
"Mas Toni, mobilnya dipake nggak?"
"Nggak, Wo, kenapa? Mau minjam lagi?"
"Iya, Mas. Mau buat bawa barang dagangan ke pasar."
"Loh? Kok ke pasar? Nggak keliling lagi?"
"Masih, Mas. Ini untuk lapak lama mau di pake jualan istri."
Pemilik Mobil pick up yang biasa di pinjam Jiwo, sejenak mengerutkan keningnya sambil menatap Jiwo dengan tatapan seperti orang yang sedang berpikir. Namun sesaat kemudian senyumnya terkembang. Entah apa yang terlintas dipikiran Toni, tapi dia segera beranjak masuk dan menyuruh Jiwo menunggu sebentar.
Sebenarnya Jiwo kalau ke rumah Toni itu agak was was, karena setiap mau ke rumah pemilik mobil itu, Jiwo selalu melewati rumah wanita yang sangat membencinya. Siapa lagi kalau bukan Darmi. Jarak rumah Darmi dan rumah Toni hanya terpisah dua rumah tetangga. Jika dari arah rumah Jiwo, sudah dipastikan jalan yang dilaluinya melewati depan rumah mantan kekasihnya.
Bukannya Jiwo takut, dia hanya terlalu malas berurusan dengan orang orang seperti Darmi. Meski wanita itu beberapa hari ini tidak terdengar suaranya, tapi tetap Jiwo lebih baik menghindar meski tak sengaja bertemu.
"Nih, Wo, kuncinya," ucap Mas Toni begitu keluar dari rumah dan menyerahkan kunci mobil. "Jadi istri istri kamu akan jualan sendiri apa gimana?"
"Iya, Mas. buat kesibukan sekalian bantu nyari rejeki."
__ADS_1
"Hebat kamu, Wo, bisa ngatur semua istri kamu. Dan yang aku perhatiin istri istri kamu akur ya?"
Jiwo mengulas senyum. Ada rasa bangga mendengar tetangganya memuji dirinya. "Ya Alhamdulillah, Mas. Mereka benar benar sangat pengertian. Ini aja mereka yang minta jualan."
"Ya wajar, Wo, mungkin mereka nggak mau terlalu membebani kamu dan Emak," balas Toni lalu menyeruput kopi yang sudah dingin. "Urusan ranjang gimana, Wo? Main keroyokan apa gimana?"
Bukannya menjawab, Jiwo malah tergelak dilempar pertanyaan seperti itu. Toni adalah orang kesekian yang menanyakan tentang hubungan ranjangnya. Tidak dipungkiri, memang banyak yang penasaran dengan hubungan ranjang Jiwo, tapi itu semua menjadi rahasia yang tidak mungkin Jiwo ceritakan ke semua orang.
"Ya udahlah, Mas, aku pamit, sudah siang, masih banyak yang harus aku urus," ucap Jiwo mengakhiri obrolannya. Toni pun mempersilakan. Jiwo pulang dengan mengendarai mobil pick up yang baru saja dia pinjam.
Begitu sampai rumah, kening Jiwo berkerut. Di teras rumah, karung karung yang berisi barang dagangan sudah tergeletak disana bersama beberapa istrinya yang menunggu.
"Kita, dong," jawab Anisa.
"Astaga! Kalian kuat?"
"Ya kuatlah, Mister, kan gotongnya juga rame rame," balas Anisa lagi.
"Ya udah, aku masuk dulu buat siap siap," ucap Jiwo dan dia segera saja masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Tanpa sepengatuhan Jiwo, para istri kembali bekerja sama mengangkat karung ke atas mobil pick up satu persatu. Saat Jiwo keluar, dia dibuat terkejut melihat karung terakhir dianggkat oleh enam orang istrinya yang berada di bawah sedangkan yang lain menunggu di atas mobil.
Jiwo tak bisa berkata kata lagi. Dia hanya melongo dengan tatapan takjub. Kecantikan para istrinya tidak membuat mereka gengsi untuk mengangkat karung. Tentu saja Jiwo bangga, memiliki istri yang tidak malu melakukan apapun meski wajah mereka begitu memukau dimata para lelaki.
"Kalian ini yah? Memang susah dibilangin," ucap Jiwo gemas sambil melangkah menuju sisi kanan mobil. Sedangkan istri istrinya hanya bisa tersenyum lebar tanpa mau membalas ucapan suaminya. "Rumah cek dulu, kompor, listrik sudah dimatikan belum?"
"Siap, Mister," jawab istrinya dan tiga orang diantaranya segera saja masuk ke dalam untuk memeriksa semuanya. Setelah dirasa aman, mereka mengunci pintu depan dan keluar lewat pintu samping.
"Ya udah kita berangkat," titah Jiwo. Dia segera masuk ke dalam mobil sedangkan para istri naik di belakang semua. Jiwo hanya mampu tersenyum lebar mendengar keributan para wanita cantik di belakang. Setelah semuanya siap, mobil segera meluncur ke arah pasar.
Sementara di kampung yang sama, Hendrik dan dua anak buahnya terlihat sedang menikmati sarapan di sebuah warung makan. Mungkin karena sudah terbiasa jadi pukul sembilan mereka baru bida sarapan. Apa lagi mereka terbiasa tidur menjelang pag. Bisa saja mereka bangun di saat rasa lapar menyerang perut mereka.
"Orang suruhan Suryo jadi datang hari ini nggak, Bos?" tanya Kamso disela sela menikmati menu sarapannya.
"Jadi, mereka sedang dalam perjalanan," balas Hendrik lalu menyalakan batang rokok setelah dia selesai makan terlebih dahulu.
"Baguslah, udah nggak sabar aku nunggu hasilnya," balas Wito.
"Sabar aja, kita memang harus pake cara yang halus," balas Hendrik di iringi dengan seringai jahatnya.
__ADS_1
...@@@@@...