MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kehangatan Pagi


__ADS_3

"Hati kalian begitu baik"


"Bukan hati kami yang baik, tapi hati Mister yang terlalu baik mau menerima kami, apapun keadaan kami, Mak. Itu yang sangat kami syukuri."


"Semoga selamanya kalian akan selalu begini, Nak?"


"Aamiin."


Tanpa mereka sadari, di sana ada sosok laki laki yang matanya juga berkaca mendengarkan percakapan Emak dan istri istrinya. Niat hati terbangun untuk menegur dan mengawasi para istri yang sedang hamil, tapi begitu kakinya menginjak lantai dapur, dia mendengar obrolan yang luar biasa dan penuh makna antara Emak dan para menantu. Laki laki itu lantas kembali ke rumah baru menuju kamar utama.


Begitu sampai di kamar utama, pria itu mendekat dan menatap wajah satu istri yang masih terlelap. Bibirnya tersenyum tipis dan tangannya mengusap lembut kepala wanita yang semalam minta jatah dipuaskan.


"Tetaplah seperti ini, sampai kita menua bersama nanti, ya Sayang ya?" gumamnya. Pria itu kembali berbaring dengan memeluk perut istrinya. Rasa kantuk yang masih bersemayam, membuat pria itu kembali terlelap.


Waktu terus beranjak maju. pukul tujuh lebih sedikit, Jiwo terbangun dari tidurnya. Saat matanya terbuka, dia sudah tidak melihat Arin di dekatnya. Dia pun bangkit dan mengedarkan pandangan. Sepi, Jiwo hanya sendiri di kamar yang luas itu. Dia lantas segera saja beranjak menuju rumah lama.


Di sana, tepatnya di dapur, Aisyah terlihat sedang menggoreng donat. Alana sedang mengemas gula halus ke dalam plastik kecil. Alena memasukan donat ke dalam plastik di mana tiap plastiknya berisi lima biji donat dengan harga jual dua ribu perbiji. Anum sedang menggoreng kue samir dan Arum sedang menggoreng kue odading. Istri yang lain sedang berada di depan televisi karena pekerjaanya sudah selesai.


"Kalian lagi pada ngapain? Jangan terlalu capek?" Karena terlalu fokus dengan pekerjaannya, mereka sampai kaget ketika suami mereka sudah berdiri disana dan mengelurkan suara.

__ADS_1


"Eh, Mister, udah bangun?" bukannya menjawab pertanyaan, Alana malah melempar pertanyaan balik. "Mister langsung mau makan atau gimana?"


Jiwo lantas duduk di sisi dipan yang lain lalu mencomot kue samir di dalam baskom yang masih mengeluarkan asap. "Nanti aja, Sayang. Belum lapar banget," jawab Jiwo lalu menggigit kue samir itu. "Onde onde dan Roti goreng isinya nggak bikin, Dek?"


"Bikin, itu lagi dibungkusin di dalam," jawab Aisyah, dan Jiwo hanya ber-oh saja.


"Aisyah hebat ya, Mister, bisa bikin kue sebanyak ini?" puji Alena. "Enak enak lagi."


"Hebat apaan, kalau nggak dibanu kalian ya aku bakalan keteteran," bantah Aisyah sambil mengangkat donat dari minyak.


"Kami kan cuma mengaduk doang, Ais. Untuk ukura takaran dengan rasa yang pas, kan kamu yang nentuin," Arum ikut bersuara.


"Tetap saja, kalau ada kekurangan, kan, kalian yang menilai," Aisyah masih tidak mau kalah.


"Tapi, Mister juga hebat," puji Arum.


"Kalau Arum yang berbicara, pasti ujung ujungnya isi celana Mister," Anum menimpali.


"Benar!" Anisa juga menimpali dari dalam.

__ADS_1


"Ah, kalian ini. Kenapa jadi tahu isi pikiranku sih?" protes Arum tidak terima. Semuanya sontak terbahak bersama. Begitu juga dengan Jiwo. Arum dan Arin, dua istri Jiwo itu mesumnya bukan main. Dua duanya juga suka sekali menjilat isi celana suami mereka meski kotor karena keringat. Kalau yang lain tergantung keadaan mereka, tapi kalau Arum dan Arin, tanpa pikir panjang, langsung lahap saja.


Satu persatu, para penjual keliling pun berdatangan. Dengan cekatan Aisyah langsung menyambut mereka dan membagi dagangan yang sudah dikemas dalam plastik. Sementara sisa donat, Aisyah minta tolong pada Alifa untuk melanjutkanya menggoreng.


Jiwo masih berada disana. Dia memperhatikan para istri yang sedang sibuk dengan tugasnya masing masing. Tak henti hentinya Jiwo berdecak kagum atas kekompakan mereka. Dari berbagai kegiatan dan keadaan, mereka tidak pernah protes sama sekali. Justu jika ada hal yang memberatkan, mereka akan selalu membicarakannya dengan kepala dingin.


"Mister nggak jualan lagi?" tanya Adiba saat berada di dapur hendak mandi di rumah baru.


"Belum, Dek. Libur dulu, takut ada apa apa dengan yang lagi pada hamil."


"Ya ampun, Mister, jualan aja nggak apa apa kok. Kan di rumah juga ada orang," ucap Alana.


"Iya, Mister, lagian kan Mister kelilingnya cuma empat hari?" Alena ikutan protes.


"Benar, Mister. Dan Mister harus ingat, biaya melahirkan tidak murah loh," Aisyah ikut mengingatkan.


"Astaga! Kalian itu paling senang ya main keroyokan," balas Jiwo pura pura tak terima.


"Ya iyalah, tapi kalau di ranjang, mainnya satu lawan satu, bukan keroyokan, Mister," pikiran Mesum Arum pun keluar.

__ADS_1


"Astaga!" pekik Jiwo gemas.


...@@@@@...


__ADS_2