
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tak terasa dua ronde sudah, Jiwo dan Aluna melakukan percintaan yang menghanyutkan dan membahagiakan. Mungkin karena rasa lelah yang mendera, Aluna langsung tertidur beberapa saat setelah ronde kedua selesai. Sedangkan Jiwo masih terbaring miring memandangi wajah Aluna dengan telapak tangan memijat pelan bulatan di dada sang istri. Senyum Jiwo merekah, dikecupnya kening sang istri dengan segenap perasaan.
"Terima kasih, Sayang," bisik Jiwo lembut. Lalu dia menyelimuti tubuh polos Aluna dan dia bangkit. Jiwo meraih handuk dan melilitkan dipinggangnya, lalu dia beranjak keluar kamar hendak ke kamar mandi.
Saat langkah kaki Jiwo menapak depan kamarnya, kening pria itu berkerut saat matanya melihat lampu ruang tamu masih menyala satu. Jiwo memilih ke kamar mandi sejenak guna membersihkan senjata miliknya sekalian buang air kecil. Setelah selesai, Jiwo melangkah ke ruang tamu.
"Kenapa belum tidur?" tanya Jiwo dengan suara sedikit menggelegar dan mengejutkan salah satu istrinya yang sedang melamun menatap tirai.
Sang istri menoleh, matanya sempat terpana melihat tubuh atletis Jiwo yang hanya terlilit handuk. Sang istri sontak salah tingkah dibuatnya hingga dia menjawb pertanyaan Jiwo dengan gugup. "Belum ngantuk, Mister."
Jiwo menangangguk sejenak lalu melangkah dan duduk di kursi panjang yang ada disana. "Sedang mikirin kampung halaman?"
Istri yang di beri nama Alifa itu mendadak merasa canggung dengan keadaan Jiwo yang duduk tanpa berbusana. "Yah, salah satunya itu, Mister. Tapi banyak juga yang dipikirkan."
Jiwo kembali mengulum senyum. Dipandanginya wajah Alifa lekat lekat hingga wanita itu semakin salah tingkah dibuatnya. Melihat kegugupan yang ditimbulkan Alifa, mendadak otak Jiwo muncul ide ingin mengerjai wanita itu. Jiwo menggeser badannya sedikit lalu tangannya bergerak meraih tangan Alifa dan menariknya.
"Mister mau ngapain?" tanya Alifa dengan wajah terlihat terkejut.
"Kamu duduk sini, Dek," balas Jiwo sambil menunjuk sebelahnya.
"Duduk disini aja, Mister," tolak Alifa.
"Nggak mau nurut sama suami?" ucap Jiwo dengan nada dibuat kesal. Mua tidak mau pun Alifa menurutinya. Dia bangkit dan pindah tempat duduk.
__ADS_1
Saat Alifa hampir mendaratkan pantatnya, Jiwo kembali menarik tangan Alifa hingga wanita itu terhuyung. Jiwo langsung meraih pinggang Alifa dan menariknya hingga wanita itu duduk dipangkuan suaminya.
"Mister!" pekik Alifa kaget.
"Kayak gini aja, aku kedinginan tahu, Dek," ucap Jiwo dusta.
"Udah tahu dingin, kenapa nggak pakai baju?" protes Alifa yang kini pasrah duduk diantara dua paha Jiwo yang tertutup handuk.
"Lebih hangat meluk istri sendiri daripada pakai baju," kilah Jiwo sembari mengencangkan pelukannya. "Maaf ya, Dek? Selama jadi suami, aku nggak pernah bersikap romantis layaknya suami pada umumnya."
Kening Alifa berkerut sambil merilik wajah pria yang dagunya menempel di pundak wanita itu. "Ya nggak apa apa, Mister kan pria istimewa."
"Tapi kan aku takut, Dek. Kalian sebagai wanita juga pasti ingin melakukan hal romantis bersama pasangan. Tapi aku ..."
Sebelum menjawab, tanpa rasa canggung, Jiwo mengecup leher belakang Alifa hingga wanita itu kaget dan bergidig. "Aku hanya memikirkan pernikahan kita. Akankah kamu dan yang lainnya ditakdirkan terus menjadi istri saya?"
"Ya kita berdoa aja kedepannya hubungan kita seperti apa, Mister. Tapi aku sangat bahagia bisa menjadi istri Mister."
"Bahagia?"
Alifa mengangguk dan mengiyakan. "Aku merasa beruntung menjadi istri, Mister. Ya walaupun tugasku belum sempurna sebagai istri."
"Tugas?" tanya Jiwo dengan rasa penasaran yang membuncah.
__ADS_1
Iya, tugas sebagai istri. Selama ini saya hanya melayani Mister di luar kamar, tapi saya belum memalayani Mister di dalam kamar."
Jiwo sejenak tertegun. Lagi lagi urusan ranjang menjadi topik pembahasan istri istrinya. "Emang kamu mau melayani saya di dalam kamar, Dek?"
"Sebagai seorang istri yang sah ya harus mau, Mister. Tapi kan Mister sudah ngasih peringatan agar kita nggak terlalu mikirin hubungan suami istri. Ya udah, kita nurut Mister aja."
Jiwo lantas mengulum senyum. Tangannya semakin erat memeluk pinggang ramping Alifa. "Biarlah semua berjalan apa adanya aja, Dek. Kalau kita ditakdirkan melakukan hubungan suami istri, ya pasti akan ada jalan menuju ke arah sana."
Alifa menggangguk beberapa kali. "Baiklah, aku sih terserah Mister aja enaknya bagaimana."
Jiwo tersenyum lebar dengan sedikit suara tawa yang ditahan.
"Udah malam, Mister nggak nyusul Aluna? Nanti dia nyariin."
"Bentar lagi lah, Dek. Aku masih ingin seperti ini," balas Jiwo, dan Alifa pun pasrah saja. Dia juga sebenarnya suka dipeluk Jiwo seperti itu.
"Dek, mau tahu nggak?"
"Tahu apa, Mister?"
"Aku nggak pake celana loh?"
"Astaga!"
__ADS_1
...@@@@@...