
Sore ini memang sore yang terasa beda dan juga sangat cerah. Dalam cerahnya sore itu, nampak sepasang suami istri sedang berada di atas motornya yang melaju pelan sembari matanya terus menatap mobil hitam yang bergerak menuju ke salah satu komplek perkampungan.
Sang pria yang merupakan penduduk asli perkampungan tersebut, merasa heran saat mobil itu masuk ke dalam salah satu rumah dimana rumah itu memang terdiri dari beberapa baris rumah petak yang dikontrakan. Bahkan dari gerbang pria itu dapat melihat jelas, si pengemudi mobil turun dan memasuki salah satu rumah kontrakan tersebut. Setelah merasa cukup atas info yang didapat, pria itu kembali melajukan motornya.
Sebelum pergi ke tempat tujuan, pria bernama Jiwo itu memilih singgah sebentar di taman yang memang sengaja dibangun oleh pemerintah kecamatan setempat di tengah tengah kota kecil tersebut. Karena sore terlihat sangat cerah jadi taman itu ramai didatangi pengunjung untuk menghabiskan waktu. Ada yang berkumpul bersama teman, ada yang pacaran, ada juga beberapa keluarga kecil yang nampak terlihat bahagia. Aneka jenis permainan dan juga kuliner turut mewarnai taman tersebut.
"Mister, apa mungkin orang orang itu akan menculik kita lagi?" tanya Alina yang sedari tadi perasaannya tidak tenang sejak melihat Bejo di jalan raya.
"Aku juga mikirnya kesana, Dek. Aku yakin mereka menetap di sini untuk memantau gerak gerik kalian," jawab Jiwo yang wajahnya terlihat sangat santai.
"Duh, Mister ... terus kita harus gimana?"
Melihat istrinya yang sedang panik, Jiwo malah terkekeh karena merasa gemas. Tapi di mata Alina, melihat Jiwo yang menertawakan kepanikannya, malah merasa kesal dengan sikap suaminya.
"Kok Mister malah ketawa sih? Orang lagi takut malah diketawain?" sungut Alina dengan memasang wajah cemberut. Namun tingkah wanita itu malah membuat Jiwo semakin tersenyum lebar.
"Ngapain takut?" ucap Jiwo sambil meraih jari tangan Alina dan menggenggamnya. "Nggak perlu takut. Semua akan baik baik saja, percayalah."
__ADS_1
"Bagaimana bisa semua akan baik baik saja kalau orang orang itu berkeliaran disekitar kita? Yang ada aku malah takut," cicit Alina.
Senyum tipis Jiwo tersungging. "Kamu tenang aja, Dek. Biar aku yang urus mereka? Oke?"
Dilihat dari sikap Jiwo yang sangat tenang, sepertinya dia memang sudah menemukan rencana tersendiri untuk menghadapi oknum yang mengejar istri istrinya. Mengetahui fakta kalau semua istrinya belum aman, Jiwo sadar kalau mereka pasti mengincar sesuatu yang sangat berharga yang dimiliki para istrinya.
Namun yang membuat Jiwo heran dan kepikiran adalah ada hubungan apa antara Malik dan Titin dengan oknum tersebut? Darimana mereka saling mengenal? Dan apa mungkin, mereka akan bekerja sama untuk menghadapi Jiwo? Berbagai pertanyaan dan prasangka buruk langsung bermunculan pada diri Jiwo, sejak melihat interaksi Malik dan penjahat itu terlihat sangat akrab.
Tentu saja, Jiwo tidak akan tinggal diam. Dia bahkan harus selangkah lebih maju dari pergerakan Malik maupun penjahat yang mengejar istrinya. Jiwo memang harus gerak cepat untuk mengatasi masalah yang bisa saja datang sewaktu waktu.
"Benarkah? Mereka datang lagi?" tanya Anisa dengan wajah terkejut saat Jiwo dan Alina telah sampai di rumah beberapa saat lalu dan Alina menceritakan apa yang dia ketahui.
"Wah! Bisa bahaya ini? Kita harus bagaimana?" tanya Aisyah. Kini bukan hanya dia yang panik, semuanyanya juga.
"Kalian tenang saja, katanya Mister akan segera mengatasinya," ucap Alina agar istri istri Jiwo yang lain bisa tenang.
"Benarkah?" tanya Anum memastikan.
__ADS_1
"Benar," jawab Jiwo begitu dia keluar kamar dan mendengar kepanikan istri istrinya. "Kalian tenang saja, aku akan segera ambil tindakan."
"Mister mau pergi lagi?" tanya Adiba.
"Iya," jawab Jiwo saat dia duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tengah.
"Mau pergi kemana, Mister? Nanti kalau mereka datang ke sini gimana?" tanya Alana.
Jiwo malah tersenyum lebar, matanya mengedar memandangi wajah panik istri istrinya. "Kalian tenang saja, semua pasti akan baik baik saja. Mereka nggak bakalan berani datang kesini."
"Tapi Mister, bukankah lebih baik Mister di rumah saja? Kalau terjadi apa apa pada kami gimana?"
Lagi lagi Jiwo mengulas senyum. "Percaya sama saya. Semuanya pasti akan baik baik saja. Ya udah aku pergi dulu ya? Kunci rumah dan jangan menerima tamu. Kalau perlu matikan lampu ruang tamu."
"Baik, Mister."
...@@@@@...
__ADS_1