
Di salah satu Rw di sebuah kampung, terlihat seorang pria paru baya nampak turun dari ojek di depan sebuah rumah. Pria itu dengan santai melangkah ke arah rumahnya setelah menyerahkan selembar uang dengan nominal lima ribu kepada tukang ojek. Harga umum yang memang biasa dibayarkan pada pengguna jasa ojek untuk jarak dekat.
Namun betapa kegetnya pria paru baya itu saat kakinya hampir menginjakkan lantai rumah. Kening pria itu berkerut saat matanya tidak melihat kaca pada jendela di ruang tamunya.
"Ini kacanya kemana?" gumam Pria itu pada diri sendiri sambil matanya menyelidik ke setiap bingkai jendela yang sudah bolong. "Bu! Ibu!"
"Apa sih, Pak, teriak teriak," jawab seorang wanita, istri dari pria itu yang sepertinya habis dari warung karena di tangannya menenteng kantuk plastik.
"Ini kacanya mana? Kok bisa nggak ada?"
Sang istri bukannya menjawab, dia malah bergegas masuk dengan wajah seperti terlihat panik dan bingung. Sang suami makin terkejut dengan sikap istrinya yang pergi begitu saja tanpa memberi jawaban.
"Bu! ini kenapa kacanya?" cecar pria itu sambil mengikuki langkah istrinya menuju dapur.
"Di lempar batu, oleh Jiwo," balas sang istri ketus.
"Jiwo? Bagaimana bisa?" tanya suami nampak sangat terkejut. Lagi lagi sang istri hanya diam. Dia nampak kebingungan dan ingin menghindari pertanyaan suaminya. Tapi sayang sekali, sang istri yang bernama Darmi tidak mungkin akan lepas begitu saja jika suaminya telah mencecar dengan banyak pertanyaan. Biar bagaimanapun, suami yang biasa dipanggil Pak Salim itu pasti ingin tahu apa yang terjadi.
"Bu? Kenapa diam? Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Salim terus mendesak sang istri. Dengan berat akhirnya Darmi menceritakan apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan bersama anak dan memantunya. "Astaga! Bu ... Bu! Kenapa bisa nekat kayak gitu sih, Bu? Bikin malu aja."
__ADS_1
"Ibu kan hanya ingin membela anak," kilah Darmi.
"Tapi anak kita yang salah!" balas Salim dengan suara mulai meninggi. "Sebenarnya maunya Ibu apa sih? Bikin malu aja."
Darmi sontak terdiam. Dia sudah tahu benar, sang suami pasti lebih memilih memarahi dan menyalahkannya. Begitulah Pak Salim, jika menyangkut nama Jiwo, pasti itu istrinya yang membuat ulah. Pak Salim akan memberi nasehat yang sangat panjang hingga kadang Darmi merasa muak.
"Kenapa sih, Bu? Ibu udah tua, udah punya cucu. Apa nggak malu bertindak seperti itu? Hah! Bapak tuh heran dengan jalan pikiran Ibu. Makin tua bukannya sadar dan insaf, malah makin memalukan."
Darmi terus terdiam dengan tatapan lurus ke arah meja. Dia memang tidak pernah mampu membantah suaminya jika lagi marah. Apa lagi posisi dia saat ini sebagai orang yang bersalah, membuat Darmi hanya bisa terbungkam.
Sementara itu di tempat lain, setelah melampiaskan amarahnya dengan puas, Jiwo memilih istirahat di dalam kamarnya sampai dia tertidur dalam waktu yang cukup lama. Mungkin Jiwo memang sangat lelah makanya dia tertidur hingga malam menjelang. Namun sebelum itu Jiwo memilih bercerita terlebih dahulu kepada Emak, apa saja yang dia lakukan di rumah Darmi. Emak hanya menunjukan wajah datar meski sesekali menyahuti cerita anaknya.
Mendengar lenguhan Jiwo beberapa kali, istri Jiwo yang bernama Alena sontak menoleh, "Eh udah bangun?"
Jiwo tersenyum tipis dengan mata sedikit terpejam, Apa aku boleh memelukmu?"
Kening Alena berkerut mendengar permintaan sang suami. Dia hendak menjawab tapi dibuat kaget dengan gerakan badan Jiwo yang bergeser ke arahnya lalu melingkarkan tangan kanannya di pinggang ramping Alena.
Meski awalnya kaget, tapi Alena cukup senang dipeluk sang suami seperti itu. Alena memandangi wajah Jiwo dengan seksama. Hembusan nafas Jiwo yang sangat terasa di wajahnya, membuat darah Alena berdesir.
__ADS_1
"Kenapa lihatinnya gitu banget, aku tampan ya?" goda Jiwo pada Alena sambil cengengesan.
Mister udah lebih baik?" Bukannya menjawab, Alena malah melempar sebuah pertanyaan.
"Belum," jawab Jiwo sambil senyum senyum.
"Belum? Masih marah?"
"Nggak juga, Dek. Maksudnya ya gimana ya? Susah dijelasin dengan kata kata."
Sejenak Alena berdecih, lalu bibirnya mengulas senyum tipis, "Jam segini, Mister baru bangun, bisa bisa Mister nanti begadang."
Kening Jiwo berkerut lalu dia menoleh ke arah jam di dinding, "Astaga! Lama juga aku tertidur."
"Mungkin Mister memang sangat lelah, jadi tidurnya pules banget."
"Nanti temenin begadang ya, Dek?"
"Temenin?"
__ADS_1
...@@@@@@...