
"Ini ada apa pagi pagi udah kesini? Ada masalah?" tanya Bapak.
"Enggak, cuma aku kesini disuruh Bapak mertua buat nyampein pesan untuk Ibu."
"Pesan? Untuk Ibu? Pesan apaan?" tanya Darmi dengan kening yang berkerut.
"Kita disuruh minta maaf sama keluarga Jiwo, Bu."
"Apa!" pekik Darmi dengan nada terkejut. "Kenapa kita disuruh minta maaf? Kita nggak salah."
Pak Salim yang mendengar penyangkalan istrinya sontak menggeleng beberapa saat. Tapi dia enggan buka suara untuk sekedar menasehatinya. Pak Salim lebih memilih bertanya kepada sang anak. Apa alasan besannya nyuruh sang istri minta maaf.
Titin lantas menjelaskan tentang kejadian semalam dimana Jiwo datang ke rumah mertuanya dengan membawa tiga orang penjahat. Titin menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat satupun termasuk satu penjahat yang menjadi faktor utama Titin dan Malik menganggap istri istri Jiwo wanita yang tidak benar.
Wajah panik dan terkejut tentu saja terlihat jelas pada diri seorang Darmi. Awalnya dia menganggap anaknya berbohong, tapi setelah Titin menceritakan bagaimana Bapak mertuanya marah, nyali Darmi langsung menciut.
__ADS_1
"Masa kita disuruh minta maaf? Terlalu senang nanti Jiwo dan Emak," ucap Darmi dengan angkuhnya.
"Ya kalau Ibu mau dikasuskan sama Bapak mertua ya nggak perlu minta maaf," jawab Titin meski dia sendiri juga terlalu gengsi melakukannya.
"Mana mungkin mertua kamu itu bisa tega? Apa lagi anaknya juga ikut terlibat?"
"Ibu kayak nggak tahu aja, dia kan pengin selalu menjaga nama baiknya sebagai lurah yang adil dan bijaksana. Aku sendiri juga heran, kenapa dia malah mendukung warga daripada melindungi anaknya sendiri?" keluh Titin.
Pak Salim yang sedari tadi diam hanya mampu tersenyum sinis mendengar keluhan anak dan istrinya. Dia sendiri sangat heran dengan sifat anak dan istrinya. Sejak Titin berpacaran dengan Jiwo, sang istri sifatnya memang sangat berubah. Entah apa penyebabnya dia menjadi benci dengan Jiwo, padahal sebelum anaknya menjalin hubungan dengan Jiwo, sikap Darmi masih baik baik saja kepada Emak.
"Kaliana tinggal pilih saja mana yang lebih enak? Minta maaf sama Jiwo atau dikasuskan dan masuk penjara?" ucap Pak Salim santai sembari bangkit dan beranjak ke kamar meninggalkan istri dan anaknya yang nampak syok mendengar ucapan Pak Salim.
Tanpa terasa waktu terus beranjak. Saat ini sudah menunjukan pukul sembilan pagi. Istri istri Jiwo sudah bersiap diri di teras rumah. Sedangkan bekal yang mereka bawa sudah tertata rapi di mobil.
"Emak yakin nggak mau ikut?" tanya Jiwo begitu dia keluar rumah, sedangkan Emak duduk di kursi yang ada di teras.
__ADS_1
"Enggak lah, males. Emak pengin istirahat aja di rumah," tolak Emak.
"Ya udah, Emak kalau ada apa apa telfon Jiwo atau panggil Paman," balas Jiwo dan Emak mengiyakan. "Kalau kita berangkat, Mak. Emak hati hati di rumah loh."
"Iya."
Setelah Jiwo pamit, para istri Jiwo pun ikutan pamit. Satu persatu mereka menjabat tangan Emak dan mencium punggung tangan mertua mereka. Kemudian mereka bergegas naik ke mobil. Salah satu dari mereka duduk di depan untuk menemani Jiwo yang mengemudikan mobil. Tak lama kemudian mobil melaju meninggalkan halaman rumah.
Dihari yang sama tapi di kota yang berbeda, tiga pria berbadan tegap sedang menunduk ketakutan saat mereka harus menerima amarah dari sang Bos karena misinya kembali gagal. Apalagi si Bos mendengar dari mulut mereka, kalau mereka sudah ketahuan sebelum bertindak, makin murkalah dia kepada tiga anak buahnya itu.
"Kenapa kalian jadi sebodoh itu sih? Hah! Kenapa? Apa kalian nggak mikir biaya buat kalian pergi kesana itu nggak sedikit? Udah korban mobil ilang satu tapi kerja kalian nol besar!" maki Hendrik lantang. Baru kali ini dia mengalami bisnis yang sangat merugikan. Kerugiannya juga tidak main main.
"Tapi beruntung kita masih bisa pulang, kan, Bos? Coba kalau kita jadi dilaporkan ke polisi, nanti Bos juga akan kena imbasnya," ucap Bejo membela diri.
Seketika Hendrik terbungkam. Meski emosi bersarang dalam jiwanya, tapi dia membenarkan apa yang dikatakan Bejo. Jika Bejo dan yang lain ketangkap, sudah dipastikan polisi akan menyelediki mereka dan tentu saja semua akan mengarah kepada Hendrik.
__ADS_1
"Sepertinya aku memang harus bergerak sendiri menangkap wanita wanita itu! Aku yakin kalau aku yang bertindak, pasti mereka bakalan ketangkap semua. Aku yakin itu!" gumam Hendrik dengan sangat percaya diri.
...@@@@@@...