apa yang membuat kalian yakin mau menyerahkan kalian seutuhnya pada saya?"
"Loh? Kita kan udah suami istri, mister?" ucap Adiba.
"Ya saya tahu, tapi kan diawal kita menikah, kita sudah ada perjanjian."
__ADS_1
"Sama seperti Mister yang mengkhawatirkan masa depan kami, kami juga khawatir dengan masa depan kami sendiri," jawab Aisyah lagi.
"Loh? Lalu apa hubungannya?"
"Begini ya, Mister. Apa yang dikatakan Mister memang benar, masa depan kita, nggak ada yang tahu. Kita juga nggak bakalan tahu, kita disini berapa lama. Kita nggak tahu masalah di negara kita kapan selesainya. Kemarin saja kita enam bulan tidak ada kepastian kapan kita akan kembali, bahkan sampai detik ini, tidak ada kabar baik apapun yang kami tahu. Sedangkan disini, kami punya suami, kami punya mertua yang menerima apa adanya kami, kami sangat bersyukur mendapatkan itu semua. Tapi dibalik rasa syukur itu, kami juga memiliki kewajiban pada suami kami dimana salah satu kewajiban kami adalah melayani Mister tanpa terkecuali. Maka dari itu, Mister, kami memutuskan kami siap di gilir oleh Mister tiap Mister lagi berhasrat tinggi. Kami siap melayani, Mister."
Jiwo manggut manggut. Ingin rasanya dia berteriak hore saat mendengar keputusan istri istrinya, tapi Jiwo sadar, dia harus bisa menjaga wibawanya. Hanya dengan membayangkannya saja, sudah ada yang perlahan menegang di balik celana pendek yang Jiwo pakai. Apa lagi jika itu semua terjadi. Darah Jiwo langsung bergejolak.
"Baiklah, kalau itu sudah menjadi keputusan kalian, aku bisa apa," balas Jiwo dengan wajah dibuat datar agar para istrinya tidak tahu kalau sebenarnya dia lagi senang dengan rencana bergilir para istrinya.
"Tapi kok wajah Mister gitu? Kayak nggak senang dengan keputusan kita?" tanya Andin. Tentu saja pertanyaan itu membuat Jiwo salah tingkah.
"Sepertinya begitu. Mister sebenarnya keberatan dengan keputusan kita," Arum ikut menimpali dan ucapannya sukses membuat Jiwo merasa terpojok.
"Bukan ... bukan seperti itu? Siapa yang nggak senang. Aku senang kok mendengar keputusan kalian, aku hargai itu."
"Tapi kok wajah Mister lurus gitu? Nggak kelihatan ada senyum senyum sedikit," Alifa ikut menggerutu. Ucapan itu sukses membuat Jiwo malah cengengesan dan merasa gemas melihat wajah istri istrinya yang nampak kecewa karena sikap Jiwo tadi. Padahal mereka hanya salah paham.
"Iya, iya maaf. Aku senang kok dengan keputusan kalian. Aku sangat menghargai dan berterimakasih malah. Kalian rela disentuh oleh satu pria secara bergiliran. Aku cuma nggak mau nanti kalian berpikir buruk karena satu pria lawan tiga belas wanita."
__ADS_1
"Ya nggak lah, Mister. Kan dari awal kita juga setuju dinikahi Mister, jadi konsekuensinya ya kita harus mau digilir," Ucap Alifa.
Hati Jiwo menghangat. Betapa dia merasakan ketulusan para istrinya yang mau berbagi suami dalam hal apapun. Sudah pasti rasa syukur tak lupa Jiwo panjatkan dalam hati.
"Mister, nanti malam kan giliran saya yang menemani Mister tidur, apa Mister akan meminta haknya malam nanti?" tanya Alina.
Jiwo tertegun dan dia pun malah melempar pertanyaan, "Kenapa?"
"Kalau Mister nanti malam minta haknya, maaf saya belum bisa mengabulkan Mister, karena saya lagi datang bulan. Kalau mau diganti ya silakan, Mister," jawab Alina merasa tak enak hati.
Jiwo sontak mengulas senyum. Ini kesempatan Jiwo untuk beristirahat dari berhubungan suami istri setelah tiga malam berturut turut dia membobol milik tiga istrinya.
"Tidak apa apa, nanti kamu aja yang menemani aku sesuai jadwal, oke?"
"Baiklah."
Dan musyarawah berakhir dengan saling melempar senyum satu sama lain.
...@@@@@@...
__ADS_1