MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Dilema


__ADS_3

"Terus, Wo, kamu udah mikirin belum?"


"Mikirin apa?"


"Nanti anakmu punya akte kelahiran atau nggak? Kan, kamu cuma nikah siri?"


"Maksudnya?"


"Masa kamu nggak tahu?"


"Serius, aku nggak tahu."


"Begini, Wo, nanti kalau anak anak kamu lahir, di akte kelahiran mereka itu hanya ada nama Ibu kandung, Wo. Nggak ada nama Ayah. Ya soalnya kamu nikah siri kan? Nggak ada jejaknya. Ya walaupun pernikahan kalian banyak saksinya, untuk membuat akte kann, lahir harus ada buku nikah," terang Fadil dengan gamblang dan jelas.


"Iya, Wo, benar apa yang dikatakan Fadil. Kamu nggak mau kan, nanti dikatakan anak anak kamu adalah anak hasil hubungan di luar nikah. Bisa saja awalnya baik baik saja dan menganggap enteng, tapi kan ke depannya kita nggak tahu," sambung Ozi.


Jiwo pun terdiam. Dia mencerna semua ucapan dua sahabatnya. Apa yang dikatakan mereka memang benar, akta lahir seorang anak memang penting. Apa jadinya kalau dalam akta mereka hanya ada nama ibu? Jiwo tidak bisa membayangkan perasaan anak anaknya nanti bagaimana. Punya Ayah tapi namanya tidak tercantumkan.


Akta kelahiran memang kelihatannya sepele dan banyak yang meremehkan kepemilikannya. Tapi sebenarnya itu merupakan surat penting bagi keberlangsungan hidup seseorang nantinya. Seperti mendaftar sekolah dan sebagainya, yang biasanya memerlukan akta tersebut. Apa lagi bagi anak perempuan. Jika mereka akan menikah, maka tanggal kelahiran mereka akan dibandingkan dengan tanggal pernikahan orang tuanya. Takutnya mereka nanti dikira anak haram.

__ADS_1


"Nggak perlu terlalu dipikirkan, Wo. Tapi kalau kamu menganggap ini masalah penting, kan kamu bisa memasukan nama anak anak kamu ke kartu keluarga di pernikahan kamu yang resmi. Dari semua istri kamu, ada yang nikah secara negara, kan?"


"Ya ada, tapi entar dulu, maksudnya kamu ini gimana, Zi? Aku nggak ngerti apa yang kamu ucapkan barusan?"


"Kan bikin akta kelahiran, syaratnya harus ada buku nikah sama kartu keluarga."


"Loh, kok ribet banget ya? Jika nama anak saya dimasukin satu kartu keluarga, nanti dalam akta kelahiran, nama ibunya beda dong? Aduh, bagaimana perasaan istri istriku?" ucap Jiwo sedikit frustasi.


"Ya bicarakan aja dulu, semua akan mudah jika dibicarakan baik baik," usul Fadil.


"Iya, aku tahu. Tapi aku takut melukai perasaan istri istriku. Mereka itu udah berkorban banyak loh. Aku takut aja jika aku nggak adil," balas Jiwo. Kini wajahnya berubah sendu.


"Iya, tapi aku yang bingung cara ngomongnya. Aku takut menyinggung perasaan mereka."


Fadil dan Ozi hanya bisa menganggukan kepala beberapa kali. Mereka mengerti kegelisahan sahabatnya. Benar kata mereka, setiap pilihan harus ada yang dikorbankan. Dalam hal ini, Jiwo kembali harus mengorbankan perasan istri yang lain.


Meresmikan satu istri menjadi pernikahan secara negara saja, perasaan bersalah langsung menyeruak di hati Jiwo, sekarang dia harus kembali dihadapkan pada pilihan yang menurutnya amat sulit karena harus mengorbankan perasaan istri istrinya kembali.


Melihat sahabatnya terdiam seperti sedang memikirkan hal yang sangat berat, Fadil dan Ozi pun mengalihkan pembicaraan ke hal yang lainnya. Meski mereka juga tetap memberi dukungan dan nasehat agar Jiwo jangan terlalu memikirkan tentang apa yang tadi mereka bicarakan.

__ADS_1


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan tengah hari. Karena terlalu asyik mengobrol, mereka lupa kalau mereka sudah lebih dari tiga jam berada di pasar burung. Mungkin karena mereka akhir akhir jarang bertemu, jadi mereka ngobrol sampai lupa waktu. Ketiga pria yang sudah menjadi kepala keluarga itupun akhirnya memutuskan pergi dari pasar burung dan mau tidak mau, mereka harus berpisah, kembali menjalani takdir hidup masing masing.


Sejak pertemuannya dengan Ozi dan Fadil, Jiwo mendadak jadi pendiam. Di dalam lapak, dia tak banyak bicara dan hanya mengeluarkan suara seperlunya saja. Awalnya kedua istri yang ada di lapak mengangap kalau Mister mungkin sedang lelah.


Tapi seiring waktu berlalu, dengan datangnya sore menjelang petang, Para istri merasa heran dengan sikap suaminya. Jiwo lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Saat Jiwo habis makan pun, dia menolak dada istrinya untuk dikenyot sebagai pengganti rokok. Tentu saja para istri bertanya tanya, apa yang terjadi pada suami mereka.


"Mister kenapa sih? Apa tadi di pasar terjadi sesuatu?" tanya Aisyah disaat mereka sedang berkumpul dan Jiwo sedang terlelap sejak pukul tiga sore.


"Iya, Mister aneh. Biasanya tiap abis makan juga dia akan langsung lahap menyesap bukit kembar kita, eh tadi dia nolak gitu? Padahal udah aku sodorin," keluh Arum.


"Enggak sih, nggak terjadi sesuatu yang menurutku gawat. Cuma, tadi, sejak Mister kembali dari pasar burung bersama dua temannnya, Mister jadi seperti itu. Diam mulu," adu Alifa.


"Mungkin mereka membicarakan hal yang sangat serius atau mereka bertengkar?" terka Andin.


"Kayaknya nggak deh," balas Alifa ragu.


"Daripada kita menerka nerka nggak jelas begini, lebih baik nanti setelah makan malam, kita tanyakan aja pada Mister apa yang terjadi, bagaimana?" usul Anisa.


"Setuju!" seru yang lain kompak.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2