
Setelah perdebatan kecil di pagi hari dan pengeroyokan yang di lakukan para istri, Jiwo pun akhirnya menyerah. Dia akan keliling jualan seperti biasa, seminggu empat kali berjualan. Meskipun khawatir, mau tidak mau dia harus percaya kalau istri istrinya yang sedang hamil bisa jaga diri sambil mengerjakan aktivitas kesehariannya. Mungkin karena mereka juga sudah terbiasa mandiri, jadi mereka enggan terlalu dimanja oleh suaminya.
Benar kata Aisyah, biaya bersalin memang mahal. Tapi untungnya, Jiwo sudah memiliki tabungan untuk hal itu. Berhubung di awal pernikahan mereka, para istri tidak mau menerima nafkah dari suaminya, Jiwo menabungkan uang nafkah itu untuk berjaga jaga jika suatu saat nanti para istri butuh uang banyak. Tabungan itu semakin bertambah dengan meningkatnya hasil jualan, serta usaha yang Aisyah rintis.
Aisyah selalu mengatakan kalau usaha yang dia rintis itu usaha bersama. Memang benar, usaha itu dimodali dari Jiwo, dan dikerjkan rame rame dengan bimbingan langsung dari Aisyah. Makanya, Aisyah menolak kalau uang hasil jualan usahanya, dia simpan sendiri. Dia bilang itu adalah uang bersama. Sungguh Jiwo semakin kagum dan semakin sayang dengan para istrinya.
Begitu pengeroyokan usai, Jiwo memilih pindah tempat duduk di meja makan sekalian menikmati menu yang sudah siap disantap di atas meja. Setelah sarapan, Jiwo bergegas bersiap untuk mengantar makanan. Namun seperti biasa, tiap habis makan, Jiwo akan menyesap dada istrinya sebagai ganti rokok. Cara itu terbilang berhasil. Jiwo sudah tidak pernah merokok di rumah, karena ada tiga belas pasang bukit kembar istrinya yang siap dia nikmati jika dia habis makan atau mulutnya terasa asam.
Sekarang Jiwo sudah siap mengantar Adiba dan AIifa pergi ke pasar. Jika Jiwo berjualan, biasanya para istri berangkat jalan kaki hingga keluar komplek lalu naik angkutan umum. Kalau kondisi hujan, baru mereka naik ojeg online. Itu saja sangat jarang. Kadang mereka nekat tetap naik angkutan umum dan membawa payung. Itu sebabnya di rumah Jiwo ada sekitar delapan payung.
Sesampainya di pasar, mereka langsung membuka lapak dan menata barang yang biasa mereka pajang. Berhubung Jiwo lagi libur jualan, dia pun membantu jualan istrinya.
"Mbak, underwear cewek Marbela ada nggak, Mbak?" seorang pembeli menghampiri lapak mereka disaat lapak baru buka.
"Ada, Mbak, bentar ya," balas Adiba dan dia segera mengambil stok barang yang diminta pembeli. "Ini, Mbak."
Pembeli menerimanya dan memilih barang yang ukurannya seperti yang dia inginkan. "Mbak,aku beli yang ini, ini dan ini, masing masing tiga ya, Mbak."
"Baik, Mbak."
__ADS_1
Adiba dengan cekatan melayaninya. Ternyata orang itu membeli banyak barang untuk di jual lagi, jadi harga yang diberikan pun berbeda. Betapa senangnya orang itu. Sepertinya dia baru tahu kalau di lapak Jiwo memang beda. Harga ecernya saja sudah murah, apalagi harga bakulan. Hingga menjelang siang, para pembeli mulai berdatangan.
Jiwo melihat dua orang yang di kenal lewat, dua orang itu pun melambai ke arah Jiwo. Dia meninta ijin pada dua istrinya untuk menemui dua orang yang menjadi sahabatnya sejak Jiwo masih SMP.
"Kalian lagi pada ngapain di pasar? Tumben barengan?" tanya Jiwo begitu dia menemui dua sahabatnya setelah mendapat ijin dari Adiba dan Alifa.
"Mau ke pasar burung, Wo. Mumpung libur," jawab sahabat Jiwo yang bernama Ozi. Dia memang paling suka pelihara burung.
"Lah kamu sendiri, ngapain, Dil?" tanya Jiwo kepada Fadil, sahabat satunya lagi.
"Lah kamu, Dil?"
"Mau nyamperin kamu, udah tahu kalau kamu itu pasti sibuk, jadi aku nyamperin Fadil," Ozi ikut menjawab. "Kalau kamu mau ikut, ya ayo, Wo."
"Entar, aku bilang sama istriku dulu," Jiwo kembali ke lapak minta ijin lagi dan setelah di ijinkan mereka bertiga pun bergegas ke pasar burung yang ada di belakang pasar utama.
Pasar burung itu, tidak setiap hari ada. Pasar itu hadir tiap seminggu dua kali menurut penangggalan pasaran jawa. Pasar itu akan ada setiap hari pon dan kliwon. Tak heran, jika pasar burung digelar, akan selalu ramai oleh para pecinta burung. Dari anak anak hingga orang tua, mereka berbaur disana, dan kebanyakan kaum laki laki yang mengunjunginya.
Jiwo, Ozi dan Fadil juga berbaur dengan mereka. Keliling melihat aneka burung disana. Begitu merasa lelah, mereka berhenti di warung kopi.
__ADS_1
"Kalau aku ketahuan ngrokok, bisa disidang ini," ucap Jiwo dsela sela obrolan mereka.
"Emang kamu udah berhenti merokok, Wo?" tanya Fadil.
"Nggak total sih, tapi kalau di rumah nggak berani, bakalan di sidang aku."
"Lah terus jalan keluarnya gimana, Wo? Kamu ngemut permen gitu?"
"Iya, Wo. Kalau abis makan, kan, rasanya mulut asem gitu. kalau nggak ngrokok? Kamu kuat?"
"Ada penggantinya lah."
"Apa gantinya?"
"Kenyot dada semua istriku dong."
"Hah!"
...@@@@@...
__ADS_1