
Suasana tegang begitu terasa di ruang tamu dalam sebuah rumah. Empat orang lelaki dan satu orang wanita nampak sedang berbasa basi sejenak guna mencairkan suasana. Sementara itu di ruang tengah rumah tersebut, tiga belas wanita muda dan satu orang wanita menjelang tua hanya terdiam sambil memperhatikan pembicaraan dari ruang tamu.
"Jadi kalian dari kedutaan?" tanya Jiwo akhirnya mulai mengarah ke pembahasan inti dari datangnya dua orang tamu, pria dan wanita. Sangat jelas terlihat dari sikap yang ditunjukan Jiwo, kalau pria itu sudah tidak sabar mengorek informasi lebih jauh.
"Iya benar, kami dari kedutaan," jawab si wanita yang katanya bernama Anita.
"Dan kalian akan menjemput istri istri saya untuk pulang ke negaranya?" tanya Jiwo lagi masih dalam mode santai.
Wanita itu mengangguk dan berkata, "Ya, seperi yang sudah saya informasikan tadi pagi kepada istri istri anda, Pak. Apa Bapak perlu penjelasan yang lebih akurat lagi?"
Jiwo nampak manggut manggut lalu dia menggeleng. "Nggak perlu, saya sudah cukup paham. Lalu darimana anda tahu mereka ada disini?"
Wanita itu kembali mengulas senyum ramahnya dan mengambil ponsel lalu menunjukkan sesuatu pada Jiwo. Sebuah postingan entah dari siapa dalam sebuah akun sosial media. Postingan itu tercatat tanggal dimana Jiwo saat itu melakukan akad dengan istri istrinya.
"Awalnya kami tidak percaya kalau ada pengungsi yang hilang. Setelah kami selidiki, kami baru yakin setelah beberapa orang memberi informasi tentang nasib wanita wanita itu. Tentu saja kami kerahkan orang untuk mencari infonya hingga kami melihat postingan itu, dan selebihnya anda pasti tahu apa yang terjadi hingga kami sampai ke tempat ini," terang Anita dengan santai dan meyakinkan. Sedangkan si pria yang bernama Ridwan hanya menganggukan kepalanya sebagai dukungan kalau apa yang diceritakan rekannya adalah kebenaran.
__ADS_1
Jiwo juga nampak mengangguk beberapa kali. Ucapan wanita itu memang terlihat meyakinkan tapi entah kenapa Jiwo masih ragu untuk mempercayainya. Jiwo memandang Pak Lurah dan Pak Rt yang sedari tadi diam. Dengan tatapan matanya, Jiwo seakan memberi tahu kalau dia butuh pendapat dari orang tersebut.
Pak Lurah dan Pak Rt sontak saling pandang dan sepertinya mereka juga tidak ada ide untuk sekedar memberi pendapat. Ucapan Anita memang sangat terlihat meyakinkan. Mereka memberi tanda kalau semau keputusan ada ditangan Jiwo.
"Terus kapan rencananya kalian akan membawa mereka pulang?" tanya Jiwo seakan memberi tanda kalau dia mengijinkan istri istrinya pulang.
Anita dan Ridwan seketika saling memandang dan melempar senyum sejenak lalu kembali menatap ke arah Jiwo. Tentu saja sikap kedua tamu itu semakin membuat Jiwo ragu tentang kabar ini. Jiwo sungguh berusaha untuk mencari celah yang kemungkinan bisa dijadikan alat untuk menolak mereka.
"Rencannanya satu minggu dari sekarang, karena kami juga harus menangani pengungsi yang lain, biar berangkatnya sama sama," kali ini Ridwan yang bersuara dengan lantang dan terlihat sangat yakin.
Lagi lagi Ridwan dan Anita langsung mengulas senyum, lalu salah satu dari mereka membuka suara, "Konflik memang masih ada tapi tidak separah dulu, pemerintah disana juga sudah mempersiapkan tempat yang aman dan terjamin untuk para pengungsi. Jadi Bapak tidak perlu khawatir dengan keselamatan mereka."
Jiwo, Pak Lurah dan Pak Rt mendengarkan penjelasan tamunya dengan seksama. Meski Jiwo masih ragu, tapi dia pikirannya benar benar buntu. Dia tidak menemukan celah sama sekali.
"Baiklah, nanti saya akan bicarakan dulu dengan istri istriku. Biar bagaimanapun mereka disini masih tanggung jawab saya," ucap Jiwo terdengar pasrah.
__ADS_1
Ridwan dan Anita sontak tersenyum mengiyakan. Kemudian mereka kembali terlibat pembicaraan lainnya.
Di saat suasana ruang tamu sedang menegang, di ruang tengah, Emak meyuruh menantunya untuk pergi ke warung karena gula habis. Arum, Aluna dan Alifa yang memutuskan untuk ke warung. Bukan hanya beli gula saja, Emak juga menyuruh mereka beli gas, beras dan beberapa kebutuhan lainnya.
Arum, Aluna dan Alifa keluar dari pintu samping. Saat mereka melihat mobil yang terparkir di depan rumah Jiwo, kening Arum langsung berkerut.
"Kayaknya aku kenal dengan mobil ini, kayak pernah lihat," ucap Arum sambil terus menatap mobil yang digunakan dua orang tamunya.
"Lihat dimana? Di jalan? Wajarlah, mobil ini kan banyak," cibir Alifa.
Tapi Arum terus berpikir hingga beberapa saat kemudian matanya membalak. "Lun, bukankah itu mobil yang dipakai bos yang menculik kita? Kita tadi lihat mobil itu di pasar, kamu ingat nggak?"
"Hah!"
...@@@@@...
__ADS_1