MENIKAHI TIGA BELAS WANITA

MENIKAHI TIGA BELAS WANITA
Tamu Dari Kedutaan


__ADS_3

"Kenapa sih, Bu? Jiwo terus yang dibahas? Dimana mana Jiwo terus yang diributkan, sampai bosen aku mendengarnya," ucap Malik menyela pembicaraan yang terjadi di hadapannya.


"Ya kan Jiwo emang lagi rame, Pak Malik. Wajar jadi bahan pembicaraan," balas sang pembeli dengan santainya.


"Ramai apaan? Orang biasa aja," cibir Malik terlihat sangat kesal.


"Loh, Pak Malik nggak tahu?"


"Tahu apa?"


"Jiwo kan di undang di berbagai acara televisi sebagai bintang tamu, hebatkan!"


Malik yang mendengarnya sontak mendengus, wajahnya makin terlihat kesal. "Hebat apanya? Harusnya tuh dia malu, Bu. Kecuali kalau dia orang kaya punya istri banyak, baru bisa dikatakan hebat."

__ADS_1


"Hahaha ... orang hebat itu nggak harus kaya, Pak. Lagian jarang ada loh, punya istri banyak terus adem gitu, akur nggak pernah ribut. Sebagai laki laki normal pasti Pak Malik juga pengin kan? Punya istri banyak yang cantik cantik dan akur?"


Malik terdiam. Dia belum menemukan ide untuk membalas ucapan Ibu yang sedang belanja di tokonya itu. Tapi otak Malik bekerja saat itu juga. Dalam diamnya dia membenarkan apa yang di ucapkan ibu itu. Sebagai seorang pria, Malik juga pasti pernah berangan angan memiliki istri lebih dari satu. Apalagi dulu saja saat masih muda, dia seorang playboy. Jadi wajar jika Malik pernah ingin memiliki pendamping hidup lebih satu.


"Nah kan diam? Berarti benar, kan? Banyak laki laki yang menginginkan posisi yang sama kayak Jiwo?" terka Ibu itu dengan sangat yakinnya.


"Nggak semua, Bu," balas Malik. "Kalau aku sih mending cukup punya satu istri meski aku dari keluarga mampu. Sekarang Ibu bandingkan saja, apa Jiwo termasuk dari keluarga mampu? Bukankah dia terlalu nekat."


Kening ibu itu berkerut. Di saat bersamaan, karyawan Malik telah menghitung semua belanjaan ibu tersebut. Tentu saja pembicaraan terhenti karena fokus sang ibu berpindah ke barang belanjaan yang sudah selesai. Sedangkan Malik semakin jumawa karena merasa menang telah membungkam mulut si ibu dengan perkataannya yang terdengar berwibawa.


Hingga pukul sepuluh lebih, rombongan dari pihak kedutaan telah sampai di rumah Jiwoq. Kali ini tamunya benar benar dari kedutaan karena sebagian besar yang hadir adalah warga dari negara yang sama dengan para istri Jiwo, dan juga ada beberapa pihak keamaan dari negara ini. Bahkan ketika mereka berbasa basi, mereka sempat memakai bahasa negara mereka untuk sekedar bercanda.


Setelah merasa cukup berbasa basi, kedua belah pihak lantas mulai memasuki pembicaraan inti dari pertemuan tersebut. Semua pertanyaan yang dilontarkan pihak kedutaan dan rombongan, dapat di jawab dengan baik dan sopan oleh Jiwo. Setiap jawaban yang meluncur dari mulut Jiwo diperkuat dengan ucapan para saksi dari tetangga yang turut hadir, termasuk Pak Lurah dan Pak Rt.

__ADS_1


"Sekarang saya bertanya kepada para istri Bapak Jiwo. Apakah kalian akan terus menjalani pernikahan ini atau bagaimana?" tanya salah seroang dari pihak kedutaan. "Masalahnya, negara ini juga memiliki peraturan tentang pernikahan. Apalagi tentang poligami. Kalian adalah warga asing yang bahkan kedatangan kalian saja termasuk kedatangan tanpa ijin. lalu, apa yang akan kalian lakukan? Jika pemerintah disini bertindak tegas?"


Ini adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab bagi istri istri Jiwo. Mereka bahkan saling lirik dan berharap bisa menemukan jawaban dari balik saling pandang mereka. Satu pria yang menjadi suami mereka juga merasa was was saat melihat kecemasan di wajah para istri yang sepertinya bingung mencari jawaban.


"Kalau saya pribadi, saya akan tetap mempertahankan pernikahan ini, Pak," akhirnya Aisyah yang berani mengeluarkan suara terlebih dahulu. Semua mata kini tertuju pada sosok wanita lembut berambut panjang dan ikal tersebut.


"Alasannya?" tanya pihak kedutaan dengan raut wajah terlihat sangat penasaran.


"Tentu saja karena cinta," jawab Aisyah berusaha bersikap tenang. Padahal hatinya sedang sangat bergemuruh untuk sekedar mengumpulkan kekuatan agar bisa mengeluarkan isi hatinya.


"Hanya karena cinta?" tanya salah satu pihak kedutaan dengan memberi penekanan di akhir kata yang dia ucapkan.


"Apa lagi kalau bukan karena cinta? Saya pribadi mencintai suami saya karena sifat yang dia miliki. Dia pria yang baik, bertanggung jawab. Bahkan selama pernikahan kami, belum sekalipun kami bertengkar. Karena sifat dan sikap dialah, saya ingin bertahan menjadi istri Mister Jiwo." terang Aisyah membuat hati Jiwo seketika menghangat.

__ADS_1


"Duh! kalian benar benar menggemaskan."


...@@@@@...


__ADS_2