
"Ini apa, Mister?"
"Itu jadwal tidur bergilir. Ada dua pilihan yang harus kalian sepakati bersama."
"Dua pilihan? Apa saja?"
"Aku akan main dengan sistem dua ronde. Pilihannya, kalian mau pake sistem bergantian atau pake sistem main bareng dua lawan satu, gimana?"
Semua istri Jiwo mengerutkan keningngya sambil bergantian menatap wajah suami mereka dan kertas yang dipegang Alina dan Anisa.
"Kalian butuh penjelasan kan?" para istri Jiwo mengangguk. "Jadi gini, sistem yang pertama, main ranjangnya secara bergantian. Contoh, pertama aku main dengan Anisa. Setelah selesai, Anisa keluar kamar dan gantian dengan Alina, paham?"
"Terus sistem yang kedua?" Aziza bersuara.
"Ya kita main bertiga bareng bareng. Nanti jika aku pengin keluar. Ronde pertama aku masukin ke dalam lubang Anisa, terus ronde kedua, pas mau keluar, aku masukin ke lubang Alina."
Ketiga belas wanita itu nampak manggut manggut. Mereka benar benar sangat serius mendengarkan penjelasan yang Jiwo jabarkan. Bahkan Jiwo sampai geleng geleng kepala karena merasa heran. Bisa bisanya membahas masalah hubungan ranjang harus terlihat serius sekali.
"Nah, kita kan ada tiga belas orang, Mister? Terus yang satu gimana?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Yang satu anggap saja bonus. Itukan jadwalnya belum resmi. Nanti kita buat pake sistem kayak undian. Terus tiap tujuh hari sekali, kalian harus membuat undian lagi. Jadi nggak monoton. Misal malam ini yang dapat jatah Alina sama Anisa, dan seminggu kemudian bisa aja menjadi Alina sama Andin. dan sisa satu orang itu di jadwal paling terakhir. Terus yang sedang datang bulan dipisah, tapi tetap ikut jadwal bergilir meski tidak berhubungan badan. Paham?"
Semua istri Jiwo terdiam, tapi mereka mencerna ucapan yang baru saja dikatakan sang suami. Jiwo pun memberi kesempatan para istrinya untuk bertanya dan dengan senang hati Jiwo menjelaskan kembali sebagai jawaban dari pertanyaan sang istri.
"Ya udah, sekarang kalian buat undian nama nama kalian terus yang datang bulan dipisah ada berapa orang, kemudian atur jadwalnya," titah Jiwo. Dengan kompak para istri menurutinya.
Salah satu istri Jiwo mengambil bolpoin dan kertas, lalu mencatat nama nama mereka seperti sedang membuat arisan. Ada tiga orang yang sedang datang bulan, jadi mereka dimasukan ke dalam dua hari yang berbeda.
Setelah semua siap, penentuan pun dimulai. Mereka juga mencatat nama nama yang keluar dan disesuikan dengan hari apa jatahnya. Malam ini yang pertama mendapat jatah adalah Aluna dan Adiba. Malam kedua dan seterusnya, mereka atur sesuai hasil yang mereka lakukan.
"Sudah selesai?"
"Ya udah, sekarang mau pakai sistem yang mana? Yang pertama atau kedua. Pikirkan baik baik."
"Kalau aku sih lebih cocok sistem yang kedua, Mister. Menurutku lebih adil aja gitu, karena kita tetap berada di dalam satu kamar," ucap Alifa mengungkapkan pendapatnya.
"Aku juga, yang lain bagaimana?" timpal Arin.
"Kalau aku ngikut aja suara terbanyak yang mana, yang penting dibikin enak oleh Mister," ucap Arum. Sedangkan Jiwo hanya bisa cengengesan mendengar ucapan istrinya.
__ADS_1
"Kalau kalian memilih yang nomer dua, berarti kalian harus siap buka baju bersama. Jangan ada kata malu dan canggung, bagaimana?"
Seketika semua istri Jiwo saling pandang dengan wajah yang terkejut. Mereka tidak kepikiran hal sekecil itu. Tentu saja wajah mereka langsung bersemu. Pastinya mereka akan sangat canggung, berada dalam satu kamar tanpa menggunakan baju. Kalau dengan suami sudah tidak malu lagi satu kamar tanpa baju, tapi dengan wanita lain dalam satu kamar tanpa menggunakan baju, benar benar malu pastinya.
"Mau tidak mau kalian harus siap dong? Kan ini juga keinginan kalian agar jatah tidur bersamaku tidak kelamaan," ucap Jiwo lagi sedikit mendesak. Sedangkan istrinya nampak sibuk berpikir.
"Iya sih, bener kata Mister. Mau tidak mau, kita memang harus melakukannya," ucap Alifa beberapa menit kemudian.
"Ya udah, daripada kita ragu, bukankah lebih baik kita mencobanya. Bukankah kita sama sama istri Mister, jadi kita memang tidak perlu malu.Yang penting kan kita buka baju dihadapan suami kita," timpal Aisyah.
"Gimana? Kalian harus benar benar siap loh?"
"Baik, Mister," jawab para istri hampir serentak dan musyawarah pun berakhir.
Waktu terus merangkak maju dan tanpa terasa kini malam telah menyapa. Jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan malam lewat tiga puluh menit, dan semua penghuni rumah Jiwo sudah memasuki kamarnya masing masing.
Sejak berada di dalam kamar, Jiwo tak henti hentinya senyum senyum sendiri. Bagaimana mungkin senyum itu akan surut kalau saat ini dua wanita cantik berbaring bersamanya dalam satu kamar. Yang satu menempel di sisi kanan dan yang satu menempel di sisi sebelah kiri. Jiwo benar benar tak percaya, ini terjadi dalam hidupnya.
"Bagaimana? Apa sudah siap main bertiga, sayang sayangku?"
__ADS_1
...@@@@@...