MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kejutan Untuk Para Istri


__ADS_3

"Nggak mungkin! Ini pasti mimpi!"


Sambil bergumam, dua istri Jiwo terus menatap orang orang yang turun dari bis dan melangkah ke arah rumah Jiwo. Dua wanita itu lantas kembali masuk tapi hanya sebentar untuk memberi tahukan sesuatu kepada yang ada di dalam.


"Ada apa? Kenapa kalian seperti orang kaget gitu? Siapa yang datang?" cerca Alifa.


Dengan gagap Alena menjawab. "Ayahku datang!"


"Apa!"


"Iya, orangtuaku datang," sambung Anum.


Sontak saja semua nampak terkejut. Jiwo yang masih berbaringpun sontak bangkit dan berdiri. Sedangkan Anum dan Alena langsung saja kembali ke ruang tamu dan segera membuka pintu.


"Ayah!" teriak Alena dengn bahasa negara mereka. Seorang pria paru baya yang sedang melangkah langsung berhenti mendengar suara seseorang yang dia kenal. Pria itu langsung menatap wanita yang sedang berjalan cepat ke arahnya. "Ayah!"


"Chau!" teriak pria itu begitu menyadari siapa yang memanggilnya. "Chau! Anakku!"


Kedua ayah dan anak itu langsung saling peluk dengan air mata yang berderai.


"Chau! Ini kamu, nak?"


"Iya, Ayah. Ini aku, Chau, anak ayah!"


"Ya Tuhan! Akhirnya kita ketemu, nak. Terima kasih, Tuhan."


Tangis mereka pecah. Bukan hanya Alena dan ayahnya, istri Jiwo yang lain pun satu persatu berhamburan menyambut kedatangan anggota keluarga mereka. Ada yang ketemu kedua orang tua. Ada yang ketemu salah satunya..Ada yang ketemu saudaranya.


"Ibu! Bapak! hiks ..."


"Nguyen, ini kamu!"

__ADS_1


Suasana haru seketika langsung menyergap halaman rumah Jiwo. Banyak mata yang turut menangis menyaksikan pertemuan tidak terduga orang tua dan anak mereka. Jiwo yang sudah berpakaian rapi, nampak terdiam dengan mata yang berkaca kaca.


"Maaf, Pak Jiwo, kami dari kedutaan dan datang secara mendadak," sapa seorang pria yang menghampiri Jiwo di teras rumahnya.


"Tidak apa apa, Pak," balas Jiwo singkat. Hatinya masih bergemuruh menyaksikan yang terjaid di depan rumahnya.


"Maaf, Pak Jiwo. istri Bapak yang lain kemana ya? Sepertinya ada yang kurang?"


"Oh iya, yang lain ada di rumah paman sedang main. Nanti saya panggilkan," balas Jiwo lalu dia minta tolong kepada tetangga yang ikut menyaksikan kejadian di rumah Jiwo. Dengan melangkah cepat, tetangga itu menuju ke rumah paman Jiwo.


"Mak, disuruh pulang oleh Jiwo," ucap si tetangga begitu sampai di tempat tujuan.


"Pulang?"


"Iya, Mak. Di rumah banyak tamu itu. Mana tamunya pada nangis lagi."


"Hah! Pada nangis, apa yang terjadi?"


"Apa!"


Emak dan ketiga istri Jiwo langsung saja pulang begitu mendengar berita dari tetangganya. Emak bahkan menyuruh tiga menantunya berjalan cepat agar sampai rumah. Sedangkan Emak, memilih berjalan pelan karena faktor usia.


"Ibu!" seru salah satu istri Jiwo yang baru datang dari rumah paman.


"Preng!"


"Ibu!"


"Preng!"


Kedua wanita beda usia itu langsung saling peluk melepas rindu dengan airmata yang menderas. Begitu juga dengan istri Jiwo yang lain yang baru saja saja datang. Meski tidak tahu bahasa yang mereka gunakan. Pemandangan yang terjadi sungguh sangat menngharukan bagi siapapun yang melihatnya.

__ADS_1


Gara gara keegoisan sekelompok manusia, mereka harus berpisah dan tercerai berai. Mereka harus menderita hanya karena mereka kaum minoritas. Sudah dipastikan dari balik pertemuan tersebut, akan ada banyak cerita sedih yang mereka bagi satu sama lain.


Jiwo lantas menyuruh tamu mereka masuk ke dalam rumah dan membiarkan istri istrinya bercengkrama bersama anggota keluarga mereka untuk saling melepas rindu. Sedangkan Jiwo duduk bersama empat orang dari kedutaan.


"Ngomong ngomong, mereka tahu dari mana, Pak, kalau anak anak mereka ada disini?"


"Dari acara televisi yang kalian hadiri, Pak Jiwo."


"Gimana ceritanya?"


Orang dari kedutaan lantas menceritakan kronologinya hingga mereka menemukan orang tua dari masing masing istri Jiwo. Bukan langkah mudah, orang kedutaan mengumpulkan mereka semua. Namun dengan niat yang baik untuk menolong sesama dan juga berkat bantuan dari orang orang pribumi. Akhirnya, dalam waktu yang lumayan singkat, pihak kedutaan berhasil mengumpulkan orang orang yang ada hubungannya dengan istri istri Jiwo.


"Terima kasih, Pak. Telah membantu istri istri saya menemukan keluarga mereka," ucap Jiwo tulus.


"Sudah tugas kami, Pak Jiwo. Walaupun kurang sempurna tapi setidaknya ada kabar diantara mereka."


"Kira kira, apa konfliknya belum reda juga, Pak?"


"Sedang diusahakan lewat jalur damai, Pak Jiwo. Bahkan Bapak presiden kita juga ikut turun tangan dalam usaha perdamaian kedua belah pihak."


Jiwo nampak manggut manggu. "Semoga prosesnya cepat ya, Pak. Kasian para pengungsi kalau kelamaan, bisa bisa nanti mereka tercerai berai juga."


"Yah, nasib orang nggak ada yang tahu, Pak Jiwo. Semoga saja tidak ada kejadian yang sama seperti yang menimpa istri istri anda ya, Pak?"


"Aamiin."


"Tapi Pak Jiwo, apa yang akan anda lakukan? Jika orang tua mereka meminta istri istri anda agar ikut mereka?"


Deg!


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2