MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Dia Melihatnya


__ADS_3

"Astaga! Udah siang banget!" pekik seorang pria saat matanya baru saja terbuka dan melihat jam di dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi kurang sedikit. Pria yang tidur tanpa menggunakan pakaian itu sontak bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tangan pria itu bergerak meraih sarung dan kaos yang teronggok di ujung kasur. Setelah terpakai, pria itu segera beranjak keluar kamar. Pria bernama Jiwo itu celingak celinguk seperti mencari sesuatu, lalu dia beranjak ke ruang tamu dan ternyata yang dia cari ada di sana.


"Kenapa nggak ada yang bangunin aku?" tanya Jiwo dengan suara beratnya hingga para istri yang sedang fokus dengan barang dagangannya serentak menoleh.


"Loh, Mister kan libur?" tanya Aisyah. Semua nampak terkejut mendengar ucapan Jiwo yang protes karena tidak dibangunkan.


"Tapi setidaknya aku tetap dibangunin gitu," balas Jiwo yang saat ini merebahkan tubuhnya di kursi panjang.


"Ya maaf, kita nggak tahu, kita pikir karena Mister libur jadi kami biarin tidur sepuasnya," ucap Aziza merasa bersalah.


Jiwo tak menyahut. Matanya memperhatikan istri istrinya yang sedang menatapnya juga. Namun sesaat kemudian dia membuka suaranya kembali, "udah lanjutin aja, ngapan malah berhenti?"


"Mister nggak marah?" tanya Alena.


"Marah kenapa? Udah lanjut aja."


Para istri menurutinya. Saat ditawari makan pun Jiwo menolak karena dia ingin mandi dulu. Jiwo merebahkan badannya di kursi sampai beberapa menit, lalu dia bangkit dan beranjak untuk mandi. Jiwo juga berpesan agar sarapannya disiapin di ruang tamu.

__ADS_1


Setelah ritual mandi selesai dan berpakaian santai seperti biasanya, Jiwo kembali menuju ruang tamu. Di meja sana telah siap menu sarapan sederhana untuk dirinya. Satu piring nasi, lima martabak, satu mangkok tumis kacang panjang dan segelas besar air putih beserta tekonya.


Salah satu istri beranjak dan masuk ke kamar Jiwo buat membersihkan dan merapikan kamar pria itu. sprei juga tiap hari diganti beserta sarung bantalnya. Sejak punya istri, kamar Jiwo lebih bersih dan selalu bau wangi karena istrinya memasang pengharum ruangan. Setiap hari memang kamar Jiwo yang paling terakhir dibersihkan jika penghuninya sudah keluar kamar.


"Dek, sekalian ambilin rokok!" teriak Jiwo pada istrinya yang sedang membereskan kamarnya. Jiwo menikmati sarapannya dengan lahap. Hingga tak butuh waktu lama, dia menghabiskan nasi yang ada dan hanya menyisakan lauk di tempat terpisah.


"Mister, rencananya hari ini mau ngapain?" tanya Alena begitu Jiwo selesai makan dan hendak menyalakan sebatang rokok.


"Mau ke pasar, mau ngurusin lapak. Mungkin dua hari lagi kalian bisa jualan," jawab Jiwo sama persis dengan apa yang Aziza katakan tadi pagi. "Nanti kalian jualannya barengan atau di jadwal?"


"Dua waktu?" tanya Jiwo dengan kening berkerut sedikit.


"Gini loh, Mister, misal kita buka jam delapan, dua orang berangkat pagi jam delapan sampe jam dua belas, terus dua orang lagi jam dua belas sampe jam empat gitu," terang Anum lagi.


"Oh ... ya terserah kalian aja enaknya gimana? Yang penting kalian tetap bisa jaga diri dan hati hati, soalnya kan kalian bukan orang sini, jadi kalian harus selalu waspada ya?"


"Baik, Mister," jawab semuanya serentak.

__ADS_1


Oh iya, Mister, kalau Mister masih ada uang, boleh nggak kita minta ponsel satu lagi? Yang murah aja?" pinta Aisyah.


"Buat apa?" tanya Jiwo dan Aisyah menjawabnya dengan pasti. "Baiklah, nanti aku belikan? Ada lagi yang kalian inginkan?"


Bukannya menjawab, salah satu diantara mereka malah ada yang bertanya, "Uang Mister banyak banget apa yah? Kok mudah banget gitu loh nurutin kita beli ponsel?"


Sontak saja Jiwo langsung terkekeh lirih, benar benar pertanyaan yang menggemaskan. "Intinya tabunganku masih cukup buat biaya hidup, jadi kalian nggak perlu terlalu khawatir aku bangkrut."


Sekarang gantian para istri yang terkekeh setelah mendengar jawaban Jiwo. Obrolan ringan seorang suami dengan istri istrinya pun berakhir, kini saatnya Jiwo berangkat ke pasar untuk mengurusi lapaknya.


Di waktu yang sama, tiga orang asing yang baru menapaki kota kecil dimana Jiwo tinggal, kini terlihat sedang berada di pasar. Karena pendatang, jadi mereka ingin tahu keadaan kota kecil ini. Mereka ke pasar juga untuk mencari keperluan selama mereka tinggal disini untuk memantau targetnya.


Saat mereka sedang berkeliling, tiba tiba langkah kaki salah satu dari mereka terhenti saat mata mereka memandang ke salah satu titik di area pasar. Senyuman jahat langsung saja tersungging di bibir orang itu.


"Jadi ini yang menyebabkan kalian betah bersembunyi disini?" gumam orang itu dengan tatapan tajam ke arah tiga orang wanita.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2