MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Kencan Singkat


__ADS_3

"Iya, aku jatuh cinta sama Mister."


Deg!


Jiwo langsung menoleh menatap wanita yang sedang memandang lurus ke depan. Wanita itu mengulum senyum entah karena malu atau senang. Dada Jiwo berdegup sangat kencang. Lagi lagi sebuah pengakuan harus dia dengar dari salah satu istrinya. Jiwo menyesap batang rokoknya dalam dalam, lalu menghembuskan asapnya ke sisi yang lain.


"Bisa aja kamu bercanda, Dek," ungkap Jiwo sambil ikutan memandang lurus ke arah depan dengan bibir tersungging senyum.


Kini gantian Aluna yang tercenung. Dia menoleh dan menatap lekat suaminya. "Aku serius. Aku jatuh cinta pada Mister."


Jiwo tertegun kembali. Dia memberanikan diri menatap lekat wajah istrinya, mencoba mencari celah kebohongan dari bola mata indah milik Aluna. Namun Jiwo tidak menemukan hal lain di sana selain kejujuran.


"Kenapa? Apa Mister ragu?" tanya Aluna tanpa merubah tatapan matanya.


Sejenak Jiwo mengulas senyum. "Aku nggak tahu. Semua ini seperti mimpi."


Aluna menggeser tubuhnya menjadi sangat dekat dengan sang suami. Diraihnya telapak tangan kanan Jiwo dan digenggamnya erat erat. "Tapi perasaan saya nyata, Mister. Saya jatuh cinta dengan diri Mister. Maaf jika saya lancang, tapi perasaan saya tidak bisa untuk saya ingkari, Mister."


Jiwo menganggukan kepalanya beberapa saat sambil terus menatap tangannya yang saling menggenggam dengan tangan sang istri. "Tapi, apa kamu nggak akan sakit hati? Jika saya tidak membalas cinta kamu? Kamu tahu kan? Kamu juga istri aku dan aku nggak mungkin memilih salah satunya."

__ADS_1


"Cinta yang tidak terbalas pasti akan menimbulkan sakit hati. Tapi dalam keadaan kita kan beda, Mister. Mister sudah jadi suami saya. Sikap Mister juga selalu hangat pada saya dan yang lainnya. Saya rasa, sikap hangat Mister sudah cukup bagi cinta saya."


"Tapi saya takut, suatu saat nanti, tanpa sengaja, saya menyakiti kamu dan kamu tersakiti karena rasa cinta itu. Apa kamu sanggup menahannya?"


Aluna kembali mengulas senyum, kemudian dia mencium punggung tangan Jiwo dengan segenap perasaan yang ada dalam hatinya. "Saya akan mencobanya, Mister. Menjadi istri Mister saja sudah membahagiakan bagi saya. Saya akan berusaha agar tidak menuntut lebih."


Sepasang suami istri itu saling melempar senyum lalu Aluna menjatuhkan kepalanya di bahu kekar Jiwo. Mereka saling diam dan hanyut dalam pikiran masing masing sembari menikmati suasana hutan pinus di salah satu pelosok desa.


"Sebaiknya kita berangkat yuk? Udah siang. Kita sekalian cari makan," ajak Jiwo setelah beberapa waktu berlalu.


"Yah, lagi asyik asyik kencan juga," keluh Aluna.


"Belum, tapi kayaknya nanti malam giliran aku deh. Soalnya setelah Alana, aku, Alena terus Alin."


"Ya udah kalau nanti malam jatah kamu, kita kencannya teruskan nanti malam aja, oke?"


"Oke!"


Jiwo tersenyum lebar, Aluna langsung bangkit tanpa melepas genggaman tangannya hingga dia naik ke atas motor baru tangan itu terlepas. Dengan perasaan bahagia, Jiwo dan sang istri meninggalkan tempat itu menuju tempat yang lain.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain, Malik dan Titin kini sudah berada di rumah mereka. Sepasang suami istri itu mau minta dukungan sang Ayah untuk mengusir tiga belas wanita yang kini berada di Rw lain. Di ruang tengah rumahnya, kini Malik dan Titin sedang menghadap pria yang telah dua kali menjabat sebagai lurah itu.


"Dari mana kalian tahu? Kalau istri istri Jiwo itu bukan wanita baik baik?" tanya pak lurah yang memiliki namanya Pak Rohim.


"Ya dari orang yang sangat dipercaya lah, Pak. Lagian, apa Bapak nggak curiga kalau wanita wanita itu aneh?" ucap Malik dengan keyakinan yang sangat tinggi.


"Orang yang ngasih informasi mana? Harusnya kamu ajak dia kesini? Biar bapak yang tanya tanya dulu."


"Loh? Kenapa mesti tanya tanya dulu sih, Pak? Yang penting kan aku sama Titin bisa jadi saksi."


Pak Rohim terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali. Dipandanginya wajah anak dan menantunya secara bergantian. Pak Rohim menghela nafasnya yang terasa berat beberapa kali.


"Kalian ini usia sudah diatas kepala tiga, anak sudah gede. Kok ya kayak anak kecil saja dalam bertindak," cibir Pak Rohim beberapa saat kemudian.


"Kok Bapak malah ngomomg kayak gitu?" balas Malik, terlihat sekali kalau dia tidak terima dengan ucapan ayahnya.


"Kalian pikir saja, hanya mendengar dari sumber yang tidak jelas, kalian langsung percaya begitu saja. Apa itu namanya bukan tindakan bodoh. Kalau memang orang itu ngomong benar, bawa orangnya menghadap saya. Jika orang itu ternyata salah, bisa bisa kalian nanti berurusan dengan hukum, apa kalian siap untuk terlibat?"


"Waduh!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2