MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Sergap!


__ADS_3

"Mereka siapa? Kenapa semuanya bergerak ke arah sini?"


Tiga orang yang berada di dalam mobil mendadak di serang panik dan penuh tanya, saat mata mereka melihat segerombolan orang pria dan wanita bergerak serentak menuju ke arah mereka. Bahkan di belakang gerombolan orang itu ada satu mobil yang sepertinya sengaja berhenti melintang untuk memblokir jalan.


Merekalah para warga sekitar yang dimintai tolong oleh Emak dan para menantunya. Andin mengusulkan segera minta bantuan warga yang kebetulan ada di rumah, termasuk Ibu Rt. Pak Rt sedang berada di kiosnya jadi tidak bisa membantu. Warga yang mendengar cerita dari Emak dan istri istri Jiwo serta pemilik warung langsung antusias untuk membantu. Bahkan tanpa segan, warga laki laki yang kebetulan berada di rumah, ikut ambil bagian dengan membawa batang kayu dan bambu untuk berjaga jaga jika terjadi keributan dan perkelahian.


Tiga orang yang berada di dalam mobil semakin panik. Gerombolan orang itu langkahnya semakin dekat dengan tempat mereka berada.


"Apa mereka mencurigai kita?" tanya Hadi.


"Tidak mungkin, kita belum bertindak apapun, jadi nggak ada bukti buat mereka curiga," balas Jarwo berusaha berpikir positif.


"Iya benar, kita belum bertindak, jadi kita tenang aja. Mainkan saja peran yang biasa kita gunakan," sambung Burhan.


Para warga memang semakin dekat dengan tempat keberadaan mobil itu. Begitu sampai tujuan, para warga langsung mengelilingi mobil tersebut dan memerintahkan yang ada di dalam untuk keluar. Mau tidak mau, tiga pria yang berada di dalamnya pun keluar. Meski panik, mereka tetap berusaha untuk bersikap tenang agar tidak dicurigai.


"Maaf ya Bapak, Ibu, ini ada apa ya?" tanya Burhan terlihat begitu ramah, beda dengan suasana hatinya yang terasa gugup.


Maaf, Mas mas ini sebenarnya siapa dan orang mana ya?" balas salah satu warga.


"Emang kenapa, Pak?" balas Burhan lagi.

__ADS_1


"Pengin tahu aja, ada keperluan apa kalian datang kemari?" balas warga yang tadi.


Sejenak Burhan menatap dua rekannya seperti memberi kode kalau mereka harus kompak berakting untuk mengelabui warga yang berkerumun.


"Kami sebenarnya wartawan. Kami mendengar kalau disini ada satu pria yang menikah dengan tiga belas wanita. Makanya kami sedang mencari orang tersebut," ucap Burhan dusta.


Mendengar jawaban Burhan, kening para warga kompak mengernyit dan tampak kaget. Mata mereka langsung tertuju pada pakaian yang digunakan tiga orang itu.


"Loh, kok beda?" tanya warga yang lain seorang ibu ibu "Katanya tadi kalian tanya sama saya alamat rumah Jiwo karena kalian katanya temen Jiwo?"


Seketika Burhan, Hadi dan Jarwo terkesiap. Mereka lupa kalau tadi mereka bertanya pada bebeberapa warga.


"Nah kan! Yang benar mana itu? Temannya Jiwo apa wartawan?" cerca warga yang lain. "Lagian mana mungkin wartawan pakaiannya kayak preman gitu, Kalau memang benar wartawan, coba tunjukan ID Card kalian?"


"Mohon maaf kalau sebelumnya kami mengaku kalau kami teman orang yang kami cari, kami terpaksa berbohong biar jalan kami makin mudah untuk menemukan sumber informasi kami. Untuk Id Card, ketinggalan di tempat kami menginap semalam," kini Jarwo yang menjawab.


"Kan kalian bertiga? Nggak mungkin, kan, ketinggalan semuanya?"


"Sayangnya memang ketinggalan semuanya, Pak. Kami pergi terlalu terburu buru," kilah Jarwo.


"Benarkah?" Jarwo mengangguk dengan mantap. "Ya udah mari kita ke hotel tempat kalian menginap semalam?"

__ADS_1


Jarwo dan dua rekannya makin merasa terpojok, tapi mereka tidak ingin menyerah begitu saja. Mereka harus bisa membuat para warga percaya.


"Tapi kami tidak menginap di hotel dekat sini, kami menginap di tempat yang lumayan jauh dari sini," balas Jarwo masih dengan dustanya.


"Benarkah?" Lagi lagi Jarwo mengangguk. "Ya udah ayok dimana letaknya. tunjukan? Kalian masih ingat jalannya, kan?"


Entah alasan apa lagi yang akan di ucapkan Jarwo dan dan yang lain. Sungguh diluar dugaan kalau warga daerah itu pada cerdas hingga Jarwo bingung sendiri menjawabnya.


"Gini aja deh, Bung. Kalau memang kalian wartawan, sini minta nomer telfon kantor tempat kalian bekerja. Distasiun televisi atau apa?" tantang warga yang lain dan tantangan itu semakin membuat ketiganya panik luar biasa.


Karena merasa sangat terpojok, Hadi yang sudah tidak tahan dengan keadaan itu langsung mengeluarkan pisau lipat yang dia bawa dan mengacungkannya ke arah warga.


"Kalian mau apa? Hah! Minggir!" bentak Hadi.


Beberapa warga seketika langsujg mundur beberapa langkah. Hadi terus berteriak sambil mengancam warga agar minggir karena mereka ingin pergi. Saat Hadi sedang mengacungkan pisau ke arah lain, Andin langsung bergerak cepat dan melayangkan tendangan ke tangan Hadi hingga pisau terhempas.


"Akh! Brengsek!"


Dak! Bugh! Dak!


Andin menendang Hadi beberapa kali hingga tersungkur.

__ADS_1


"Tangkap mereka!"


...@@@@@...


__ADS_2