
Akhirnya penjahat itu di bekuk oleh dua polisi yang dikabari oleh warga. Penjahat itu pasrah saat dirinya digiring, sedangkan warga terlihat bernafas lega karena akhirnya tragedi yang hampir mengancam salah seorang warga berhasil digagalkan.
Namun, karena kejadian itu, terdengar kasak kusuk ucapan beberapa warga yang membuat hati Emak dan istri istri Jiwo merasa tidak nyaman. Meski suara suara itu tidak menyebut nama mereka, tapi pada kenyataannya kejadian yang menimpa komplek itu selalu berhubungan dengan istri istri Jiwo.
Sudah tiga kali komplek tersebut kedatangan penjahat, dan semuanya berhubungan dengan istri istri Jiwo. Wajar jika ada warga yang merasa komplek itu keamannya terganggu akhir akhir ini. Padahal belum genap satu bulan istri istri Jiwo datang, tapi sudah tiga kali komplek itu kedatangan orang jahat.
Siapapun orangnya pasti hatinya akan tersentil jika merasa ada yang melontar kata seperti sebuah sindiran. Begitu juga dengan Emak dan istri istri Jiwo, mereka jelas saja merasa tersindir. Apa lagi semua penjahat itu memang selalu berhubungan dengan mereka. Sudah pasti istri istri Jiwo merasa bersalah karena secara tidak langsung mereka mengusik ketenangan dan keamaan warga sini. Mereka pulang dengan hati yang tidak baik baik saja.
"Apa kita sebaiknya pergi saja, aku takut jika orang orang yang mengejar kita datang lagi," ucap Aisyah saat mereka sedang berkumpul di ruang tamu. Sedangkan Emak memilih istirahat karena merasa lelah.
"Pergi kemana? Kita benar benar nggak ada tempat tujuan? Lagian belum tentu juga Mister ngijinin," balas Arum.
"Tapi kalau kita tetap disini, kasian Emak dan Mister juga para warga. Siapa yang bakalan tenang kalau tiap hari ada aja penjahat datang kesini?" ucap Aisyah sedikit lantang.
__ADS_1
Semuanya nampak terdiam. Apa yang dikatakan Aisyah memang ada benarnya, tapi untuk pergi juga mereka merasa berat. Mereka benar benar berada pada pilihan yang sangat sulit saat ini. Mereka memutuskan untuk membicarakannya nanti dengan suami mereka.
Hingga pada saatnya sore kini menjelang. Jiwo dan Adiba terlihat sudah sampai di halaman rumahnya. Seperti biasa, para istri langsung menyambut kedatangan Jiwo. Tapi ada yang beda untuk saat ini. Jiwo merasa istri istrinya tidak seceria biasanya. Bukan hanya Jiwo yang merasa heran, Abida juga merasakan hal yang sama begitu melihat wajah wajah mereka.
"Baru pulang, Wo?" tanya Emak yang sedang duduk di meja makan begitu melihat Jiwo masuk ke ruang tengah.
"Iya, Mak," lalu dia mengurungkan niatnya masuk ke kamar malah menghampiri Emak dan duduk di kursi sebelahnya. "Mereka pada kenapa, Mak? Kok aku pulang, wajah mereka murung, kayak lagi nyimpen beban gitu?"
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Jiwo dengan wajah yang berubah menjadi sangat terkejut. Emak lantas menceritakan kejadian siang tadi hingga suara suara yang membuat istri istri Jiwo merasa tidak nyaman mendengarnya.
"Mungkin mereka kepikiran, Wo, dari tadi mereka lebih banyak diam," ucap Emak mengakhiri ceritanya.
"Ya sudah, nanti biar aku yang ngomong sama mereka, Mak," balas Jiwo dan Emak langsung mengangguk. Jiwo lantas beranjak ke kamarnya guna beristirahat sejenak sembari menghitung uang yang masuk.
__ADS_1
Waktu bergerak terus maju, kini siang telah berganti malam. Di ruang tamu, Jiwo berkumpul bersama istri istrinya dan juga Emak. Seperti yang sudah Jiwo dengar informasi dari Emak, setelah makan malam, Jiwo mengajak semuanya untuk membahas kejadian di siang hari hingga istri istri Jiwo merasa tidak nyaman.
"Maaf, Mister, tapi sungguh saya sendiri tidak enak dengan kejadian tadi. Betapa takutnya Ibu tadi saat disandra, dan dia mengalami hal itu karena kami," ucap Alana.
"Benar, Mister, entah sampai kapan orang orang itu akan berhenti mengejar kami, kami takut dan nggak enak kalau mereka kembali datang lagi," sambung Anisa.
"Terus kalian ingin pergi begitu? Apa itu solusi terbaik untuk semuanya? Apa dengan pergi dari sini, semua akan kembali normal?" cerca Jiwo. Dia sebenarnya agak kecewa dan marah dengan keputusan yang hendak diambil istri istrinya, tapi Jiwo harus lebih sabar dalam menangani suasana hatinya agar istrinya tidak tertekan.
"Terus kami harus bagaimana, Mister? Kami nggak enak dengan warga yang lain," cicit Arum.
"Kalian tenang saja, biar saya yang bertindak. Jangan berpikir macam macam. Aku tidak akan pernah membiarkan kalian pergi, paham!" ucap Jiwo menutup percakapan dengan perasaan kesal.
...@@@@@@...
__ADS_1