
"Terus apa yang terjadi? Coba ceritakan?" desak Alana.
Jiwo menghembus kasar nafasnya. "Baiklah, aku akan ceritakan apa yang sedany aku pikirkan."
Jiwo langsung menceritakan dengan amat sangat serius. Bahkan dia berkali kali kata maaf terucap disela sela dia menceritakan kegundahan hatinya. Bahkan Jiwo melarang istrinya menyela ucapannya sebelum Jiwo selesai bercerita. Wajahnya sangat serius hingga kadang terlihat gurat frustasi beberapa kali.
"Bagaimana menurut kalian? Apa kalian setuju?" tanya Jiwo mengakhiri ceritanya. Hatinya berdegup kencang saat menunggu jawaban para istrinya. Perasaan Jiwo semakin tak karuan saat melihat semua istrinya terdiam dan saling berpandangan.
"Jadi hanya karena itu Mister sikapnya aneh tadi siang?" tanya Alina.
Jiwo mangangguk. "Tapi itukan masalah serius, Dek?"
Lagi lagi para istri saling pandang dan tak lama setelah itu Jiwo terkejut dengan apa yang terjadi selanjutnya hingga Jiwo terperangah.
"Hahaha ..." ketiga belas istrinya serentak tertawa bersama, membuat kening jiwo berkerut karena merasa heran.
"Kenapa kalian malah tertawa?" tanya Jiwo dengan wajah yang nampak begitu bingung.
"Mister lucu, masalah gitu aja sampe dilema," ucap Arum.
"Lah, emang kenapa?"
__ADS_1
"Kami sudah tahu, Mister. Kami sudah cerita sama Emak soal anak, termasuk surat tanda lahir," Aisyah yang menjawab.
"Hah! Kapan?" tanya Jiwo lagi nampak tak percaya.
"Beberapa hari yang lalu. Emak juga sudah menjelaskan semuanya. Termasuk tentang akta kelahiran," terang Alena.
"Lah terus tanggapan kalian?" tanya Jiwo malah menjadi penasaran dengan keputusan para istrinya.
"Ya nggak apa apa. Kalau memang itu untuk kebaikan anak kita. Kami nggak apa apa jika dalam akta kelahiran anak kami nanti nggak ada nama kami tapi nama Aisyah," balas Anisa tenang tanpa beban.
"Iya, Mister. Nanti kita tinggal kasih pengertian aja ke anak kita, aku yakin, anak anak juga pasti akan mengerti. Lagian selama masih ada orantua lengkap, anak anak pasti tetap merasa seneng," sambung Alana.
"Maka itu, Mister nggak perlu terlalu khawatir. Kami sudah mengambil keputusan kalau kami nggak apa apa jika dalam surat kelahiran anak kami nggak ada nama kami," Arin ikut bersuara.
"Loh? Mister kenapa menangis?" tanya Anum yang duduknya tepat di sebelah sang suami.
"Hati kalian sebenarnya terbuat dari apa sih? Kalian sudah berbagi suami, mau di ajak usaha bersama, selalu mengalah dan mengerti satu sama lain. Apa kalian nggak lelah memiliki hati sehebat itu?" bukannya menjawab, Jiwo malah melempar pertanyaan yang berbentuk pujian tapi terdengar menggelikan di telinga para istri.
"Ya nggak perlu pake nangis, Mister?" ledek Aziza.
"Tahu ah, orang suami lagi tanya serius malah diledekin," sungut Jiwo sambil mengusap sisa air mata yang menetes tidak terlalu banyak. Para istripun kompak tersenyum lebar melihat Jiwo yang mendadak berubah kesal. Dia lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Anum
__ADS_1
"Lah terus kami harus jawab apa, Mister? Bukankah harusnya Mister bersyukur? Malah nangis," ucap Aluna nadanya terdengar mengejek di akhir kalimat.
"Mister nggak perlu mikir macem macem. Semua ini kita lakukan untuk keutuhan rumah tangga kita. Bukankah itu juga yang Mister harapkan? Rumah tangga Mister tetap damai dan akur?" giliran Arum yang bersuara.
"Lagian, pasti anak anak akan senang kalau mereka punya ibu yang banyak. Jadi banyak yang belain," Aluna menimpali.
"Eh, tapi kalau anak anak protes minta ayah lagi bagaimana? Soalnya kan mereka cuma memiliki satu Ayah?" ucap Adiba bermaksud meledek suaminya. Tentu saja, mendengar ucapan Adiba, Jiwo langssung bangkit lagi.
"Jangan!" seru Jiwo lantang. "Enak aja mau nambah ayah. Satu ayah cukup! Nggak boleh nambah nambah."
"Kenapa? Apa Mister akan melarang jika anak kita minta nambah Ayah?" sambung Adiba sambil mengulum senyum. Begitu juga dengan istri yang lain. Mereka gemas sendiri melihat suaminya.
"Ya aku akan bilang ke anak, ibu boleh banyak tapi Ayah tetap satu," jawab Jiwo lantang.
"Alasannya apa? Biar anak kita yakin dan percaya sama ucapan ayah mereka?" Arin bertanya.
"Kalian pernah dengar nggak sih apa kata kyai? Hormatilah ibumu, ibumu dan ibumu, baru hormati ayahmu. Nah, kan disitu jelas sekali kalau ibunya boleh banyak dan ayahnya cuma satu," Jiwo menjawab dengan lantang dan cengengesan.
"Loh? Kenapa jadi salah mengartikan ucapan Kyai? Mister ini, bisa aja kalau ngomong," balas Anum dan mereka pun tertawa bahagia. Jiwo memperhatikan semua wajah istrinya dengan perasaan yang amat sangat lega.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau menganugerahi hamba, istri istri yang sangat luar biasa."
__ADS_1
...@@@@@...