MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Keliling Lagi


__ADS_3

Sisa hujan deras semalam meninggalkan beberapa genangan di jalan rusak yang berada di beberapa desa yang letaknya lumayan terpelosok. Begitu juga jalan yang dilalui motor roda tiga dengan pengemudi bernama Jiwo. Dia harus ekstra hati hati dalam menjalankan laju motornya dari jalan jalan yang penuh kubangan air.


Siang ini panas tidak terlalu terik. Bahkan mendung nampak menghiasi beberapa sisi langit. Sepertinya hari ini akan hujan kembali. Meski datangnya entah jam berapa, tapi Jiwo tidak merasa khawatir jika hujan turun. Setidaknya, dia sudah mempersiapkan segalanya untuk menghadapi cuaca seperti ini.


Seperti biasa, Jiwo akan menghentikan laju motornya di salah satu sudut jalan desa yang sudah dia tentukan sebelumnya. Selanjutnya dia tinggal menunggu orang berdatangan tanpa harus teriak teriak menawarkan barang dagangan. Adiba juga ikut turun dan berdiri tepat di samping suaminya yang sedang bersandar di samping kiri motor.


Tidak perlu menunggu terlalu lama, beberapa warga yang mendengar suara khas dari bunyi pedagang kolor yang mengudara, langsung berdatangan menghampiri keberadaan Jiwo. Banyak yang terkejut dengan kehadiran penjual celana kolor kali ini. Kehadiran seorang wanita di sebelah Jiwo, tak segan segan untuk para warga langsung melontarkan pertanyaan siapa wanita itu.


"Dia istri saya, Bu," jawab Jiwo dengan senyum ramahnya.


"Walaahh! Lama nggak kesini gara gara kamu nikah toh?" ucap seorang ibu yang tadi bertanya. Jiwo hanya mampu tersenyum lebar sebagai jawaban dari pertanyaan ibu itu. Begitu juga dengan Adiba, senyum nampak menghiasa bibirnya bersama rasa canggung dan malu yang menyeruak.

__ADS_1


"Pinter nyari istri ya, Mas.Udah cantik tapi nggak malu diajak keliling kayak gini," ucap ibu yang lain. Jiwo kembali menjawab dengan senyum lebarnya.


Pelanggan Jiwo memang kebanyakan ibu ibu. Mereka beli celana kolor untuk suami dan anak laki lakinya. Biasanya para suami atau anaknya pesen pada sang ibu minta dibelikan celana kolor jika pedagangnya datang. Meski di kampung, para pria di sana juga memiliki pekerjaan tersendiri. Ada yang jadi supir, pedagang di pasar, bank harian, petani, pelajar bagi yang usia sekolah, dan lain sebagianya. Jadi wajar jika para pria lebih memilih menitip pesan untuk dibelikan celana kolor jika sedang butuh.


Sambil ngobrol, para pembeli yang di dominasi ibu ibu itu, mulai mengacak acak barang dagangan Jiwo. Mereka memilih barang yang cocok sesuai selera masing masing. Jiwo dan Adiba hanya memperhatikan sambil sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan dari para pembeli. Baik pertanyaan tentang harga barang maupun pertanyaan hal lainnya yang tidak terlalu penting tapi bisa bikin tersenyum lebar.


Akhirnya para ibu telah menjatuhkan pilihannya. Kini satu persatu mereka mulai membayar pada Jiwo. Adiba mengemas barang yang dibeli dan dimasukannya ke dalam kantung plastik lalu diserahkan kepada pembeli.


"Kalau pembelinya heboh seperti itu, jualannya makin semangat ya, Mister," ungkap Adiba sambil merapikan kembali barang dagangan yang acak acakan setelah para pembeli pergi.


"Ini kita tetap disini apa pindah, Mister?"

__ADS_1


"Ya pindahlah, Sayang. Namanya juga keliling. Kita ke arah desa sebelah, setelah itu kita cari makan."


Adiba mengangguk sembari mengukir senyum dan melanjutkan pekerjaannya hingga barang dagangan rapi kembali. Kini, motor roda tiga itu kembali meluncur ke arah desa lain. Tak jarang motor itu sesekali berhenti karena ada warga yang mencegatnya di tengah jalan untuk membeli barang dagangan mereka. Suara khas yang keluar dari speaker kecil menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang mendengarnya.


"Koloran! Koloran!"


Sementara itu tak jauh dari perkampungan Jiwo, seorang pria nampak duduk santai di sebuah warung yang letaknya di pinggir jalan. Pria yang duduk di bangku panjang itu, nampak sedang berpikir sambil menatap jalan raya yang lumayan ramai. Di sebelah kanannya, segelas kopi hitam menjadi teman pria itu saat sedang memikirkan sesuatu.


"Gimana caranya aku menemukan orang itu? Alamatnya kurang lengkap. Suryo, Suryo ... ngasih tugas kok ya gini banget."


Pria itu adalah orang suruhan Suryo, seorang wakil wali kota yang hampir kehilangan ladang uang kotornya dari bisnis ilegal yang dia jalani. Pria itu diberi tugas agar bisa membawa salah satu dari tiga belas gadis dengan cara yang licin. Tidak seperti anak buah Hendrik yang dua kali gagal hingga bisnisnya hampir saja terendus pihak kepolisian.

__ADS_1


"Laki laki yang memiliki tiga belas istri? Baiklah, aku akan cari alamatnya. Pasti banyak yang tahu orang itu," gumam pria itu lalu diraihnya gelas kopi di sebelahnya dan diseruput isinya yang sudah mulai dingin.


...@@@@@...


__ADS_2