MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Pikiran Dan Hati Yang Berlawanan


__ADS_3

"Dek,"


"Hum? Apa Mister?"


"Kamu tidak memakai segitiga bermuda?"


Aluna bukannya menjawab, tapi dia malah menutup wajahnya lalu mengangguk.


"Astaga!" pekik Jiwo dengan pikiran yang mulai berkelana. "Kenapa tidak pakai? Apa kamu sengaja, tidak menggunakan apa apa lagi selain daster?" tanya Jiwo dengan suara agak berat karena hasrat yang mulai merambat naik.


"Tidak juga, Mister. Saya memang sudah terbiasa kalau tidur memang nggak suka pakai pakaian wanita di dalamnya. Paling cukup pakai baju tidur saja."


Jiwo tercengang mendengarnya kemudian tersenyum tipis dengan pikiran yang sudah berkelana kemana mana. "Ada ada aja kamu, Sayang! Apa nggak takut sakit?" tanya Jiwo dengan tangan kiri semakin erat melingkar di pinggang Aluna, sedangkan telapak tangan kanannya tanpa sadar mengusap pinggang dan paha Aluna.


"Katanya sih sakitnya cuma sebentar, Mister. Untuk seterusnya yang ada hanya enak, enak dan enak," mendengar jawaban Aluna yang menyambung ke hal lainnya, membuat Jiwo terkekeh dan semakin gemas. Secara naluri, tiba tiba Jiwo mulai menciumi leher belakang sang istri.


"Astaga! kok jawabannya malah nggak nyambung sih, Dek?" ucap Jiwo merasa gemas. "Apa kamu ingin merasakannya?"


"Emang Mister mau mengabulkan? Entar Mister marah marah lagi karena aku melanggar janji," cicit Aluna.


"Nggak, aku nggak bakalan marah, Sayang."


"Benarkah?" Jiwo tidak menjawab tapi dia semakin liar menciumi leher sang istri.

__ADS_1


"Apa aku boleh menyentuhnya?" pinta Jiwo. Pikirannya sudah mulai tidak sejalan dengan hatinya. Aluna mengangguk pelan. Jiwo tersenyum lebar, dia menggerakkan tangan kanannya, mengangkat sedikit daster Aluna hingga ke paha, terus jarinya menelusup hingga menyentuh benda diantara dua paha sang istri. Jiwo dapat merasakan milik Aluna lebih tembem dan tidak ada rerumputan di sana.


"Ternyata disentuh oleh suami yang kita cintai, sangat nyaman dan menyenangkan ya, Mister," ungkap Aluna beberapa saat kemudian saat jari Jiwo sudah mulai bergerak memijatnya, tangan Aluna menekan tangan Jiwo yang sedang memijat pelan benda di bawah perutnya.


Jiwo tersenyum lebar. Hasratnya sudah membakar jiwa raganya. Dia langsung menciumi leher belakang Aluna dengan beringas. Sementara sang istri hanya terdiam tanpa tah harus berbuat apa.


"Dasternya aku lepas ya?" pinta Jiwo dan Aluna hanya mengangguk pasrah. Tangan Jiwo bergerak mengangkat daster Aluna dan menghempaskannya ke lantai. Benar saja, Aluna hanya memakai daster, sedangkan di dalamnya, dia tidak memakai apapun.


Jiwo yang sudah dihinggapi hasrat yang tinggi, langsung saja meraih benda kembar nan kenyal milik istrinya. Benda kembar itu Jiwo pijat perlahan hingga pemiliknya menggeliat dan mengeluarkan suara kenikmatan.


"Hadap sini, Sayang!" titah Jiwo. Aluna menurutinya, kini dia duduk diatas pangkuan Jiwo.


"Apa yang harus aku lakukan, Mister?"


Aluna mengangguk. Dia benar benar terdiam. Sedangkan Jiwo dengan rakusnya, mulai menikmati leher, dada dan benda kembar milik Aluna. Jiwo juga menuntun Aluna agar bibir mereka saling beradu. Hanya mengajari beberapa saat, Aluna sudah mampu mengimbangi permainan bibir Jiwo.


"Baju Mister nggak dilepas?"


Jiwo kembali mengulas senyum dan dia langsung melepas kaos yang dia pakai.


"Sekarang, kamu ciumi leher, dada dan perut aku ya, Sayang," pinta Jiwo dan Aluna langsung menggangguk. Jiwo menyandarkan tubuhnya dan menikmati setiap sentuhan bibir Aluna. Salah satu tangan Jiwo juga tidak bisa diam. Dengan pelan, tangan itu terus memijat benda kembar yang kenyalnya masih alami.


Setelah di rasa cukup, Jiwo menuntun Aluna agar dia berbaring. Lalu dengan sangat agresif, Jiwo kembali seluruh tubuh polos istrinya. Bahkan Jiwo dengan rakusnya memainkan gundukan tembem yang mulus tanpa bulu milik Aluna.

__ADS_1


Sejenak Jiwo menghentikan aksinya. Dia berdiri lalu melepas dua buah celana yang membungkus tubuhnya. Mata Aluna terpaku dan hampir tidak berkedip melihat benda yang sudah sangat menegang di bawah perut Jiwo.


"Punya Mister gede banget!" ucap Aluna penuh rasa kagum.


"Kamu mau pegang?" tanya Jiwo. Tanpa menunggu persetujuan, Jiwo langsung jongkok dengan kaki diantara tubuh Aluna. Disodorkannya benda yang sudah sangat menegang itu dihadapan wajah sang istri.


Tangan Aluna bergerak dan untuk pertama kalinya, wanita itu benar benar menggenggam senjatanya laki laki.


"Lucu ya, Mister. Menggemaskan," ungkap Aluna dengan tatapan terus memandangi benda menegang nan panjang dan besar itu.


"Kalau kamu mau, kamu juga bisa menciuminya dan menjilatnya, Sayang."


"Apa enak?"


"Coba aja dulu, Sayang."


Sejenak mata Aluna menatap wajah Jiwo dengan tatapan terlihat sedang berpikir, tak lama kemudian Aluna mendekatkan bibirnya dan perlahan mulai mengecup benda menegang milik Jiwo. Tak berhenti sampai situ, dengan bimbingan dari Jiwo, Aluna mulai membuka mulut dan menjulurkan lidahnya.


"Nah, gitu, Sayang. Enak banget, Sayang," racau Jiwo. Aluna yang awalnya merasa jijik, berkat arahan Jiwo kini dia malah terlihat menikmati benda menegang milik Jiwo dengan beringas.


"Cukup, Sayang! Sekarang saatnya aku masukin ke dalam lubang kamu, kamu siap?"


Aluna mengangguk pasrah.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2