MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Rasa Syukur Jiwo


__ADS_3

Suatu pagi, disaat Jiwo sedang duduk manis di atas jalan aspal sambil memperhatikan ke lima istrinya yang sedang melakukan senam kecil, Dikejutkan oleh sebuah suara yang datang dari arah belakangnya.


"Mas Jiwo!"


Seketika Jiwo langsung menoleh dengan wajah terkejut. "Titin!"


Wanita itu tersenyum manis lalu melangkah lebih dekat ke arah pria yang pernah menjadi kekasihnya selama hampir tujuh tahun. Namun senyum wanita itu memudar tatkala pria yang dia dekati langsung berdiri dan menjaga jarak sambil terus sesekali mengawasi istrinya.


Sedangkan ke lima istri Jiwo pura pura asyik mengikuti gerakan dari sebuah video yang mereka lihat lewat ponsel. Mereka diam diam memperhatikan dan juga ingin tahu, apa yang dilakukan mantan kekasih suami mereka.


"Apa kabar, Mas?" tanya wanita bernama Titin tanpa rasa canggung.


Kening Jiwo langsung mengernyit mendengar pertanyaan Titin. Wajah yang Jiwo tunjukkan adalah wajah heran dengan pertanyaan yang Titin lontarkan.


"Kamu tanya kabar?" Bukannya menjawab, Jiwo malah melempar pertanyaan kepada wanita yang sekarang mengangguk dengan senyum sumringah. "Kamu masih waras, kan? Orang rumahnya beda Rw doang, pake tanya kabar segala. Bukankah kamu juga sering lihat aku kalau lagi di pasar? Aneh banget."

__ADS_1


Titin sebenarnya terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Jiwo yang terdengar ketus, tapi wanita itu sepertinya tidak mempedulikannya. Dia malah tersenyum lebar, membuat pria beristri tiga belas yang ada di hadapannya semakin dibuat heran.


"Ya ampun, Mas. Ya basa basi aja apa salahnya sih? Aku ke sini cuma mau minta maaf dengan semua yang pernah aku lakukan ke kamu," ucap Titin begitu santai tanpa rasa bersalah.


"Oh, cuma basa basi? Tumben kamu pake acara basa basi segala? Pasti karena udah nggak ada kekuatan pria yang kamu banggakan itu ya?" tanya Jiwo sedikit memberi sindiran. Tentu saja senyum sumringah Titin kembali memudar mendapat pertanyaan Jiwo yang sedikit menusuk ke dalam hatinya.


"Kok kamu tega sih, Mas, ngomong kayak gitu? Dulu kamu juga nggak pernah ngomong kasar sama aku?" balas Titin malah mengungkit kisah masa lalu mereka.


"Lah, ngapain masa lalu di bawa bawa? Tapi ya aku sadar sih, mungkin dulu aku yang terlalu bodoh kali ya? Eh kamu kesini mau minta maaf kan? Oke deh aku maafin. Udah ya?" balas Jiwo sambil sesekali melempar pandangannya ke arah para istri. Tentu saja Jiwo takut para istri salah paham. Bisa bisa diperkedel dia oleh ketiga belas istrinya.


Mata Jiwo sontak terbuka lebar. "Ada rasa?" Titin mengangguk. "Sama kamu?" Titin mengangguk lagi. "Yang ada aku kapok dan nyesal pernah ada rasa sama kamu." senyum Titin langsung memudar.


"Kok kamu tega banget sih ngomong kayak gitu? Kamu nyesal pernah ada rasa sama aku? Bukankah kamu dulu cinta banget sama aku?" cerca Titin tak terima dengan ucapan Jiwo.


"Itu dia yang bikin aku nyesal, aku sampai melawan siapapun demi wanita yang nyatanya mau membuka kaki lebar lebar untuk pria lain tanpa kata halal. Tapi ya udahlah, itu masa lalu yang sudah aku ikhlaskan. Sekarang kamu lihat kan? Aku justru mendapat bidadari. Bukan hanya satu, tapi tiga belas. Hebatkan balasan Tuhan? Aku ikhlas melepaskan kamu, eh, malah dapat ganti tiga belas bidadari yang rela menemani aku susah, bahkan mereka semua rela berbagi satu suami, dan yang paling istimewa, mereka hanya mau membuka kakinya lebar lebar, kepada pria yang sudah halal. Mantap kan?"

__ADS_1


Mendengar ucapan Jiwo yang seperti sebuah hinaan, seketika kepercayaan diri Titin yang tadi dia tunjukkan langsung runtuh. Titin merasa tertampar melihat Jiwo membanggakan semua istrinya. Sebelum Titin bercerai, dia bahkan tidak pernah mendengar Malik membanggakan dirinya di hadapan orang lain. Tanpa pikir panjang dengan segala perasaan kesal yang bergemuruh di dadanya, Titin Titin membalik badan dan menjauh dari Jiwo tanpa permisi.


"Gimana, Mbak? Sukses pendekatannnya?" tanya Lilis terkesan mengejek.Melihat wajah Titin yang sangat kesal, tentu saja Lilis tahu kalau kalau teman sekaligus tetangga sebelah rumahnya itu gagal melakukan misinya.


"Dasar pria sombong! Apa dia lupa, aku juga pernah menemani dia dari nol? Lupa apa gimana?" sungut Titin tidak terima.


"Hahaha ... menemani dari nol? Bukanya menemani, tapi kamu yang meninggalkan Jiwo demi Malik. Astaga! Kayaknya kalau malaikat pencabut nyawa menghampiri, kamu baru sadar kalau kamu yang salah, hadehh."


"Tahu ah! Mending pulang!"


Tawa Lilis semakin menjadi dan dia langsung mengikuti Titin dari belakang. Sedangkan Jiwo masih menatap Titin dengan perasaan puas dan lega. Setidaknya dia juga bisa mengucapkan kata kata yang pedas, bukan hanya Titin dan Malik saja. Namun saat Jiwo berbalik badan.


"Cie yang habis reuni sama mantan. Kayaknya nggak rela tuh mantan pergi. menatapnya gitu banget."


"Mampus aku!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2