
Pagi ini ada yang berbeda dari pagi yang seperti biasanya. Bukan karena cuacanya yang terlihat beda, tapi suasana yang terjadi di salah satu rumah warga terasa sangat tegang tanpa kehangatan seperti biasanya.
Pak salim, salah satu penghuni rumah itu, sedang meluapkan kembali amarahnya yang masih tersisa kepada istrinya. Baru kali ini dia sangat malu dan kecewa dengan sikap istrinya saat bertemu besan di rumah Jiwo kemarin. Pak salim sangat tidak menyangka, istrinya akan bertindak diluar batas tanpa memandang siapa lawan bicaranya.
Jika bukan karena Pak Lurah yang menceritakannya sendiri, Pak Salim tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan istri, anak dan menantunya. Kemarin sore saat Pak Salim pulang dari pasar, dia melihat Pak Lurah yang sedang berhenti di warung dekat pertigaan. Sebagai seorang besan dan warga yang baik, Pak Salim memutuskan turun dari ojek dan menyapa sang besan yang menjabat sebagai Lurah di kampungnya.
Pak Lurah tentu saja memanfaatkan keadaan tak terduga tersebut untuk berbicara empat mata dengan sang besan. Pak Lurah tahu betul bagaimana sifat Pak Salim, makanya dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menceritakan perbuatan Darmi, Titin dan Malik. Seketika rasa malu langsung menyeruak dalam hati Pak Salim dan setelah ngobrol panjang lebar dengan Pak Lurah, Pak Salim pamit pulang.
Dan kemarahan Pak salim, masih sangat terlihat jelas hingga pagi ini. Sejak subuh, dia sama sekali tidak mengeluarkan satu katapun pada istrinya. Dia hanya berbicara pada anak laki lakinya sebelum anak itu berangkat kerja. Sedangkan Dami, dia sendiri bingung menghadapi diamnya sang suami.
Tak beda jauh dengan apa yang dilakukan Pak Salim, Pak Rohim dan istrinya juga pagi ini mendiamkan Malik dan Titin. Tentu saja tindakan itu mereka lakukan karena mereka sendiri sudah enggan mengeluarkan nasehat dan amarahnya pada suami istri yang sepertinya sudah kehilangan rasa malu.
Dari dalam hati seorang ibu, sesungguhnya jika boleh dia ingin saja anaknya bercerai dengan Titin. Istri Pak Rohim merasa, kelakuan Malik semakin buruk sejak menikah dengan wanita itu. Dulu senakal nakalnya Malik, dia masih mau mematuhi apa yang diperintahkan orang tuanya. Tapi kali ini, Malik benar benar melawan hingga berbuat yang sangat memalukan.
Titin dan Malik akhirnya bingung sendiri saat ini. Mereka tidak menyangka saja, orang tuanya akan semarah ini gara gara masalah kemarin. Di depan mata mereka sendiri, Pak Rohim dan istrinya terang terangan menghindari keduanya. Dari memasak, sarapan ataupun kegiatan pagi lainnya, Titin dan Malik seperti dianggap tidak ada oleh Pak Rohim dan istrinya.
__ADS_1
Berbeda dengan paginya di rumah Jiwo. Disana, di pagi yang sama, justru penuh kehangatan dan tawa ceria. Para istri Jiwo seperti biasa, melakukan tugas paginya dengan baik. Apa lagi pagi ini sang suami akan pergi ke tempat yang lumayan jauh, jadi mereka mempersiapkan segalanya dengan sangat baik.
Sedangkan di dalam kamarnya, Jiwo terlihat sedang bersiap diri. Meski semalam habis membobol mahkota salah satu istrinya dan berlanjut hingga ronde kedua, Jiwo malah terlihat lebih bugar dan semangat. Setelah segalanya terlihat siap, Jiwo segera keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan.
Sambil menikmati sarapannya, Jiwo menatap pakaian yang dikenakan istrinya saat ini. Jiwo sedikit tercekat, baju yang dipakai istrinya nampak begitu lusuh dan pudar warnanya. Padahal dia akan menemani Jiwo pergi belanja. Jiwo tidak ingin menegurnya demi menjaga perasaannya.
Begitu selesai sarapan, Jiwo pun bersiap siap untuk berangkat. Saat semuanya berkumpul untuk pamitan, Jiwo mengeluarkan benerapa lembar uang ratusan ribu yang sudah di ikat dengan karet.
"Mak, ajak mereka ke pasar untuk beli baju baru ya? Paling nggak satu orang minimal beli tiga potong," ucap Jiwo sambil menyerahkan uang itu ke Emak.
"Udah beli aja, kalian nanti butuh juga buat jualan. Ikut Emak, pilih baju yang kalian suka tapi jangan yang terlalu ketat dan terbuka terbuka," ucap Jiwo sambil mengajukan syarat.
"Tapi Alifa bagaimana, Mister? Alifa kan, akan ikut Mister belanja. Mending belinya nanti aja jika Mister udah pulang," balas Anisa.
"Alifa nanti beli sama saya di tempat grosiran. Kalian nggak perlu khawatir, kalian tinggal nurut, Oke?"
__ADS_1
"Baik, Mister," jawab para istri serentak.
Akhirnya Jiwo pun pamit, seperti biasa, para istri menjabat tangan Jiwo satu persatu dan mencium punggung tangannya.
"Ya udah aku berangkat. Kalau ada apa apa kabarin aku."
"Baik, Mister."
Jiwo dan Alifa lantas naik ke mobil pick up yang kemarin Jiwo sewa buat piknik. Tak butuh waktu lama, mobil melaju meninggalkan rumah.
Sedangkan di tempat lain.
"Ini alamat tempat tinggal mereka, dan pastikan kalian jangan sampai gagal, mengerti!"
"Baik, Bos!"
__ADS_1
...@@@@@...